Pilih Bahasa: Indonesia
halaman 1

Istri Setia Sampai Sati

Kesetiaan istri kepada suami ditebus dengan pengorbanan diri.
 
Ritual sati atau pengorbanan istri di Bali sekitar tahun 1597.
Foto
Historia
pengunjung
23.4k

Tatkala seorang bangsawan atau pemimpin tertinggi meregang jiwa, selir dan para pelayan yang paling setia bersumpah: “Dalam kematian kami akan ikut denganmu.”

Lalu upacara kremasi pun digelar. Bangunan tinggi dari kayu didirikan. Tumpukan kayu bakar diletakkan. Peti mati dimasukkan saat api mulai membesar. Ketika api berkobar-kobar, selir bersama dua atau tiga pelayan yang telah bersumpah mulai naik ke atas bangunan, menari dan berkeliling, menunggu waktu yang tepat, lalu melemparkan diri ke kobaran api dan terbakar bersama junjungan mereka.

Deskripsi tersebut dicatat Ma Huan, anggota ekpedisi Cheng Ho ke Jawa antara 1413 dan 1415. Ma Huan mengunjungi Majapahit dan menyaksikan upacara kremasi tersebut.

Ritual pengorbanan diri perempuan bukan hanya dilakukan di Jawa tapi juga Bali. Ia juga dilakukan di banyak kebudayaan, terutama India. Di India, ia dikenal dengan sebutan sati.

Menurut AS Kobalen, dosen terbang Filsafat Hindu, sati memiliki ruang tersendiri dalam alam pikiran masyarakat Hindu. Sati mengacu pada tokoh Daksyani dalam kitab Siva Purana, yang termasuk ke dalam Purana, kumpulan kitab berisi kisah dan ajaran keagamaan yang ditulis sekira 300 tahun SM sampai abad ke-4 SM. Dalam Siva Purana, dikisahkan bahwa Daksayani rela mengakhiri hidup demi menebus rasa hina suaminya, Siva. Penghinaan itu dilakukan Daksa, raja yang juga ayah Daksayani.

“Tindakan Daksayani adalah perwujudan sati. Dia telah menempuh satya-nya, untuk sehidup-semati bersama sang suami,” ujar Kobalen.

Dalam konteks suami-istri, satya wacana (benar dan setia, satu dari lima satya dalam ajaran Hindu) diucapkan mempelai perempuan kepada mempelai pria saat upacara pernikahan di hadapan api sebagai manifestasi Hyang Agni. Dengan sumpah itu, sang perempuan bersungguh-sungguh menerima swami (suami) sebagai guru atau dewa. Tak heran bila praktik sati dimuliakan sebagai simbol kesetiaan tertinggi.

 
Terpopuler di Historia 
Komentar anda
Majalah
Segera Terbit
 
Nomor 37 Tahun IV
Riwayat Syariat di Nusantara
Seiring berkembangnya komunitas muslim di Nusantara sebagai dampak arus perdagangan pada abad ke-13, jejak-jejak penerapan hukum Islam mulai bisa terlacak...
 
Ritual sati atau pengorbanan istri di Bali sekitar tahun 1597.
Foto
Ritual sati atau pengorbanan istri di Bali sekitar tahun 1597.
Foto