Pilih Bahasa: Indonesia

Melacak Jejak Ken Angrok

Nama-nama tempat petualangan Ken Angrok di Pararaton ternyata benar-benar ada.
 

Ilustrasi
Historia
pengunjung
16.9k

INI bukan pemakaman biasa. Lokasinya di tengah kampung di Gang VIII Tlogomas, Lowokwaru, Kota Malang. Sebuah papan bertuliskan “Situs Karuman” terpancang di pintu masuk, menandakan situs ini sebuah cagar budaya. Warga sekitar menyebutnya Punden Aruman.

Pagi itu, Agustus lalu, Sugijono sudah siap meladang. Tapi dia bersedia menunjukkan beberapa tinggalan arkeologis di dekat rumahnya. Di sebuah tempat yang dikeramatkan, tersimpan arca nandi tanpa kepala, beberapa buah lingga, serta bekas ambang pintu bagian bawah yang terbuat dari batu.

Di pojok areal makam lain tak jauh dari Situs Kauman, terdapat pula arca Siwa dan Durga Mahisasuramardini serta sebuah lingga. Ada pula sumber air tanah di tepi Sungai Brantas yang difungsikan sebagai drainase, sekitar 25 m ke utara dari situs.

Sugijono berkisah, areal Punden Aruman dipercaya pernah menjadi tempat tinggal Bango Samparan. “Bango Samparan biasanya dipanggil Mbah Aruman. Ia kakek angkat Ken Angrok,” kata Sugijono mengisahkan versi tutur yang berkembang di wilayahnya.

Pararaton menyebut Bango Samparan sebagai ayah angkat Ken Angrok dan dikenal sebagai penjudi dari Desa Karuman yang tak pernah beruntung.

Ken Angrok, menurut kisah warga setempat, datang dari Batu, kawasan di utara Malang. Setelah Angrok tinggal di Karuman, karier berjudi Bango Samparan kian lancar. Ia tak pernah kalah hingga semua utangnya lunas.

“Nah yang di situ, kalau kata yang bisa ‘lihat’ ada kayu-kayunya, rumah Bango Samparan,” ujar Sugijono menunjuk ke lahan di belakang areal Punden Aruman.

Lahan itu dibiarkan kosong. Tak ada yang berani membangun apapun di atasnya. Tak diceritakan bagaimana nasib Bango Samparan setelahnya. Yang jelas, dalam Pararaton, Ken Angrok harus meninggalkan ayah angkatnya.

Tempat Pelarian

Karena kenakalannya, Ken Angrok menjadi buron. Salah satu tempat yang didatanginya adalah Sagenggeng. Di sana dia berguru, belajar membaca dan perhitungan waktu, pada seorang rohaniawan.

“Ini etape penting dalam kehidupan Angrok,” ujar Dwi Cahyono, arkeolog yang juga dosen Sejarah Universitas Negeri Malang.

Hanya berubah sedikit dari nama Sagenggeng dalam Pararaton, kini Dusun Segenggeng masih bisa ditemukan. Letaknya sekitar 12 km dari Kota Malang ke arah selatan. Dusun ini menjadi bagian dari Desa Wonokerso, Kecamatan Pakisaji, Kabupaten Malang. Sayangnya, tak banyak tinggalan arkeologis yang ditemukan. Hanya sebuah lumpang batu yang dibiarkan tergeletak di di halaman rumah warga, satu lagi di areal permakaman. Warga setempat juga tak tahu keterkaitannya dengan Ken Angrok.

Meski begitu, menurut Dwi, Dusun Segenggeng sebagai permukiman kuno tak bisa dikesampingkan begitu saja. Posisinya ada di barat bantaran Sungai Brantas. Masyarakat kuno terbiasa bermukim di tempat yang dekat dengan sumber air.

Temuan arkeologisnya memang masih minim. Bisa jadi, ujar Dwi, belum digarap melalui penelitian mendalam. Bisa jadi pula Sagenggeng kuno merupakan wilayah yang luas. Di Desa Kendalpayak, misalnya, yang berjarak hanya 1-1,5 km di utara dusun, ditemukan banyak tinggalan arkeologis pada 1980-an yang sayangnya kini tak berbekas dan hanya menyisakan beberapa umpak batu berukuran besar, batu dakon, dan beberapa fragmen bata.

“Jadi jangan terjebak dengan wilayah administrasi sekarang, karena bisa jadi menciut menjadi selebar desa atau dusun,” ujar Dwi.

