Pilih Bahasa: Indonesia
Nomor 6 Tahun 1

Nomor 6 Tahun 1 | MEMENUHI PANGGILAN SUCI

Rp.50,000 In Stock
Historia Indonesia
HAJI telah menjadi satu hajatan rutin tiap tahun orang Indonesia Pemerintah melalui Kementerian Agama dulu Departemen Agama membentuk direktorat khusus Direktorat Jenderal Haji untuk mengurusinya Perbaikan dan perubahan terus berlangsung sejak awal penyelenggaraannya Praktik berhaji Muslim Nusantara telah tercatat sejak abad ke16 Semangat berhaji terus meningkat pada masa kolonial Belanda sekalipun dibatasi berbagai peraturan Semangat menggebu membuat mereka melakukan apa saja ada yang menabung bertahuntahun menggadaikan harta benda sampai bekerja di Singapura untuk membayar hutang demi bisa memenuhi panggilan Ilahi Bagaimana warnawarni yang menghiasi perjalanan sejarah haji Muslim Nusantara dan Indonesia Historia kali ini menghadirkannya dalam Laporan Utama Memenuhi Panggilan Suci
HISTORIA
Nomor 6 Tahun 1
Laporan Khusus
MENDEDAH SEJARAH SYIAH
KENDATI reformasi telah lama hadir di negeri ini, kemerdekaan dan keamanan sebagian penduduk belum benar-benar bisa didapatkan. Para penganut syiah salah satunya. Penyerangan terhadap mereka di Madura baru-baru ini menjadi bukti.
Padahal, syiah telah hadir di Nusantara sejak lama. Sejarah mencatat, kerajaan Islam pertama di Nusantara, Kerajaan Perlak, merupakan kerajaan yang menganut syiah. Seiring perjalanan waktu, syiah terus eksis kendati penganutnya tak melonjak secara signifikan. Para penganutnya aktif dalam kegiatan-kegiatan sosial, pendidikan, bahkan ikut perjuangan. Sepak terjang dan perkembangan syiah di Indonesia hadir lewat Laporan Khusus Historia kali ini, "Mendedah Sejarah Syiah".
Retro
Berseluncur Sambil Ajojing
MASIH ingat Olga dalam film Olga dan Sepatu Roda? Bagi muda-mudi dan remaja akhir 1970-an dan 1980-an, sepatu roda merupakan media untuk bergaul yang sangat mengasyikkan. Bukan hanya sekadar untuk mencari keringat, bersepatu roda juga kerap dijadikan ajang perkenalan bahkan tempat mencari pasangan hidup. Pria maupun wanita banyak yang ngeceng di titik-titik yang biasa dijadikan tempat bersepatu roda, semisal Blok M ataupun Monas. "Bermain, bertemu teman-teman, senang-senang bersama. Banyak kenangan yang tidak bisa terlupakan waktu itu," ujar Putri Purnama, perempuan karier yang dulu penggila sepatu roda.
Bermula dari roller disco yang nge-tren di Amerika Serikat pada 1970-an, sepatu roda lalu merambah kota-kota di berbagai belahan dunia. Seiring dengan perjalannya, bisnis-bisnis yang terkait pun tumbuh bak jamur di musim penghujan. Darma Ismayanto melalui "Berseluncur Sambil Ajojing" menghadirkan sejarah perjalanan sepatu roda hingga permainan itu pun tinggal kenangan, kini. "Sepatu roda memang sedang tren. Serulah pokoknya waktu itu," ujar Sys NS, mantan penyiar radio Prambors.
Memorabilia
Adu Mahir Kelompencapir
BAGI Anda yang terbiasa menikmati acara siaran radio ataupun televisi tahun tahun 1970-an dan1980-an, mungkin masih lekat dalam ingatan Anda ada sebuah acara seperti cerdas tangkas yang dimainkan regu-regu yang terdiri dari petani, nelayan atau peternak. Mereka saling beradu kemahiran dan keluasan wawasan tentang segala hal yang menyangkut profesinya. Ada keluguan yang acap menimbulkan kelucuan dari peragaan ataupun jawaban yang terlontar dari para anggota regu itu. Para pejabat hingga Presiden Soeharto kerap menghadiri acara Pekan Penerangan Pedesaan tingkat nasional yang dihelat tiap tahun di daerah yang berbeda. Mereka temu wicara. Presiden ataupun para pejabat tadi memberi pengetahuan, arahan, dan lain sebagainya tentang pertanian, perikanan, ataupun peternakan.
Meski dengan peran positifnya sebagai pengubah mind set petani, peternak, dan nelayan, Kelompencapir dijadikan Pemerintah Orde Baru sebagai alat politik dan propaganda. Namun, acara yang oleh banyak orang perkotaan dianggap ndeso itu akhirnya mati suri seiring matinya pemerintah Orde Baru. Bagaimana perkembangan Kelompencapir selanjutnya berikut "tetek-bengek" yang melingkupinya sejak awal, bisa dibaca di "Adu Mahir Kelompencapir" yang dimuat Historia edisi kali ini.
 
