Pilih Bahasa: Indonesia

Bunga dan Buah pada Zaman Kuno

Berbagai bunga, tumbuhan, dan buah-buahan dipahat dalam relief candi. Para penulis menjadikannya perumpamaan dalam karya sastra kakawin.
 
Pohon nangka di relief Karmawibhangga Candi Borobudur.
Foto
Historia
pengunjung
803

HANOMAN, kera bermahkota dengan kain selutut mengobrak-abrik taman milik Rahwana yang ditumbuhi pohon asoka. Di taman itu pula Sinta dikurung setelah diculik dari suaminya, Rama.

Potongan kisah Ramayana dalam relief Candi Panataran, Blitar itu, juga menggambarkan pemandangan alam. Asoka atau soka (Ixora Javanica) salah satu tanaman yang sering muncul dalam penggambaran alam Jawa Kuno, baik dalam relief maupun karya sastra kakawin. Hingga kini, bunga soka masih bisa ditemui. Ia memiliki bunga merah yang bergerombol, kayu kehitaman, dan berdaun lebat.

Selain tanaman hias, dalam relief juga terdapat tanaman budidaya, seperti pohon aren (Arenga pinnata) pada relief di pendopo teras Candi Panataran. Seniman pahat menggambarkannya: batang lurus menjulang, daun berhelai-helai, dan buah menggerombol dan menggantung. Pada batangnya bambu tergantung untuk menampung tetesan nira. Minuman tuak dari air nira digemari hingga kini.

Pada relief Karmawibhangga di Candi Borobudur terdapat dua jenis tanaman. Jenis tanaman pertanian basah yaitu padi sementara tanaman pertanian kering antara lain jagung, sukun, pisang, tebu, nangka, mangga, dan aren.

Aryo Sunaryo, dosen seni rupa Universitas Negeri Semarang (UNNES) dalam “Aneka Ornamen Motif Flora pada Relief Karmawibhangga Candi Borobudur,” Imajinasi Vol. VI No. 2 Juli 2010, mendata dari 160 panil relief Karmawibhangga, 32 panil menampilkan pohon mangga, motif jambu air sekira tujuh panil, dan pohon pisang tiga panil.

Menurut Petrus Josephus Zoetmulder, pakar sastra Jawa, pohon dan bunga yang disebut dalam kakawin adalah hasil observasi penulis terhadap lingkungannya. Sang penulis atau kawi, biasanya mencari keindahan bagi tulisannya dan menemukannya di alam. Mereka biasanya tertarik pada pohon-pohon yang berbunga. Selain asana dan asoka, pohon yang sering disebut ialah andul (rajasa), wungu, dan campaka.

Penyebutan tanaman dalam kakawin seringkali untuk membuat perumpamaan, khususnya untuk melukiskan kecantikan perempuan. Misalnya, pohon pakis diumpamakan sanggul perempuan. Bunga menur yang mirip melati berbentuk kecil dan putih menggambarkan burung-burung bangau yang berterbangan. “Untuk memahami analogi ini, orang harus cukup mengenal flora yang ada di Jawa,” tulis Zoetmulder dalam Kalangwan.

Pohon andul (rajasa) disebut sampai mundur penuh rasa malu ketika melihat gusi seorang perempuan. Sebab, bunga pohon andul berwarna merah tapi kalah merah dibandingkan gusi perempuan yang cantik.

Ada pula pohon wungu. Bunganya berumpun dan berwarna merah. Bentuknya menjulang dan meruncing ke pucuk. Karenanya, ia sering diserupakan dengan candi atau meru. Perumpamaan ini muncul dalam Kakawin Sumanasantaka yang menyebut seorang tokoh bernama Harini berharap jenazahnya dapat diperabukan dalam candi sebuah wungu.

Sementara bunga tanjung yang kecil seringkali dirangkai menjadi hiasan sanggul dan perhiasan di belakang telinga. Bunga campaka dan asana yang berwarna kuning muda atau putih lebih sering dipakai perempuan sebagai hiasan. Sampai-sampai dalam lingkungan keraton, warna kedua bunga ini paling ideal bagi perempuan.

“Ungkapan warna kulitnya menyerupai kulit bunga campaka sudah menjadi klise,” tulis Zoetmulder.

Mengenai bunga asoka yang merah sering dipakai untuk hiasan rambut. Bunga ini juga dikagumi karena tangkainya yang lemah lembut sehingga diumpamakan pinggang perempuan yang langsing.

Bukan cuma bunga, pohon bambu juga disebut dalam kakawin dengan istilah pring, petung, wuluh. Bambu ini sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari untuk membuat saluran air yang melintasi jurang, ruasnya untuk membawa air atau menanak nasi.

Namun, bagi seorang kawi, bambu bisa menjadi inspirasi berbagai perumpamaan. Seperti dalam Nagarakrtagama disebutkan ketika seorang raja mangkat, mata pohon bambu bengkak karena tangisnya. Di telinga seorang penyair, suara pohon cemara (camara) yang digoyangkan angin, menyerupai keluh kesah, ratap tangis, bahkan sorak sorai.

Menurut Zoetmulder, bambu, cemara, dan pohon kelapa memang tidak bisa dikagumi warnanya. Para kawi tetap melukiskan keindahan pohon-pohon ini melalui tumbuhan yang menjalari batangnya. Seperti katirah yang merah atau gadung yang kuning. “Sebuah tiang atau pohon yang dijalari oleh tanaman sering dipakai sebagai perumpamaan bagi dua orang kekasih yang berangkulan,” tulisnya.

Meski begitu ada pula perumpamaan yang sulit dimengerti. Misalnya, bagian mana dari bunga pisang yang jatuh ke tanah bisa disamakan dengan pecahan kuku tangan? Hal semacam ini, kata Zoetmulder, perlu dipecahkan bersama oleh ahli filologi dan ahli botani Jawa.

 
Terpopuler di Historia 
Komentar anda
Majalah
Segera Terbit
 
Nomor 37 Tahun IV
Riwayat Syariat di Nusantara
Seiring berkembangnya komunitas muslim di Nusantara sebagai dampak arus perdagangan pada abad ke-13, jejak-jejak penerapan hukum Islam mulai bisa terlacak...
 
Pohon nangka di relief Karmawibhangga Candi Borobudur.
Foto
Pohon nangka di relief Karmawibhangga Candi Borobudur.
Foto