Pilih Bahasa: Indonesia
Nomor 1 Tahun 1

Nomor 1 Tahun 1 | Edisi Srikandi Revolusi

Rp.50,000 In Stock
Historia Indonesia
SEJAK masa Orde Baru figur Kartini hanya digambarkan sebagai perempuan Jawa dari keluarga ningrat kalem keibuan dan lembut bertutur kata Setiap kali hari kelahirannya diperingati kaum perempuan meniru gaya busana Kartini kebaya di badan plus sanggul di kepala Sampai hari ini hanya dengan cara itulah kebanyakan perempuan mengenang Kartini Gagasangagasan emansipasinya justru tak pernah dikenal luas Pada zaman Orde Baru pula gerakan perempuan didepolitisasi dan didomestifikasi Benarkah gerakan perempuan Indonesia mengalami penghancuran sebagaimana yang pernah didedahkan oleh Saskia Eleonora Wieringa dalam bukunya Penghancuran Gerakan Wanita Indonesia Apakah tak ada perlawanan sama sekali
HISTORIA
Nomor 1 Tahun 1
Komentar anda
Nomor 1 Tahun 1
Edisi Srikandi RevolusiSEJAK masa Orde Baru figur Kartini hanya digambarkan sebagai perempuan Jawa dari keluarga ningrat kalem keibuan dan lembut bertutur kata Setiap kali hari kelahirannya diperingati kaum perempuan meniru gaya busana Kartini kebaya di badan plus sanggul di kepala Sampai hari ini hanya dengan cara itulah kebanyakan perempuan mengenang Kartini Gagasangagasan emansipasinya justru tak pernah dikenal luas Pada zaman Orde Baru pula gerakan perempuan didepolitisasi dan didomestifikasi Benarkah gerakan perempuan Indonesia mengalami penghancuran sebagaimana yang pernah didedahkan oleh Saskia Eleonora Wieringa dalam bukunya Penghancuran Gerakan Wanita Indonesia Apakah tak ada perlawanan sama sekali
Nomor 1 Tahun 1
Edisi Srikandi RevolusiSEJAK masa Orde Baru figur Kartini hanya digambarkan sebagai perempuan Jawa dari keluarga ningrat kalem keibuan dan lembut bertutur kata Setiap kali hari kelahirannya diperingati kaum perempuan meniru gaya busana Kartini kebaya di badan plus sanggul di kepala Sampai hari ini hanya dengan cara itulah kebanyakan perempuan mengenang Kartini Gagasangagasan emansipasinya justru tak pernah dikenal luas Pada zaman Orde Baru pula gerakan perempuan didepolitisasi dan didomestifikasi Benarkah gerakan perempuan Indonesia mengalami penghancuran sebagaimana yang pernah didedahkan oleh Saskia Eleonora Wieringa dalam bukunya Penghancuran Gerakan Wanita Indonesia Apakah tak ada perlawanan sama sekali