Di timur Sagenggeng, tulis Pararaton, Ken Angrok membangun sebuah dukuh bernama Sañja, yang dipakainya untuk membegal orang yang melintas. Kini, tak ada nama semacam itu di seantero Malang.

Maka dicobalah mencari desa terdekat, yaitu Desa Wandanpuro. Letaknya tepat di seberang timur Sungai Brantas. Jaraknya pun hanya sekitar 1 km dari Segenggeng. Dalam administrasi sekarang, Desa Wandanpuro masuk dalam Kecamatan Bululawang, Kabupaten Malang. Di desa itu terdapat punden Wandanpuro.

“Ceritanya (Wandapuro) itu yang membabat alas (membangun desa) di sini,” ujar Ahmad Roihan (57), sang juru kunci.

Punden Wandanpuro, yang diapit dua beringin besar, berada di Dusun Gurit. Di tempat ini ditemukan banyak tinggalan arkeologis. Yang paling mencolok adalah sebuah yoni yang telah kehilangan ceratnya. Ada pula beberapa lingga patok berukuran besar dan kecil, ambang pintu andesit, dan beberapa fragmen bata merah.

“Banyak bata berukuran besar sudah diambil untuk membangun rumah,” kata Roihan dalam bahasa Jawa sembari menunjukkan sisa bata kuno.

“Jelas berarti di sini dulu ada bangunan kuno,” kata Devan Firmansyah, mahasiswa sejarah IKIP Budi Utomo Malang yang aktif bergerak bersama Komunitas JJM.

Apalagi 200 m dari situ pun terdapat belik (sumber mata air) dari Sungai Brantas. Menariknya, selain Dusun Gurit, ada dusun lain yang belum berubah namanya sejak lama. Namanya Dusun Pesanggrahan, letaknya tak jauh dari punden itu berada.

Keberadaan Dusun Pesanggrahan di kawasan itu bisa dikaitkan dengan Dukuh Sañja. Pesanggrahan berasal dari kata Jawa Kuno, pasanggrahan, yang artinya tempat yang disiapkan untuk menerima tamu. Sementara pasañjan, yang merupakan variasi kata sañja untuk menunjukkan tempat, pun berarti tempat menerima tamu.

Pesanggrahan kan bahasa alusnya sanja,” ujar Devan.

Ken Angrok tak berlama-lama di Sañja. Dia kabur lagi, menghindari kejaran tentara akuwuTunggul Ametung yang tak senang ketentraman wilayahnya terganggu. Angrok melarikan diri menuju sebuah dataran tinggi yang dikenal masyarakat dengan Gunung Katu. Letaknya sekitar 15 km dari pusat Kota Malang.

Gunung Katu kini berada dalam wilayah Dusun Sumberpang Kidul, Desa Sumbersuko, Wagir, Kabupaten Malang. Sebetulnya apa yang dibilang gunung itu lebih mirip bukit. Tak sampai dua jam mendaki, puncak Katu sudah di depan mata.

Pararaton menyebutnya Rabut Katu. Rabut dalam kamus Jawa Kuno Zoetmulder berarti tempat suci. Dwi Cahyono membenarkan kalau tempat itu pernah disucikan. Pasalnya Gunung Katu merupakan anak Gunung Kawi yang dianggap pecahan Gunung Meru.

Ketika tiba di Rabut Katu, Ken Angrok heran melihat pohon katu sebesar pohon beringin. Kata Dwi, dulunya di tempat itu memang tumbuh banyak pohon katu. Karenanya penamaan Gunung Katu hingga kini masih dipakai. Sayang, pohon yang menjadi penanda itu justru ditebang.

“Kami akhirnya tanam lagi pohon katu. Jadi kalau ada yang bertanya mana pohonnya, ya itu,” ujar Devan, sambil menunjuk tanaman kurus yang tingginya tak sampai pinggang orang dewasa.

Saat ini di puncak Katu berdiri dua pendopo. Satu untuk tempat beristirahat, satu lagi untuk memayungi beberapa temuan arkeologis. Kemungkinan ketika Angrok sampai di tempat itu pun sudah ada pendopo. Terbukti dengan temuan tiga umpak batu dan beberapa bata kuno seukuran dua kali lipat bata sekarang. Tak mustahil dulunya tempat para resi tinggal.