Situs
Horor dari Gunung Sahari
KEKEJAMAN, penyiksaan, dan pembunuhan hampir selalu menyertai Peristiwa 1965. Namun di mana kejahatan-kejahatan itu terjadi, orang tak banyak yang tahu. Sebuah rumah di Jalan Gunung Sahari III (kini pintu masuknya dari Gunung Sahari II) menjadi saksi kejahatan-kejahatan itu berlangsung. Bekas kantor Perhimpunan Pengemudi Becak Tionghoa dan sekolah Baperki itu dulu dijadikan tim Operasi Kalong sebagai satu dari sekian banyak tempat penahan dan penyiksaan para tahanan politik (tapol) PKI di Jakarta.
Kondisi rumah itu kini telah banyak berubah. Terlebih bila dibandingkan dengan bentuk ketika rumah itu masih dijadikan markas tim Operasi Kalong. Namun, Efendi Saleh –mantan tapol yang pernah mendekam di situ– masih bisa mengingat ciri-cirinya yang masih lekat. Melalui dia dan mantan tapol lain seperti Gumelar Demokrasno (seniman Bumi Tarung dan Bedjo Untung (Ketua YPKP 1965), satu penggalan kisah kekejaman rezim Orde Baru bisa terungkap. Historia edisi kali ini mengangkat rumah di Jalan Gunung Sahari III beserta kisah ceritanya itu dalam "Horor dari Gunung Sahari".
Komentar anda
Nomor 6 Tahun 1
MEMENUHI PANGGILAN SUCIHAJI telah menjadi satu hajatan rutin tiap tahun orang Indonesia Pemerintah melalui Kementerian Agama dulu Departemen Agama membentuk direktorat khusus Direktorat Jenderal Haji untuk mengurusinya Perbaikan dan perubahan terus berlangsung sejak awal penyelenggaraannya Praktik berhaji Muslim Nusantara telah tercatat sejak abad ke16 Semangat berhaji terus meningkat pada masa kolonial Belanda sekalipun dibatasi berbagai peraturan Semangat menggebu membuat mereka melakukan apa saja ada yang menabung bertahuntahun menggadaikan harta benda sampai bekerja di Singapura untuk membayar hutang demi bisa memenuhi panggilan Ilahi Bagaimana warnawarni yang menghiasi perjalanan sejarah haji Muslim Nusantara dan Indonesia Historia kali ini menghadirkannya dalam Laporan Utama Memenuhi Panggilan Suci
Nomor 6 Tahun 1
MEMENUHI PANGGILAN SUCIHAJI telah menjadi satu hajatan rutin tiap tahun orang Indonesia Pemerintah melalui Kementerian Agama dulu Departemen Agama membentuk direktorat khusus Direktorat Jenderal Haji untuk mengurusinya Perbaikan dan perubahan terus berlangsung sejak awal penyelenggaraannya Praktik berhaji Muslim Nusantara telah tercatat sejak abad ke16 Semangat berhaji terus meningkat pada masa kolonial Belanda sekalipun dibatasi berbagai peraturan Semangat menggebu membuat mereka melakukan apa saja ada yang menabung bertahuntahun menggadaikan harta benda sampai bekerja di Singapura untuk membayar hutang demi bisa memenuhi panggilan Ilahi Bagaimana warnawarni yang menghiasi perjalanan sejarah haji Muslim Nusantara dan Indonesia Historia kali ini menghadirkannya dalam Laporan Utama Memenuhi Panggilan Suci