Pilih Bahasa: Indonesia
Serat Narasawan

Kegilaan yang Tersembunyi

Sebuah naskah Jawa mengupas perilaku seksual dengan binatang, bahkan makhluk halus. Sebuah realitas atau fantasi belaka?
 

Ilustrasi
Historia
pengunjung
15.3k

ALKISAH, di padukuhan Sariwahan, tinggallah seorang remaja bernama Jaka Sudikda. Ayahnya yang seorang petani baru saja menikah lagi setelah ditinggal mati istri pertamanya. Kendati demikian, sehari-hari Jaka tidur bersama mereka.

Suatu malam, ayah dan ibu tirinya berhubungan badan. Jaka, yang pura-pura tidur, menyaksikan persenggamaan itu. Dalam diam, dia menahan hasratnya.

Esoknya, seperti biasa, Jaka menggembalakan kerbau. Ketika memandikan kerbau betinanya di sungai, dia teringat kemolekan tubuh ibu tirinya. Muncullah hasrat untuk menggauli kerbau betina itu. Bukan hanya sekali. Hingga akhirnya si kerbau bunting dan melahirkan anak dengan wujud aneh: kaki belakangnya mirip kaki manusia.

Kabar anak kerbau aneh itu segera menyebar ke penjuru desa. Orang berdatangan untuk menyaksikan. Mereka yang datang memberikan sedekah seikhlasnya. Kehidupan keluarga Jaka pun membaik. Bahkan sang ayah diangkat menjadi demang setelah pemerintah mengambil anak kerbau aneh tadi.

Kisah percintaan manusia dan binatang itu secara vulgar tersua dalam Serat Narasawan. Ada 12 bab cerita serupa dalam naskah berbentuk prosa setebal 719 halaman itu. Selain persenggamaan Jaka Sudikda dengan kerbau, ada juga kisah tokoh lain dengan kapal (kuda), menjangan (rusa), wawa estri (kera betina), rangutan (orangutan), hingga segawon (anjing). Umumnya dilakukan laki-laki dan mereka yang setiap hari menggembalakan hewan. Bukan hanya dengan binatang. Serat Narasawan juga memuat tiga kisah tentang perilaku seksual dengan makhluk halus: gedruwo, peri, dan kuldi wadon. Semua kisah itu selalu diakhiri dengan kehidupan keluarga si tokoh yang berangsur membaik, naik jabatan atau menjadi kaya.

Naskah Serat Narasawan sebelumnya merupakan koleksi Artati Sudirdjo, menteri pendidikan dan kebudayaan pada 1960-an. Dia mendapatkannya dari J.L. Moens, seorang insinyur perairan Belanda di Yogyakarta yang gemar mengumpulkan naskah-naskah Jawa selama kurun waktu 1930-1942. Moens memperolehnya dari dalang-dalang di luar kota Yogyakarta seperti Godean, Gunungkidul, dan Kulon Progo. Khusus Serat Narasawan, pada punggung naskah terdapat keterangan bertuliskan “Tjerma”. Diduga kuat penulis naskah adalah Cermapawira, seorang dalang dari Ngabangan, Godean, yang memang produktif dalam penulisan naskah. Ia ditulis pada 1930-an.

“Belum dapat diketahui secara pasti makna di balik penciptaan naskah yang sedikit menyimpang ini. Belum juga diketahui apakah naskah ini hanya sebatas karya fiksi yang bersifat hiburan semata, atau merupakan salah satu potret realitas budaya pada zamannya,” tulis Salfia Rahmawati dalam skripsinya di Universitas Indonesia tahun 2014 yang dibukukan dengan judul Serat Narasawan (AS 75): Fenomena Bestiality dalam Cerita Jawa Tahun 1930-an.