“Tempat ini cocok banget untuk bersembunyi, karena bisa lihat empat penjuru mata angin, bisa mengawasi kalau ada tentara datang. Mereka juga tak bisa lebih jauh mengejar sampai sini karena ini kan tempat suci,” ujar Devan.

Sebuah artefak yang disebut warga sebagai “kaca benggolo” ditemukan di sana. Tak jelas fungsi benda itu. Ada yang mengatakan itu pedestal arca. Ada yang bilang prasasti yang terlanjur disemen warga. Di sampingnya terdapat arca lembu nandi tanpa kepala dan sebuah batu persegi berlubang sembilan yang oleh masyarakat disebut watu dakon.

Dwi bilang, pada awal 1990-an di puncak pernah ditemukan struktur bangunan dari bata. Namun, karena longsor beberapa kali struktur itu terkubur. “Sekarang mungkin terpendam, kalau diekskavasi bisa jadi ketemu,” ujarnya.

Rabut Katu bukanlah tempat pelarian terakhir Ken Angrok. Dia tak berhenti berbuat onar, dikejar tentara, dan singgah di sejumlah tempat hingga sampai di Turyantapada.

Geleng Kepala

Pararaton menyebut Turyantapada sebagai kediaman Mpu Palot yang mengangkat Ken Angrok sebagai anak. Di sanalah Angrok diajari merajin emas. Angrok lalu disuruh mendalami ilmu ke sentra para pengrajin emas di Kabalon.

Di selatan Kota Malang, sejauh 26 km, terdapat Kecamatan Turen yang dikaitkan dengan Turyantapada. Di Desa Tanggung, Kecamatan Turen, terdapat sebuah prasasti dari era Sindok pada 929 M yang lebih dikenal sebagai Prasasti Watu Godeg. Isinya permohonan kepada Raja Sindok untuk memperoleh sebidang tanah demi pembangunan candi. Permohonan itu dikabulkan. Tempatnya di Desa Turiyan.

Nama Kabalon juga masih digunakan untuk menamai sebuah dusun di Desa Cemorokandang, Kedungkandang, Kabupaten Malang. Jaraknya kira-kira 18 km dari Turen. Ngatemi (57), perempuan warga Dusun Kebalon, mewarisi cerita kalau di belakang rumahnya, tempat ditemukan lingga patok, dulu ditinggali seorang mpu pengrajin emas. Dia juga bercerita tak jauh dari sana diyakini terdapat kuburan seorang putri Majapahit. Namun, dia tak tahu siapa nama putri itu.

“Ada tugunya, di sana kuburan putri Majapahit,” ujar Ngatemi.

Menurut Dwi Cahyono, dari keterangan Nagarakrtagama, pada masa Majapahit nama Kabalon masih muncul. Tempat ini pernah menjadi tanah lungguh bagi Kusumawarddhani, putri mahkota Maharaja Hayam Wuruk, yang membawahkan wilayah itu sebagai rajakumari (kepala negara bawahan) sebelum diangkat menjadi raja. Saat itu penyebutan Kabalon adalah Kabalan.

Lagi-lagi, Kabalon hanyalah persinggahan sementara Ken Angrok. Dia kembali bikin ulah dan dikejar tentara. Hingga akhirnya dia bertemu dengan Lohgawe dan atas perantaraan Lohgawe pula dia mengabdi pada Tunggul Ametung.

Sudah Jadi Pabrik

Salah satu kisah yang meleganda dari petualangan Ken Angrok terjadi di sini: Taman Boboji.Pararaton mengisahkan, Ken Dedes mengunjungi Taman Boboji. Ketika turun dari kereta, kainnya tersingkap. Ken Angrok yang melihatnya terkesima karena betis itu memancarkan sinar. Sepulangnya dari taman, Angrok bercerita kepada Lohgawe, yang kemudian mengatakan lelaki yang menikah dengan perempuan seperti itu akan menjadi raja besar.

Di Desa Watugede, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang, terdapat sebuah situs yang diyakini penduduk sebagai tempat pertemuan tersebut. Namanya Petirtaan Watugede atau dikenal juga sebagai Petirtaan Ken Dedes.

Ketika ditemukan pada 1925, kondisi kolam masih relatif utuh. Dindingnya terbuat dari bata kuno. Bagian timur kolam dihiasi sembilan pancuran air (jaladwara), yang saat ini hanya menyisakan satu jaladwara.

Menurut Agus Irianto, sang juru kunci, tempat ini dulunya keputren yang juga menjadi tempat ruwatan Ken Dedes pada masa kejayaan Tumapel sekira tahun 1200 M. Di kolam 30x10 m itu dipercaya Ken Dedes mandi dan diintip si pemuda nakal, Ken Angrok.

