Pilih Bahasa: Indonesia

Suku Laut Sriwijaya

Ketika akan berperang, Sriwijaya menghimpun kekuatan armadanya dari para orang kaya, tentara dari raja-raja taklukan, dan suku laut.
 
Replika hunian suku laut yang ditampilkan dalam pameran “Kedatuan Sriwijaya” di Museum Nasional Jakarta, November 2017.
Foto
Historia
pengunjung
1.7k

ENAM manekin berambut gondrong, berikat kepala putih, bertelanjang dada hanya memakai kain penutup daerah vital, dan menyandang sebuah tombak. Mereka berdiri dalam sebuah replika rumah kayu: hunian suku laut.

Siapakah suku laut itu? Bambang Budi Utomo, arkeolog senior Pusat Penelitian Arkeologi Nasional, pernah meneliti suku laut yang replikanya ditampilkan dalam pameran “Kedatuan Sriwijaya” di Museum Nasional selama November 2017.

Suku laut berdiam di pantai timur Sumatra. Mereka sudah berabad-abad lampau mendiami daerah rawa-rawa ini.

“Merekalah para diaspora Austronesia, para penutur bahasa Austronesia. Mereka dari daerah Sambas, Kalimantan, yang kemudian menyeberang ke pantai timur Sumatra. Mereka mendiami daerah rawa ini. Mereka makan dari makanan yang hidup di air seperti ikan dan burung. Merekalah yang bisa disebut sebagai suku laut,” kata Bambang kepada Historia.

Temuan arkeologis di pantai timur Sumatra banyak ditemukan bekas rumah tinggal berupa tonggak-tonggak kayu dari kayu nibung dan sisa perahu. Permukiman ini dari masa sebelum Sriwijaya hingga masa Sriwijaya. Selain sisa rumah tinggal, sisa perahu, juga ada perhiasan dan barang rumah tangga lainnya.

Sebagai penghuni perairan dangkal, suku laut mengembangkan teknologi pembuatan perahu yang unik. Mereka menggunakan tali untuk mengikat papan-papan sebagai dinding perahu dan memberikan getah damar untuk mengisi celah di dinding perahu untuk menahan air masuk kedalam.

“Suku laut kala itu, kurang lebih bisa dibandingkan dengan suku laut yang ada sekarang ini. Seperti bagaimana menentukan lokasi-lokasi yang banyak ikan, mereka cukup menempelkan telinga di dinding perahu. Kemudian, mereka memiliki kepercayaan jika di laut sudah muncul penampakan gajah mina, bentuknya seperti makara kalo kita mau masuk candi di kanan kiri ada seperti binatang gajah, maka itu berarti banyak ikan dan saatnya berburu ikan,” ujar Bambang, penulis Pengaruh Kebudayaan India dalam Bentuk Arca di Sumatra.

Pada era Sriwijaya, suku laut menjadi bagian dalam armada perang Sriwijaya. “Ya, bahasanya, mereka dimobilisasi dalam keadaan perang,” ujar Bambang.

Permulaan abad 13, seorang pelancong Tiongkok bernama Zhao Rugua (1170-1228) tiba di Sriwijaya. Dia mencatat mengenai kemampuan perang armada kerajaan di Selat Malaka.

“Mereka jago bertempur di darat dan air. Ketika hendak memerangi negara lain, mereka menghimpun dan mengerahkan kekuatan yang diperlukan untuk kesempatan itu. Mereka (kemudian) menunjuk para kepala dan pemimpin. Kemudian semua menyediakan perlengkapan militer masing-masing dan perbekalan yang dibutuhkan,” tulis Pierre Yves Manguin, “Sifat Amorf Politi-Politi Pesisir,”’ termuat dalam Kedatuan Sriwijaya.

Dalam tulisannya, Zhao Rugua menceritakan bagaimana persiapan menjelang perang, termasuk menghimpun armada serta perahu-perahu perang. “Penguasa saat itu tidak mempunyai armada atau kekuatan sendiri. Namun, dia menghimpun armada berupa kapal atau perahu dari para orang kaya yang menjadi pengikutnya. Sementara tentara didapat raja-raja taklukan di pelosok,” tulis Pierre Yves Manguin.

Sejak mula berdiri, Sriwijaya memang sudah memiliki armada yang mumpuni. Pada prasasti Kedukan Bukit, dikisahkan bahwa pada tanggal 5 paro bulan terang Jyestha, 19 Mei 682, Dapunta Hiyang kembali naik perahu dari daerah Minanga. Kali ini, ia bersama sekira dua puluh ribu tentara, dengan membawa 200 peti perbekalan. Armada perang ini akan merebut daerah bernama Mukha --p-.

Sekira seabad kemudian, Sriwijaya sudah benar-benar memiliki angkatan laut yang mumpuni. “Pada abad ke-8 Sriwijaya dan saudaranya Mataram sudah berhubungan dengan Thailand dan India. Itu artinya sudah mempunyai kekuatan laut,” kata Bambang.

Kekuatan armada perang Sriwijaya itu bergantung kepada kapal-kapalnya. Para nakhoda dari Melayu, berdatangan dari paya-paya bakau dan pulau-pulau yang berdekatan dengan pusat Sriwijaya.

“Meskipun Sriwijaya terletak di pantai yang di kelilingi air dan penduduknya sedikit, kerajaan ini dapat mengumpulkan tenaga manusia dari kalangan orang Melayu pantai yang tinggal di sekitar perkampungan laut yang tersebar di selatan Selat Malaka,” tulis O.W. Wolters, “Warisan dan Prospek-Prospek Sriwijaya,” termuat dalam Kebangkitan dan Kejayaan Sriwijaya Abad III-VII.

Saat Sriwijaya tak berperang, suku laut menjalankan kehidupan sehari-harinya sebagai nelayan atau berdagang. “Tidak pernah ada cerita suku laut saat itu yang jadi perompak. Pernah pada waktu zaman Belanda, suku laut bisa memporak-porandakan patroli Belanda di laut, mungkin itu yang disebut oleh Belanda bahwa suku laut itu perompak. Ya, itu karena ulah Belanda sendiri yang ada di wilayah suku laut,” pungkas Bambang.

 
Terpopuler di Historia 
Komentar anda
Majalah
Segera Terbit
 
Nomor 37 Tahun IV
Riwayat Syariat di Nusantara
Seiring berkembangnya komunitas muslim di Nusantara sebagai dampak arus perdagangan pada abad ke-13, jejak-jejak penerapan hukum Islam mulai bisa terlacak...
 
Replika hunian suku laut yang ditampilkan dalam pameran “Kedatuan Sriwijaya” di Museum Nasional Jakarta, November 2017.
Foto
Replika hunian suku laut yang ditampilkan dalam pameran “Kedatuan Sriwijaya” di Museum Nasional Jakarta, November 2017.
Foto