Pilih Bahasa: Indonesia
Internasional | halaman 2

Hetairai, Pelacur Athena

Selain cantik, mereka harus berpengetahuan luas dan mahir bermain musik. Mereka menjadi teman para pembesar Athena, Yunani.
 

Ilustrasi
Historia
pengunjung
102.5k

Sebutan hetairai kali pertama tersua dalam Histories karya Herodotus (484 SM-425 SM), sejarawan Yunani Kuno. "Sebutan itu ditujukan untuk Rhodopis (569 SM-526 SM), seorang perempuan asal Thrace (Turki) yang pindah ke Naukratis (Mesir), koloni Yunani Kuno," tulis Rebekah Witheley dalam "Courtesans and Kings: Ancient Greek Perspectives on the Hetairai" tesis pada Universitas Calgary, Kanada. Rhodopis dinilai sebagai hetairai pertama dan terkenal di kalangan pembesar Naukratis.

Untuk menjadi hetairai, seorang perempuan tak cukup hanya cantik. Dia mesti meluaskan pengetahuan mengenai bahasa (puisi), filsafat, dan politik. Dia bisa memperolehnya dari pergaulan dengan tetamunya. Keahlian bermain alat musik seperti flute, tamborin, kastanet, dan lyre juga sangat dibutuhkan. Selain itu, mereka harus mahir menari. Inilah yang membedakan hetairai dengan pelacur rendahan dan selir. Berbekal kemampuan itu, mereka melayani tetamu laki-laki dalam symposia, acara minum anggur dan diskusi khusus lelaki yang diakhiri bercinta dengan hetairai. Aktivitas percintaan mereka dapat dilihat pada guci-guci kuno Yunani.

Hetairai mencapai popularitas pada masa klasik. "Masa ini dinilai banyak sarjana sebagai zaman keemasan Haeterai. Kebanyakan berasal dari luar Athena, namun hidup bersama lelaki Athena," tulis Rebekah. Beberapa tokoh penting Athena seperti Pericles (orator dan negarawan), Praxiteles (seniman patung), dan Epicurus (filsuf) mempunyai hetairai masing-masing. Yang terkenal adalah Aspasia, milik Pericles. "Socrates sangat memuji kemampuan bicaranya," tulis Nikolaos. Tapi, hubungannya dengan Pericles menjadi gunjingan banyak orang. Sebab, Aspasia bukan orang Athena, sedangkan Pericles adalah pembesar Athena.

Hidup hetairai dilimpahi kemewahan dan keistimewaan. Dengan bayaran mahal mereka memiliki rumah dan budak sendiri. Ini melanggar aturan umum masyarakat Athena yang tak membolehkan perempuan memiliki rumah dan budak. Anak-anak mereka juga mewarisi hak-hak istimewa sang ibu. Meski statusnya bukan sebagai warga Athena, anak-anak itu dapat menduduki posisi sebagai jenderal atau anggota senat. Padahal, aturan tak memperkenankan anak hasil hubungan lelaki Athena dengan perempuan luar Athena memperoleh hak-hak politik.

Sebenarnya, hetairai tak menghendaki kehamilan dari hubungan dengan tetamu. Karenanya mereka berhati-hati dalam berhubungan intim. Beberapa cara seperti sanggama terputus, membaca mantera-mantera, meminum ramuan tertentu, dan memakan telur gagak diterapkan. Tapi, karena banyak dari mereka menjadi selir, kehamilan tak terhindarkan. Bagi masyarakat Athena, selir memiliki fungsi sebagai penghasil keturunan atas persetujuan istri sah. Lelaki Athena memelihara selir karena istrinya mandul atau hanya melahirkan anak perempuan.

Hetairai masih ditemukan hingga masa akhir Antikuitas meski popularitasnya menurun. Bahkan, menyebar hingga luar Athena seperti di Corinth, 78 km barat daya Athena. Di kota ini, para hetairai membangun kuil megah dan luas untuk dipersembahkan kepada Aphrodite –dewi cinta, kecantikan, dan seksualitas. Namun, kuil ini merupakan peninggalan terakhir hetairai. Memasuki abad ke-4 M, Kristen muncul. Peradaban Romawi perlahan terbit dan Yunani Kuno mulai tenggelam. Hetairai dianggap kotor. Dan lambat-laun namanya menghilang meski profesinya tak pernah ditinggalkan.

 
Terpopuler di Historia 
Komentar anda
Majalah
Segera Terbit
 
Nomor 37 Tahun IV
Riwayat Syariat di Nusantara
Seiring berkembangnya komunitas muslim di Nusantara sebagai dampak arus perdagangan pada abad ke-13, jejak-jejak penerapan hukum Islam mulai bisa terlacak...
 

Ilustrasi

Ilustrasi