Pilih Bahasa: Indonesia
halaman 1

Perlawanan Jagapati sebagai Hari Jadi Banyuwangi

Untuk menahan dominasi dan agresi Kompeni, warga Bayu melakukan perlawanan hebat.
 
Pasukan koalisi antara Kompeni dan pasukan lokal bergerak ke Ujung Timur Jawa.
Ilustrasi
Foto
Historia
pengunjung
5.8k

Jagapati alias Mas Rempeg, keturunan Tawangalun, raja terbesar Blambangan, masih berusia 17 tahun. Terhina karena Bupati Blambangan Jaksanagara menuduhnya berselingkuh dengan selirnya, serta dorongan membebaskan rakyat Blambangan, membuat Rempeg berani berontak.

Jagapati dibantu mantri-mantri mulai mencari dukungan. Dia memerintahkan warga-warga desa lain untuk mengungsi ke desa Bayu, wilayah di barat laut Blambangan –kini terletak di sekitar Songgon, Banyuwangi– dengan janji mendapat kehidupan yang lebih baik serta bebas dari orang Jawa dan kulit putih. Sentimen terhadap orang Jawa dan kulit putih sudah berakar kuat sejak Kongsi Dagang Belanda (VOC), didukung sekutunya kerajaan Islam Jawa dan Madura, menaklukkan Blambangan.

Jagapati juga medapat dukungan balabantuan dari Bali. Sebuah benteng pertahanan dibangun mengelilingi desa. Setelah pasukan dan persenjataan terpenuhi, Jagapati bersiap menyerang Kompeni dan anteknya.

“Raja-raja Blambangan mengkhawatirkan serangan dari Bayu.” tulis Winarsih Partaningrat Arifin pada ringkasan Babad Bayu karangan Wiralaksana, seorang keluarga pendeta dari Lumajang, termuat dalam Babad Blambangan

Para penguasa kerajaan Blambangan mengirim surat kepada Jagapati agar bersedia takluk tanpa serangan. Ketika Jagapati mengindahkannya, pada 1771, Bupati Blambangan beserta prajuritnya menyerang Bayu. Ternyata mereka mendapat perlawanan hebat. Terpaksa mereka mundur.

Lantaran sulit menembus benteng Bayu dan selalu terampas persenjataannya, Kompeni melalui otoritasnya meminta bantuan dan mendapat tambahan persenjataan dan prajurit dari Madura dan Surabaya. Pada 14 Desember 1771, terjadi pertempuran besar di Susukan dan Songgon yang menewaskan Letnan Reigers dan melukai komandan ekspedisi tersebut, Letnan Heinrich.

Empat hari kemudian, pasukan Bayu menyerang pasukan Kompeni yang berada di Songgon. Kompeni untuk kali kesekian hancur. Pengganati Letnan Reigers, Vaandrig Van Schaar tewas. Menurut laporan VOC yang dikutip Sri Margana dalam Ujung Timur Jawa, 1763-1812: Perebutan Hegemoni Blambangan, tubuh Vaandrig Van Schaar diseret ke kamp pemberontak. Mereka mengeluarkan isi perutnya lalu menelannya. Ini adalah ritual duivelsch maal (diabolical meal) yang dipimpin seorang Bugis, Kraeng Dono.

Hanya sedikit orang Belanda yang selamat, sementara banyak orang Madura tewas. Sisanya melarikan diri. Senjata dan sisa bubuk mesiu direbut pasukan Bayu.

 
Terpopuler di Historia 
Komentar anda
Majalah
Segera Terbit
 
Nomor 37 Tahun IV
Riwayat Syariat di Nusantara
Seiring berkembangnya komunitas muslim di Nusantara sebagai dampak arus perdagangan pada abad ke-13, jejak-jejak penerapan hukum Islam mulai bisa terlacak...
 
Pasukan koalisi antara Kompeni dan pasukan lokal bergerak ke Ujung Timur Jawa.
Ilustrasi
Foto
Pasukan koalisi antara Kompeni dan pasukan lokal bergerak ke Ujung Timur Jawa.
Ilustrasi
Foto