Pilih Bahasa: Indonesia
halaman 2

Siapa Sebenarnya Kakek Gajah Mada?

Gajah Mada membangun candi bagi kakeknya. Gagasan politiknya menginspirasi Gajah Mada dalam mencetuskan Sumpah Palapa.
 
Candi Singhasari di Malang.
Foto
Historia
pengunjung
42.3k

Kedua, dalam masa Jawa Kuno, candi atau caitya pen-dharma-an tokoh selalu dibangun oleh kerabat atau keturunan langsung tokoh itu, seperti Candi Sumberjati bagi Raden Wijaya dibangun tahun 1321 pada masa pemerintahan Jayanegara; dan Candi Bhayalango bagi Rajapatmi Gayatri dibangun oleh cucunya, Hayam Wuruk sekira tahun 1362.

Atas alasan itulah, Agus menafsirkan bahwa Gajah Mada masih keturunan dari Raja Krtanagara. Setidaknya Gajah Mada masih mempunyai hubungan darah dengan Krtanagara. Tidak mengherankan bila Gajah Mada mempunyai perhatian khusus kepada raja itu, yang memang leluhurnya. Gajah Mada bukan orang asing dalam lingkungan istana; dia masih kerabat dan akrab dengan lingkungan istana.

Ayah Gajah Mada mungkin sekali bernama Gajah Pagon yang mengiringi Raden Wijaya ketika berperang melawan pengikut Jayakatwang dari Kediri. “Intepretasi selanjutnya, Gajah Pagon sangat mungkin anak dari salah satu selir Krtanagara,” lanjut Agus.

Pasalnya, menurut Agus, Gajah Pagon tidak mungkin orang biasa. Dalam kitab Pararaton, nama Gajah Pagon disebut secara khusus. Ketika itu, Raden Wijaya begitu mengkhawatirkan Gajah Pagon yang terluka dan dititipkan kepada seorang kepala desa.

“Kepala desa Pandakan saya titip seseorang, Gajah Pagon tidak dapat berjalan, lindungilah olehmu,” kata Raden Wijaya dalam Pararaton.

Artinya, penulis Pararton begitu mengistimewakan tokoh Gajah Pagon. “Jika bukan siapa-siapa tidak mungkin Raden Wijaya menitipkan dengan sungguh-sungguh Gajah Pagon yang terluka kepada kepala desa Pandakan,” tegas Agus.

Menurut Agus, sangat mungkin Gajah Pagon selamat kemudian menikah dengan putri kepala desa Pandakan dan akhirnya memiliki anak, yaitu Gajah Mada yang mengabdi pada Majapahit.

“Jadi, Gajah Mada mungkin memiliki eyang yang sama dengan Tribhuwana Tungga Dewi. Bedanya Gajah Mada cucu dari istri selir, sedangkan Tribhuwana adalah cucu dari istri resmi Krtanagara,” jelas Agus.

Dengan demikian, dapat dipahami mengapa Gajah Mada sangat menghormati Krtanagara. Raja itu adalah eyangnya sendiri. Hanya keturunannya saja yang dengan senang hati membangun caitya bagi sang raja. Konsepsi Dwipantra Mandala Krtanagara mungkin menginspirasi dan mendorong Gajah Mada dalam mencetuskan Sumpah Palapa.

“Demi untuk mengenang kebesaran leluhurnya itu, lalu didirikanlah caitya atau Candi Singasari,” ungkap Agus.

 
Terpopuler di Historia 
Komentar anda
Majalah
Segera Terbit
 
Nomor 37 Tahun IV
Riwayat Syariat di Nusantara
Seiring berkembangnya komunitas muslim di Nusantara sebagai dampak arus perdagangan pada abad ke-13, jejak-jejak penerapan hukum Islam mulai bisa terlacak...
 
Candi Singhasari di Malang.
Foto
Candi Singhasari di Malang.
Foto