Pilih Bahasa: Indonesia

Dendam Membara Mpu Purwa

Bukan semata soal kutukan dan tragedi berdarah keris Mpu Gandring. Ketidakstabilan di Kediri punya andil.
 
Diorama penculikan Ken Dedes oleh Tunggul Ametung di Museum Mpu Purwa, Malang.
Foto
Historia
pengunjung
8.6k

SESUAI petunjuk dewa, Ken Angrok pergi ke Gunung Lejar. Atas bantuan seorang nenek, dia bersembunyi di balik tempat sampah yang ditimbuni semak belukar.

Hari itu, para dewa sedang bermusyawarah. Ken Angrok mengintip. Di belakangnya, terdengar suara guntur, petir, gempa, kilat, topan, angin ribut, dan hujan bergemuruh, berdengung-dengung, tiada henti.

“Yang memperkokoh Nusa Jawa, daerah manalah mestinya?”

Para dewa pun mengemukakan pendapat masing-masing.

“Siapakah yang pantas menjadi raja di Pulau Jawa?”

Dewa Guru lalu menjawab: “Ketahuilah dewa semua, adalah anakku, seorang manusia yang lahir dari Pangkur, itulah yang memperkokoh tanah Jawa.”

Ken Angrok keluar dari tempat persembunyiannya. Semua dewa melihat dan merestuinya. Maka, ditahbiskanlah Ken Angrok dengan nama Bhatara Guru.

Demikianlah Serat Pararaton, ditulis tahun 1613 M tanpa jelas siapa penulisnya. Melalui kisah ini Ken Angrok mendapatkan legitimasi atas kekuasaannya.

Menurut Suwardono, sejarawan Malang, rapat para dewa itu bisa dimaknai sebagai pertemuan tokoh-tokoh yang memiliki kedudukan luhur masa itu. Sejumlah brahmana, terutama Mpu Purwa dan Dang Hyang Lohgawe, bersatu untuk menggulingkan Tunggul Ametung, akuwu (setara camat sekarang) di Tumapel, salah satu daerah bawahan kerajaan Kadiri.

“Dan itu bermula dari dendam Mpu Purwa,” ujar Suwardono ketika ditemui di kediamannya di Malang.

Kudeta Tunggul Ametung

Mpu Purwa tak terima anaknya, Ken Dedes, dibawa lari dan dikawini Tunggul Ametung. Bahkan ia mendoakan Tunggul Ametung bakal tak hidup tentram, mati ditikam keris, dan diambil istrinya.

Sebenarnya, dalam tata pemerintahan kerajaan masa Jawa Kuno berlaku perundang-undangan agama yang umumnya diambil dari kitab Kutara Manawa. Dalam kitab itu, seorang pejabat yang melarikan anak pendeta harus mati. Namun, sebagai pendeta, Mpu Purwa tak mau tangannya berlumuran darah. Tapi bukan berarti ia pasrah. Ia berusaha melampiaskan dendamnya dengan cara lain.

“Orang Jawa bilang nabok nyilih tangan (memukul dengan meminjam tangan orang lain),” ujar Suwardono.

Orang itu adalah Ken Angrok. Tak heran jika Angrok “diikutkan” dalam rapat para dewa di Gunung Lejar. Pun ketika ia mengungkapkan niatnya membunuh Tunggul Ametung, tak ada yang mencegahnya.

Jangan lupakan pula rapat para dewa di Gunung Lejar memerintahkan Angrok untuk menemui Lohgawe. Pada saat yang sama, Lohgawe diutus Batara Brahma mencari Ken Angrok. Keduanya bertemu di tempat perjudian. Lohgawe lalu mengajak Angrok menghadap Tunggul Ametung.

“Kenapa yang bawa Angrok ke Tunggul Ametung itu Lohgawe?” ujar Suwardono. Suwardono yakin, Lohgawe dan Mpu Purwa saling kenal. Keduanya sama-sama penganut trantrayana; satu aliran Hindu, yang satu Buddha.

Atas bantuan Lohgawe, Angrok bekerja sebagai abdi Tunggul Ametung. Dia kemudian tertarik pada Ken Dedes. Apalagi Lohgawe meramalkan kalau Ken Dedes akan menurunkan raja-raja tanah Jawa.

Angrok akhirnya membunuh Tunggul Ametung dan merebut kekuasaan Tumapel. Setelah itu ia mempersiapkan pemberontakan terhadap Kadiri.

