Pilih Bahasa: Indonesia

Tragedi Perang Bubat dan Batalnya Pernikahan Hayam Wuruk-Dyah Pitaloka

Kisah tragis kenduri pernikahan Raja Majapahit dengan Putri Sunda yang bubar di tanah Bubat. Sebuah peristiwa historis atau legenda belaka?
Historia
Historia
pengunjung
6.6k

BHRE Prabu yang menghendaki putri Sunda mengutus Patih Madhu, seorang mantri senior, untuk mengundang pihak Sunda. Tak keberatan jadi besan, datanglah Raja Sunda Prabu Maharaja ke Majapahit. Alih-alih diterima dengan pesta menyambutan, mereka menghadapi sikap keras Mahapatih Gajah Mada yang menghendaki putri Sunda sebagai persembahan. Pihak Sunda tak setuju dan bertekad perang.

Gajah Mada memberi tahu perilaku orang Sunda. Bra Prameswara dari Wengker menyatakan siap bertempur. Maka, pasukan Majapahit mengepung orang-orang Sunda. Tak mau menyerah, orang-orang Sunda memilih mempertaruhkan nyawa. Pertempuran tak terelakkan. Sorak-sorai bergemuruh ditingkahi bunyi reyong. Raja Sunda, Prabu Maharaja, meregang nyawa paling awal.

Bra Prameswara datang ke Bubat, tak tahu masih banyak orang Sunda yang belum gugur. Tak ayal pasukannya mendapat serangan dan porak-poranda. Namun dia segera melakukan serangan balasan.

Karena terdesak, para menak menyerang ke arah selatan. Pasukan Majapahit yang menahan serangan memperoleh kemenangan. Pihak Sunda yang menyerang ke baratdaya pun tewas. Seperti lautan darah dan gunung bangkai. Orang Sunda tiada tersisa pada tahun saka 1297 (1375 M).

Demikian Pasunda-Bubat atau dikenal dengan Perang Bubat yang tersua dalam satu segmen kitab Pararaton. Pararaton, tak diketahui siapa penulisnya, disusun berupa kronik sekitar 1474-1486, sedangkan bagian sastra sejarahnya antara 1500-1613. Naskah ini kali pertama diterbitkan J.L.A. Brandes, filolog asal Belanda, pada 1896, lengkap dengan terjemahan, catatan-catatan, dan komentar.

Akibat Peristiwa Bubat, pernikahan antara Bhre Prabu Hayam Wuruk dan putri Sunda, Dyah Pitaloka Citraresmi, batal. Bahkan sang putri gugur di tanah lapang Bubat. Setelah peristiwa itu, Pararaton menyebut Hayam Wuruk menikah dengan Indudewi (Paduka Sori). Adapun Gajah Mada amukti palapa atau berhenti menjabat sebagai patih.

Menariknya, Nagarakrtagama karya Mpu Prapanca, yang dianggap sebagai “buku babon” mengenai sejarah Majapahit, tak mengemukakan peristiwa itu. “Agaknya ini disengaja oleh Prapanca, karena peristiwa tersebut tidak menunjang kepada kebesaran kerajaan Majapahit, dan bahkan dapat dianggap sebagai kegagalan politik Gajah Mada untuk menundukkan Sunda,” tulis Marwati Djoened Poesponegoro dan Nugroho Notosusanto dalam Sejarah Nasional Indonesia II.

Kendati diyakini khalayak, Peristiwa Bubat masih terselubung misteri.

 
Terpopuler di Historia 
Komentar anda
Majalah
Laporan Khusus
Majalah Historia Cetak
berikutnya
 
Nomor 33 Tahun 3
Kejahatan Perang Belanda
Kisah ini kami hadirkan bukan untuk mengaburkan batas sikap tentang apa makna menjajah dan dijajah. Kami ingin membahas apa yang..
 
Historia
Historia