Pilih Bahasa: Indonesia
halaman 1

Tantangan Khubilai Khan di Jawa

Bagi Mongol, tak mudah menyerang Jawa. Tak ada padang stepa, iklim terik, belum lagi harus menyeberang lautan yang luas.
 
Lukisan Liu Guandao (1280) yang menggambarkan Khubilai Khan dan pasukan berkudanya sedang berburu.
Historia
pengunjung
38.6k

MONGOL sukses mengembangkan imperium yang luas karena angkatan daratnya ulung, khususnya keahlian dalam berkuda. Imbasnya, pada abad ke-13 M, seluruh daratan Eurasia tak luput dari kehadiran orang-orang Mongol. Kesuksesan itu masih diwarisi oleh Khubilai Khan hingga dia menaklukkan seluruh Tiongkok.

Namun, kelihaian mereka berperang tersendat ketika menghadapi kondisi wilayah Asia Tenggara. “Bala tentara China-Mongol di negeri-negeri itu hanya menemui kegagalan atau keberhasilan sementara,” tulis George Coedes dalam Asia Tenggara Masa Hindu-Buddha.

Kalah Karena Kuda

Adieyatna Fajri, dosen arkeologi Universitas Gadjah Mada, mengatakan praktik menggunakan kuda sebagai alat militer sudah lama digunakan orang-orang di kawasan Asia Tengah. Melalui teknik melatih orang dan kuda, bangsa Mongol menciptakan pasukan yang bisa melakukan ekspedisi penaklukkan yang luas.

“Pasukan kavaleri semacam ini sangat efektif untuk menyerang daerah-daerah yang kebanyakan penduduknya sedenter (menetap),” jelas Fajri kepada Historia.

Namun, kata Fajri, kepiawaian berperang dengan kuda juga harus didukung kondisi medan perang yang luas. Pasukan berkuda memang terbukti berjaya di Asia Tengah. Tapi itu bukanlah jawaban untuk meraih sukses serupa di Asia Tenggara. Sepertinya mereka kesulitan mengaplikasikan ilmu itu di tanah ini, yang wilayahnya bukan berupa padang stepa.

“Kuda itu paling cocok habitatnya di Asia Tengah yang daerahnya stepa,” lanjutnya. Karenanya dia pun yakin kegagalan Mongol di Asia Tenggara disebabkan strategi kavaleri mereka tak berjalan sebagaimana sebelumnya.

Dalam sumber Tiongkok, yang tercatat di Sejarah Dinasti Yuan, ketika menyerang Jawa, pasukan Mongol dibagi dalam dua kekuatan. Kekuatan pertama dikirim lewat jalur darat. Separuh lainnya lewat jalur laut menggunakan kapal. Mereka pergi ke pedalaman Jawa lewat Sungai Sugalu (Sedayu). Dari sana menuju sungai kecil Pa-tsieh (Kali Mas).

Meski tak disebutkan berapa banyak kuda yang dibawa, dalam keterangan itu disebutkan pasukan terdiri dari dua kelompok: kaveleri dan infanteri. Menurutnya, kelompok kavaleri ini terdiri dari kelompok pemanah berkuda Mongol yang punya reputasi kuat dalam berbagai pertempuran sukses di masa lalu.

“Mongol tanpa kuda, mereka itu bukan apa-apa. Jadi kemana pun mereka pasti akan membawa kuda. Sama dengan orang Jerman yang selalu membawa tank,” ujar Fajri.

Sayangnya, Jawa tidaklah sama terutama dari segi kewilayahan. Di Jawa, wilayah dengan padang rumput sulit ditemui. Sementara, tentara Mongol datang ke Jawa via Tuban. Pada abad ke-13, sebagian besar Jawa masih ditutupi hutan.

Orang-orang Mongol tak bisa berperang secara efektif di hutan lebat. Kuda-kuda mereka bergerak di ruang yang lebih sempit dari yang seharusnya.

Karenanya, menurut pendapat Fajri, khususnya di Jawa, kuda tak pernah menjadi pelengkap perang. Paling tidak sebelum kedatangan tentara Mongol. Di Jawa, kuda lebih berguna sebagai moda transportasi. Kalau bukan itu, fungsi lainnya adalah untuk simbol stratus. Misalnya dipakai dalam sebuah iring-iringan anggota kerajaan. Relief Candi Borobudur (9 M) dan Candi Prambanan (10 M) menunjukkan hal yang sama soal fungsi kuda pada masa ini.

Peran kuda makin banyak ketika masuk masa Majapahit. Seperti ditunjukkan dalam literatur Jawa, kidung Ranggalawe dan kidung Sunda. Di sana disebutkan alat-alat berkuda yang lebih lengkap, misalnya pelana, harness, dan bahkan beberapa ornamen lain seperti rumbai, hiasan pada pelana dan ekor.

“Ini menunjukkan adanya pengetahuan yang lebih tentang berkuda,” kata Fajri.

Hal itu didukung oleh relief di Candi Panataran. Di relief digambarkan empat ekor kuda menarik sebuah kereta. Seseorang pemanah berdiri di atas kereta itu. Sementara empat penari perempuan digambarkan di depan kereta tadi. “Gambaran itu mungkin salah satu bagian dalam Negarakrtagama yang menggambarkan kegiatan berburu Hayam Wuruk,” jelas Fajri.

Menariknya lagi, di candi yang sama terdapat relief tokoh Indrajit, putra Rahwana, yang digambarkan sedang memanah dari atas kuda. Teknik berkuda ini merupakan keahlian tingkat tinggi yang terkenal dimiliki oleh bangsa Mongol.

“Meski belum ada bukti pendukung soal keterampilan memanah dari atas kuda dalam peperangan Jawa pra-modern, paling tidak teknik seperti itu sudah pernah disaksikan orang Jawa bersama datangnya Mongol pada 1293,” jelas Fajri.

Tetap saja, selain fungsinya sebagai penambah daya dalam peperangan, kuda di era Majapahit masih diperuntukkan bagi hewan pekerja dan status sosial. “Namun memang soal kekalahan Mongol di Jawa karena kurangnya padang rumput ini harus dipelajari lebih lanjut,” kata Fajri.

 
Terpopuler di Historia 
Komentar anda
Majalah
Segera Terbit
 
Nomor 37 Tahun IV
Riwayat Syariat di Nusantara
Seiring berkembangnya komunitas muslim di Nusantara sebagai dampak arus perdagangan pada abad ke-13, jejak-jejak penerapan hukum Islam mulai bisa terlacak...
 
Lukisan Liu Guandao (1280) yang menggambarkan Khubilai Khan dan pasukan berkudanya sedang berburu.
Lukisan Liu Guandao (1280) yang menggambarkan Khubilai Khan dan pasukan berkudanya sedang berburu.