Pilih Bahasa: Indonesia
halaman 1

Surga-Neraka di Kaki Borobudur

Konsep surga-neraka mewujud dalam seni ukir pada kaki Candi Borobudur. Relief Karmawibhangga itu menggambarkan hukum sebab-akibat perbuatan manusia semasa hidupnya.
 
Candi Borobudur.
Foto
Historia
pengunjung
13.6k

Suatu hari, tahun 1814, Letnan Gubernur Jawa Stamford Raffles mendapat laporan dari masyarakat tentang adanya susunan batu bergambar di Desa Bumisegoro, Magelang. Rupanya itu adalah bangunan suci yang kini dikenal luas sebagai Candi Borobudur.

Candi Borobudur didirikan Raja Samaratungga dari Dinasti Syailendra beserta putrinya, Pramodhawardhani, sekira abad ke-9. Candi itu kemudian lama terlupakan, sehingga tertutup semar-belukar. Maka, Raffles mengutus seorang Belanda bernama H.C. Cornelius untuk membersihkannya. Raffles mendokumentasikan proses pembersihan itu dalam bukunya, The History of Java, yang terbit pada 1817. Borobudur pun menarik perhatian para peneliti Belanda. Salah satunya Jan Willem Ijzerman, yang juga ketua Archaelogische Vereeniging di Yogyakarta.

Ketika melakukan penelitian, secara tak sengaja Ijzerman menemukan sejumlah relief di kaki candi pada 1885. Ia tertutup struktur batu selasar dan tangga. Dengan hati-hati pada 1890-1891, kaki Candi Borobudur pun dibongkar. Pendokumentasian dilakukan Kassian Cephas, seorang fotografer pribumi Jawa. Saat pendokumentasian berlangsung, struktur batuan penyusun selasar yang menutupi relief dibongkar secara bergantian sebelum ditutup kembali.

Hingga kini, belum diketahui pasti alasan penutupan kembali kaki candi yang kemudian dikenal sebagai relief Karmawibhangga.

“Tidak ada atau belum ditemukan prasasti maupun catatan Belanda yang menjelaskan kenapa bagian kaki Candi Borobudur ditambah setelah pembangunannya selesai. Apakah penambahan bagian kaki ini dilakukan pada masa generasi yang sama, atau pada generasi berikutnya? Kita belum tahu pasti,” ujar Marsis Sutopo, kepala Balai Konservasi Borobudur, melalui surel.

Ada dua pendapat yang berkembang. Pertama, bagian kaki candi sengaja ditutup karena relief-reliefnya terlalu vulgar dan memuat contoh perbuatan buruk manusia. Pendapat ini sangat lemah. Terlebih relief Karmawibhangga memuat ajaran agama Buddha yang justru harus diketahui masyarakat. Kedua, terkait pertimbangan konstruksi, yakni rawan longsor, melindungi dari gempa, atau mengalami pergeseran. Berdasarkan pertimbangan itu, penambahan dinding pada dasar candi dilakukan agar konstruksi candi semakin kokoh. Pembangunan dilakukan secara bertahap.

“Menurut penelitian, setidaknya Borobudur dibangun melalui empat tahap, dengan dua kali pembangunan tambahan bagian kaki. Makanya sekarang kita lihat bagian kaki tambahan candi terdiri dari dua lantai,” ujar Marsis.

 
Terpopuler di Historia 
Komentar anda
Majalah
Segera Terbit
 
Nomor 37 Tahun IV
Riwayat Syariat di Nusantara
Seiring berkembangnya komunitas muslim di Nusantara sebagai dampak arus perdagangan pada abad ke-13, jejak-jejak penerapan hukum Islam mulai bisa terlacak...
 
Candi Borobudur.
Foto
Candi Borobudur.
Foto