“Dilihat tanpa sengaja oleh Ken Arok, dia nggak tahu, dia lari kepada gurunya. Lari takut dalam arti ada larangan laki-laki untuk masuk sini,” ujar Agus.

Angrok akhirnya membunuh Tunggul Ametung dan merebut kekuasaan Tumapel sebelum berganti nama jadi Singhasari.

Menariknya, tak jauh dari petirtaan itu, ada tempat yang menandai wilayah pusat kerajaan Singhasari. Wisnuwardhana diduga pernah meninggalinya. Setelah dinobatkan jadi raja, dia mengubah nama kerajaan Tumapel menjadi Singhasari.

Menurut Suwardono, sejarawan Malang, sejak masa Tunggul Ametung, Tumapel berfungsi sebagai kuwu (perumahan). Ia berkembang pesat hingga menjadi sebuah kerajaan pada masa Ken Angrok. Lalu di manakah keratonnya?

“Tergantung rajanya tinggalnya di mana di situ istananya. Kalau cari keratonnya ya nggak bakal ketemu,” ujar Suwardono yang juga menulis buku Tafsir Baru Kesejarahan Ken Angrok.

Konsep istana ketika itu adalah sistem kuwu. Sisa salah satu kuwu ditemukan di sekitar perumahan Bhumi Mondoroko, Desa watugede, Kecamatan Singhasari. Di sana terdapat sumber air kuno yang disebut warga sebagai Sumber Air Balekambang. Kawasan ini pun dipercaya merupakan punden desa. Kini, lokasinya berada dalam kawasan pabrik pengolahan rumput laut yang dilingkupi tembok tinggi.

Begitu memasuki pintu gerbang, sebuah bangunan beratap asbes langsung menyergap. Di bawahnya terdapat kolam penampungan air yang dipakai untuk mencuci rumput laut.

“Dalamnya 3 m. Dulu juga dipakai orang-orang Belanda untuk pemandian, jadi tempat wisata,” ujar Suparman (61), seorang petugas keamanan.

Total ada tiga kolam kuno di tempat itu. Menurut Suparman, yang memang warga asli Watugede, di salah satu kolam yang berukuran lebih kecil terdapat lima arca batu berjejer di dindingnya. Pada 1989 kolam itu dihancurkan.

“Banyak bata besar-besar. Saya termasuk yang gempuri (menghancurkan),” ujar Suparman sambil menyeringai geli. Bata-bata kuno itu kemudian diambil warga sekitar untuk membangun rumah.

Suparman tak tahu soal Ken Angrok atau Wisnuwardhana. Namun, dia memastikan di belakang pabrik tadinya ada sebuah gumuk (tanah tinggi) sebelum dibuldozer hingga rata dengan tanah.

“Sekarang udah jadi gudang. Lha lumpang ini dari sana,” katanya menunjuk sebuah yoni, yang ceratnya telah hilang, di lantai dekat kolam.

Keterangan adanya gumuk itu memperkuat dugaan situs ini sebagai singgasana Wisnuwardhana. Hal ini juga sesuai dengan keterangan Suwardono yang menyebut Wisnuwardhana wafat di Mandaragiri atau Mandaraparwata (Gunung Mandara), yang bisa dikaitkan dengan bukit Mondoroko.

“Di Prasasti Trowulan I (1358) Wisnuwardhana meninggal, bukan di-dharma-kan, di Mandaragiri. Sekarang Mandaragiri nggak ada, adanya Mondoroko,” ujarnya.

Terlebih lagi tempat itu berjarak tak lebih dari 2 km dengan Desa Polowijen, yang dulu bernama Panawijen. Di sanalah tempat tinggal Ken Dedes dan ayahnya, Mpu Purwa. Karena dekat, tak sulit bagi akuwu Tunggul Ametung mendengar keberadaan Ken Dedes yang cantik jelita lalu menculiknya ke Tumapel.

 
Terpopuler di Historia 
Komentar anda
Majalah
Segera Terbit
 
Nomor 37 Tahun IV
Riwayat Syariat di Nusantara
Seiring berkembangnya komunitas muslim di Nusantara sebagai dampak arus perdagangan pada abad ke-13, jejak-jejak penerapan hukum Islam mulai bisa terlacak...
 

Ilustrasi

Ilustrasi