Bukan Karya Adiluhung

Persenggamaan dengan binatang, dalam istilah medis disebut bestialitas atau zoophilia, ditemukan di hampir semua kebudayaan. Menurut dokter spesialis obstetri dan ginekologi Boyke Dian Nugraha, perilaku itu sudah ada sejak masa Mesir Kuno. Untuk meningkatkan kejantanannya, laki-laki Mesir bersebadan dengan seekor buaya betina. Mitologi Yunani pun tak asing dengan praktik ini. Ada kisah mengenai Dewa Zeus yang menyamar sebagai angsa jantan dan menggoda Leda, Ratu Sparta.

Beberapa peninggalan purbakala juga mengguratkannya. Misalnya, lukisan pada dinding gua di Val Camonica, Italia utara, yang berusia sekira 10.000 tahun lalu atau relief kuil Khajuraho di India yang dibangun dalam rentang waktu 950 hingga 1150 M.

Menurut Boyke, di masa lalu ada beragam mitos dan kepercayaan yang melatari perilaku itu. Ada yang bersenggama dengan ular di kuil agar cepat memiliki momongan. Ada pula yang melakukan agar sembuh dari penyakit kelamin. “Kini, praktik itu lebih pada kepuasan seksual yang menyimpang,” ujar Boyke ketika ditemui di Klinik Pasutri, Tebet, Jakarta.

Lantas, bagaimana memahami Serat Narasawan dalam konteks pemikiran orang Jawa?

Menurut Prapto Yuwono, dosen Kebudayaan Jawa Universitas Indonesia, sulit menjelaskan apa tujuan si penulis menciptakan Serat Narasawan. Ia juga bukan sebuah pernyataan bahwa orang Jawa dulu permisif dengan penyimpangan seksual. Apalagi, jika mencermati judul naskahnya, Narasawan terdiri dari “nara” yang berarti kelakuan buruk dan “sawan”, sesuatu yang gila.

“Dari judulnya kalau kita pahami ini suatu kegilaan saja. Narasawan itu suatu kelakuan yang kesambet, bisa aja gitu,” ujarnya.

Bagi Prapto, Serat Narasawan tak bisa disebut sebagai karya sastra Jawa karena tak bersifat adhiluhung. Apalagi tak ditulis pujangga yang ditunjuk keraton.

Dalam konteks budaya Jawa, era sekira abad ke-18 menjadi akhir bagi para pujangga. Setelah Ranggawarsita, keraton tak lagi menggangkat pujangga secara khusus. Alasannya, tak ada lagi yang memenuhi kualifikasi. Belum lagi mulai masuknya pengaruh kolonial. Sedikit demi sedikit kebudayaan keraton kian luntur. Akibatnya, pusat kebudayaan di luar keraton bermunculan. Apa saja bisa ditulis, dari catatan perjalanan, catatan harian, hingga yang vulgar. Meski begitu tetap saja seksualitas adalah hal tabu bagi masyarakat Jawa. Apalagi seksualitas yang menyimpang.

“Saya kira hal semacam itu nggak perlu diangkat, karena bukan suatu hal yang perlu dibicarakan,” ujar Prapto.

Kalaupun ada karya yang gaya penceritaannya vulgar, pasti ada maksud tertentu. Misalnya, penggambaran seksualitas dalam Serat dan Suluk Gatholoco, keduanya ditulis pada abad ke-19, bermaksud mengajarkan konsep manunggaling kawulo gusti. Pengungkapannya dinilai akan lebih mudah dipahami. Tahap manunggal digambarkan dalam kenikmatan yang tiada taranya.

Hal yang sama juga bisa dilekatkan pada Serat Centini, yang ditulis pada 1814-1823 dan kerap disebut ensiklopedia Jawa. Menariknya, Serat Centini juga menyinggung pilihan bersenggama dengan binatang. Dikisahkan, Kulawirya memanggil Nuripin, menceritakan mimpinya yang didatangi Jamal Jamil dan diberi petunjuk tentang obat penyakit rajasinga, yakni harus bersenggama dengan perawan muda atau perempuan yang telah selesai hadi. Atau dengan kuda. Kendati merasa aneh, Nuripin menyarankan dengan kuda saja. Sebab, apabila dengan perawan atau perempuan yang telah selesai haid akan menambah dosa lantaran pasti akan tertular.

