Pilih Bahasa: Indonesia

Merampog Harimau

Di Jawa, harimau tak hanya pernah diadu dengan kerbau. Ia juga dirampog oleh banyak manusia.
Sumber: Anthony Reid, Asia Tenggara Dalam Kurun Niaga 1450-1680 Jilid I.
Ilustrasi
Historia
pengunjung
11.5k

PERISTIWA unik terjadi tepat di hari Valentine kemarin. Seekor harimau Sumatra dari Kebun Binatang Honolulu, Hawaii, dijodohkan dengan harimau dari Kebun Binatang Point Defiance, Amerika Serikat. Tujuan perjodohan ini untuk menyelamatkan harimau Sumatra dari kepunahan karena rekannya, Harimau Jawa, punah sejak 1980-an. Semasa hidup, mereka pernah menjadi hewan aduan dalam pergelaran kerajaan di Jawa sejak abad ke-17.

Di Asia Tenggara, hewan kerap menjadi bagian tak terpisahkan dari pesta-pesta besar kerajaan sejak abad ke-16. Selain dijadikan bahan pangan, mereka diadu satu sama lain agar bisa menjadi tontonan khalayak ramai. Setiap kerajaan memiliki hewan aduan khasnya. Di Aceh, Birma (Myanmar), Kamboja, dan Siam (Thailand), misalnya, gajah merupakan hewan aduan utama. Di kerajaan-kerajaan tersebut, gajah dipandang sebagai simbol kekuatan militer.

“Para raja mengumpulkan gajah dalam jumlah besar, menungganginya dalam latihan perang maupun peperangan... dan mengidentifikasikan diri dengannya dalam perlombaan dengan hewan-hewan lain,” tulis Anthony Reid dalam Asia Tenggara Dalam Kurun Niaga 1450-1680.

Sedangkan kerajaan di Champa dan Jawa menjadikan kerbau dan harimau sebagai hewan aduan. Di Jawa, orang menganggap kerbau jauh lebih bersemangat tinimbang gajah. Orang asing juga tak selalu kagum melihat pertarungan antargajah. Kalaupun gajah diadu dengan hewan lain, harimau contohnya, pertarungannya tak selalu berimbang. Karenanya, di kerajaan Ayutthaya (Thailand), seekor harimau dipaksa menghadapi dua sampai tiga ekor gajah dalam satu pertarungan.

Di Jawa, orang lebih senang menyaksikan pertarungan antara kerbau dan harimau yang ditangkap dari hutan sekitar Kediri, Blitar, dan Tumapel. Raja sengaja menghelat acara itu secara terbuka dan mengundang orang asing agar turut menyaksikannya.

Di tengah selahan tanah yang dikelilingi pagar, kerbau dan harimau beradu kuat. Sebelum pertarungan, kerbau dan harimau dipaksa mengamuk. Kerbau disiram air cabai sementara harimau disundut besi panas. Pertarungan pun dimulai. Dan akhirnya harimau mati, kerbau menang. Rakyat bersorak-sorai. John Crawfurd, seperti dikutip Anthony Reid, menulis, “Tidak sedikit kegembiraan menyaksikan hewan kecil dan jinak ini mengalahkan lawannya yang buas dan kejam.”

Kerbau tak selalu sendirian menghadapi harimau. Jika ukuran kerbau kecil, terkadang harimau dimasukkan ke tengah kepungan kerbau agar pertarungan lebih berimbang.

Pertarungan yang telah diadakan di Mataram sejak abad ke-17 itu mempunyai arti mendalam bagi orang Jawa. Menurut Ann Kumar dalam Prajurit Perempuan Jawa, mereka mencitrakan diri sebagai kerbau (maesa) dan melihat orang asing sebagai harimau (simo). Tapi bagi Robert Wessing, antropolog Universitas Illinois, identifikasi orang Jawa terhadap harimau jauh lebih kompleks, bahkan sangat ambigu.

“Orang Jawa juga melihat harimau sebagai perwujudan leluhur sehingga mereka kerap memanggilnya nenek. Tapi kemudian harimau dapat menjadi bencana atau pengganggu keselarasan sehingga harus disingkirkan,” tulis Wessing dalam “A Tiger in The Heart: The Javanese Rampok Macan,” Journal KITLV 148 (1992) No. 2. Selain itu, harimau dicitrakan serupa dengan niat jahat atau nafsu buruk di dalam diri yang harus ditaklukkan.