Konteks Akhir Kadiri

Dwi Cahyono, arkeolog yang juga dosen sejarah Universitas Negeri Malang, berujar, Ken Angrok sudah lama merancang pengambil-alihan kekuasaan. Angrok keluar-masuk desa untuk mencari pendukung. Tak peduli dari kelompok hitam maupun agamawan. Toh, dia juga pernah diasuh pencuri dan penjudi maupun kalangan terpelajar dan agamawan.

Angrok juga membuat kekacauan bukan tanpa maksud. Dia bergerak dari wilayah pinggiran sebelum akhirnya masuk ke pusat pemerintahan di timur Gunung Kawi, yaitu Tumapel.

“Di dalam (Tumapel) dia mengkondisikan untuk sebuah kudeta,” ujar Dwi, yang juga menulis buku Tafsir Baru Kesejarahan Ken Angrok.

Oleh pujangga Pararaton, wilayah timur Gunung Kawi (kini, kawasan Malang Raya) dijadikan semacam panggung Ken Angrok. Wilayah ini berada di bawah kekuasaan Raja Dandang Gendis yang berkedudukan di Daha, pusat kerajaan Kadiri. Ini sesuai dengan keterangan dalam Prasasti Hantang (1135 M).

Prasasti Hantang dibuat sebagai anugerah bagi penduduk Desa Ngantang yang setia pada Kadiri ketika melawan Janggala. Dari prasasti ini pula diketahui Raja Jayabhaya berhasil mengalahkan Janggala dan mempersatukannya kembali dengan Kadiri.

Menurut Dwi, boleh jadi Ken Angrok lahir dari kalangan yang secara politis dikalahkan, yakni Janggala. Pasalnya, Angrok, menurut Pararaton lahir di Pangkur, yang masuk wilayah timur Gunung Kawi.

“Nah Angrok secara geografis politik adalah orang yang lahir dari era pendudukan. Mungkin juga gerakan untuk melepaskan diri dari Kadiri sudah ada secara parsial,” ujar Dwi.

Dwi menyebut beberapa prasasti mengindikasikan upaya itu. Bahkan pergolakan sudah menjalar ke timur Ponorogo, Trenggalek, Blitar, hingga Malang. Daerah-daerah itu memplokamasikan diri sebagai wilayah otonom.

Sebelum terlanjur, Raja Kertajaya atau yang dipanggil Dandang Gendis dalam Pararaton pun menjadi royal. Ia bermurah hati membagi-bagikan anugerah desa perdikan (sima) untuk belasan desa di kawasan timur Gunung Kawi. Hal ini tersua dalam beberapa prasasti. Misalnya, Prasasti Ukir Negara dari masa akhir Kadiri 1198 M.

“Ini upaya Kadiri membangun konstituen, pendukung, menarik simpati, agar daerah tidak lepas dari cengkeramannya, karena sudah mulai bergolak,” ujar Dwi.

Sikap Kertajaya juga punya andil bagi instabilitas Kadiri. Ia paling lama memerintah di Kadiri. Biasanya, kata Dwi, raja yang lama memerintah, apalagi hingga uzur, akan berbuat semaunya. Kitab Tantu Panggelaran, yang ditulis dalam bahasa Jawa pertengahan pada zaman Majapahit, menyebut Kertajaya tak suka jika ada brahmana yang sakti atau melebihi kesaktiannya. Sementara digambarkan Pararaton, Dandang Gendis menantang para brahmana dan menyatakan ingin disembah para pendeta Hindu dan Buddha.

“Ekstrimnya kalau rohaniawan sudah tidak puas ini kan sudah puncak,” ujar Dwi.

Para brahmana kemudian memilih pindah ke Tumapel dan meminta perlindungan kepada Ken Angrok, yang sedang mempersiapkan pemberontakan terhadap Kadiri. Dengan bantuan para brahamana, Ken Angrok menjadi raja di Tumapel (Singhasari) dan menggulingkan pemerintahan Kadiri.

Dendam Mpu Purwa terbayarkan.

 
Terpopuler di Historia 
Komentar anda
Majalah
Segera Terbit
 
Nomor 37 Tahun IV
Riwayat Syariat di Nusantara
Seiring berkembangnya komunitas muslim di Nusantara sebagai dampak arus perdagangan pada abad ke-13, jejak-jejak penerapan hukum Islam mulai bisa terlacak...
 
Diorama penculikan Ken Dedes oleh Tunggul Ametung di Museum Mpu Purwa, Malang.
Foto
Diorama penculikan Ken Dedes oleh Tunggul Ametung di Museum Mpu Purwa, Malang.
Foto