Salfia Rahmawati menambahkan, penyimpangan seksual juga tampak dalam koleksi naskah Moens lainnya tentang tokoh Bima kawin dengan makhluk supernatural hingga dewa (Bhima Kecap), dengan binatang (Bhima Ngambang), hingga dengan makhluk halus (Bhima Wedhon). Ada juga kisah keturunan Bhima yang berupa hewan akibat hubungan seks dengan binatang.

Keberuntungan dan Kekayaan

Sri Margana, sejarawan Universitas Gadjah Mada, mengatakan karya semacam itu tak berkaitan dengan moralitas masyarakat Jawa. Karya ini tak dapat dipahami semata-mata sebagai bukti penyimpangan seksual yang pernah terjadi di Jawa.

“Fakta mengenai zoophilia itu mungkin memang ada kejadian satu dua, tapi kan nggak tercatat dalam sejarah. Bukan menjadi suatu peristiwa besar,” ujarnya.

Justru, di balik vulgarnya cerita dalam Serat Narasawan, orang Jawa sedang menyampaikan perubahan lingkungan yang terjadi di sekitarnya. Pada awal abad ke-20, di dunia agraris Asia, termasuk di Jawa, banyak diberitakan kelahiran binatang-binatang piaraan yang mengalami kelainan atau mutasi genetik.

“Kalau baca koran pada awal abad ke-19-20, banyak berita aneh, fenomena bayi aneh, anak kerbau aneh, anak anjing aneh, banyak muncul,” ujar Margana.

Fenomena itu itu muncul bersamaan dengan revolusi di bidang pertanian dan perkebunan. Margana menjelaskan, di wilayah Vorstenlanden, Surakarta dan Yogyakarta, berkembang pertanian dan perkebunan yang luas. Untuk memacu pertumbuhan agar panen lebih cepat dan memberantas hama, bahan kimia marak digunakan. Ini rupanya berdampak pada hewan ternak dan masyarakat Jawa belum mampu menjelaskan fenomena itu. Apa yang kini bisa dipahami sebagai mutasi gen, pada masa lalu diintepretasikan sesuai pemahaman pada zamannya. “Fenomena itu djelaskan secara natural sebagai akibat dari perilaku zoophilia,” lanjutnya.

Di sisi lain, masyarakat Jawa menganggap hewan ternak sebagai penyambung nyawa pada masa paceklik. “Seperti dalam naskah Serat Narasawan, dari semua folklore, kelahiran binatang-binatang aneh itu selalu membawa keberuntungan dan kekayaan bagi pemiliknya,” papar Margana.

Perilaku seksual dengan makluk halus (spectrophilia) juga tak jauh beda. Sejak dulu orang Jawa percaya keberadaan makhluk halus. Apa yang tersurat dalam Serat Narasawan hanyalah cara orang Jawa menjelaskan fenomena orang yang kaya mendadak.

Bagi Margana, Serat Narasawan bisa dianggap sebagai tafsir Jawa terhadap perubahan lingkungan dan nilai-nilai hewan piaraan bagi keluarga dan dunia pertanian. “Ia merupakan realitas dan fantasi masyarakat agraris Jawa tentang keberuntungan dan kekayaan,” ujar Margana.

 
Terpopuler di Historia 
Komentar anda
Majalah
Segera Terbit
 
Nomor 37 Tahun IV
Riwayat Syariat di Nusantara
Seiring berkembangnya komunitas muslim di Nusantara sebagai dampak arus perdagangan pada abad ke-13, jejak-jejak penerapan hukum Islam mulai bisa terlacak...
 

Ilustrasi

Ilustrasi