Pandangan orang Jawa terhadap kerbau lebih sederhana tinimbang terhadap harimau. Orang Jawa kuno memandang kerbau sebagai kendaraan bagi manusia di kehidupan akhirat. Dalam literatur weda, kerbau dipercaya sebagai pengusir kejahatan dan pemurni harmoni. “Dengan demikian, pertarungan antara kerbau dengan harimau di alun-alun utara itu dapat diterjemahkan sebagai pertarungan antara keselarasan dengan kekacauan,” lanjut Wessing.

Pertarungan itu mulai berubah bentuk memasuki abad ke-18. Harimau bukan hanya diadu dengan kerbau tapi juga dengan manusia. Kala itu, Mataram telah terbagi dua menjadi Kesultanan Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta. “Rampogan macan”, nama acara baru ini, dihelat di alun-alun utara dua kerajaan tersebut. Pigeaud, ahli sejarah Jawa kuno, menyebut tradisi mengadu harimau dengan manusia di Jawa telah ada lebih awal. Tapi Wessing menyatakan tak ada bukti tertulis yang menyebut ajang adu harimau dengan manusia sebelum masa Islam. Reid pun berpendapat serupa: “Tidak ada tradisi rampogan pada abad ke-17 atau sebelumnya.”

Rampogan di Kesultanan Yogyakarta digelar secara berkesinambungan sejak 1791 kala perayaan Idul Fitri dan Tahun Baru Islam. Waktu ini dipilih karena umat Muslim tengah memulai hari baru dalam siklus hidupnya. Dosa-dosa di masa lalu dianggap telah gugur. Dan harimau disimbolkan sebagai dosa-dosa itu. Sebagai perwujudannya, harimau diadu sampai mati dengan manusia. Khalayak ramai diperkenankan menyaksikan acara ini. Bahkan acara ini terkadang dihelat secara khusus untuk menyambut tamu-tamu asing sultan. Perhelatan di hadapan orang asing ini merupakan simbolisasi kekuatan militer Kesultanan Yogyakarta.

Dalam rampogan, sejumlah harimau dimasukkan ke dalam beberapa kandang. Kandang-kandang itu ditempatkan di tengah alun-alun. Ribuan prajurit bertombak mengelilinginya dalam beberapa barisan. Dari kejauhan, di tempat yang aman, sultan memperhatikan acara itu, bagian demi bagian, mulai pembunyian gamelan, penyalaan api, sampai pelepasan harimau dari kandang. Prajurit bertombak kemudian memburu harimau yang dilepas satu demi satu. Kemudian prajurit berebut menombaknya hingga mati. Inilah sebab acara itu disebut rampogan (rebutan).

Rampogan menyebar hingga karesidenan Kediri, Blitar, dan Tumapel memasuki dekade 1860-an. Di Yogyakarta, acara itu kian kehilangan makna pentingnya. Sementara Kasunanan Surakarta masih menggelar rampogan sampai abad ke-19. Junghuhn, seorang ahli tanaman yang mencintai alam Hindia Belanda, pernah menuliskan pengalaman menyaksikan rampogan di Surakarta pada Agustus-September 1844. Dia menyaksikannya sedari pagi hingga siang. Ketika beberapa kandang sudah habis terbakar dan dua abdi sedang membuka kandang keempat atau kelima, matahari biasanya sudah jauh di atas kepala.

Hingga memasuki awal abad ke-20, beberapa kabupaten di Jawa masih menggelar acara ini. Pemerintah Hindia Belanda melarang rampogan sejak 1905. Hari lebaran di beberapa kabupaten pun menjadi kurang ramai. Tapi itu tak berarti banyak bagi kelangsungan hidup harimau Jawa. Mereka tetap diburu dan terusir dari habitatnya lantaran perambahan hutan di Jawa. Tak sampai satu abad, mereka pun punah berkalang tanah.

 
Terpopuler di Historia 
Majalah
Laporan Khusus
Majalah Historia Cetak
berikutnya
 
Nomor 34 Tahun 3
Murba Partai Terakhir Tan Malaka
Pembahasan mengenai Tan Malaka sudah sering dimuat di berbagai media massa. Tak berbilang banyaknya orang membahas bapak republik itu di..
 
Komentar anda
Sumber: Anthony Reid, Asia Tenggara Dalam Kurun Niaga 1450-1680 Jilid I.
Ilustrasi
Sumber: Anthony Reid, Asia Tenggara Dalam Kurun Niaga 1450-1680 Jilid I.
Ilustrasi