Membincang Ulang Polemik Gunung Padang
Sejumlah tanda tanya masih menyelimuti berbagai informasi tentang situs kuno Gunung Padang. Para arkeolog menyebutnya sebagai situs megalitikum terbesar di Asia Tenggara.
SETELAH terhenti pada 2014, penelitian lanjutan tentang situs kuno Gunung Padang di Cianjur, Jawa Barat digulirkan kembali. Bila perlu, pemerintah berkolaborasi dengan banyak lembaga penelitian, para ahli, termasuk dari luar negeri untuk meriset ke situs megalitikum Gunung Padang. Wacana ini dilontarkan langsung oleh Menteri Kebudayaan Fadli Zon.
“Situs itu sampai sekarang masih menyisakan tanda tanya yang besar. Sudah jelas ini adalah man-made, buatan manusia, susunan-susunannya. Tinggal (mencari) jawaban-jawaban yang sifatnya sangat common sense, tempat itu untuk apa sebenarya, dan kapan dibuatnya,” kata Fadli Zon dalam diskusi publik “Melihat Kembali Nilai-Nilai Penting Situs Cagar Budaya Nasional Gunung Padang: Suatu Upaya Pelestarian Cagar Budaya Berkelanjutan” yang dihelat Kementerian Kebudayaan (11/2).
Pada 1979, Pusat Penelitian Arkeologi Nasional mulai melakukan penelitian intensif terhadap situs Gunung Padang. Bermula dari temuan punden berundak yang seluruhnya tersusun dari balok-balok batu berukuran panjang oleh warga setempat. Temuan itu kemudian dilaporkan Kepala Seksi Kebudayaan Kantor Departemen (Kandep) Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Cianjur. Direktorat Sejarah dan Purbakala Depdikbud kemudian melakukan pemetaan kawasan.
Ketika arkeolog Junus Satrio Atmodjo ditugaskan ke Gunung Padang pada 1984, situs ini telah ditutupi bermacam jenis tanaman entah itu singkong, pisang, ubi, hingga padi. Warga setempat menjadikan kawasan situs sebagai tempat bercocok tanam dan berkebun. Tak kurang juga belukar liar yang membelit struktur punden.
“Saya tidak dibekali apa-apa, hanya dikasih uang Rp30.000 untuk ke sana dan satu kamera. Sebelumnya memang sudah ada dari Pusat Penelitian Arkeologi Pak Ari Sukendar dan Ibu Bintarti ke sana dan mereka sudah melakukan laporan. Kalau dibilang saya yang mengawali tidak betul juga, karena Pak Ari Sukendar yang lebih dahulu, tetapi kalau saya yang menebangi, ya ada betulnya,” ujar arkeolog yang akrab dipanggil Pak Oteng ini.
Menurut Junus, laporan tentang Gunung Padang sudah dirintis sejak zaman kolonial Belanda. Ia pertama kali dicatat sebagai khasanah kepurbakalaan pada 1914 dalam majalah Rapporten van den Oudheidkundinge Dients oleh arkeolog Nicolaas Johannes. Krom. Laporan Krom berdasarkan laporan R.D.M. Verbeek yang dibuat 1891. Saat itu pemerintah kolonial gencar membuka lahan di tanah Priangan untuk dijadikan perkebunan teh. Krom menyebut pada puncak gunung terdapat empat teras yang dihubungkan dengan tangga batu dan setiap teras difungsikan sebagai pemakaman. Namun, pendapat Krom itu belakangan diragukan. Junus mendapati lima teras di Gunung Padang serta tidak ditemukan fosil jenazah manusia pada lapisan tanahnya.
Sayangnya, rencana induk pemugaran situs Gunung Padang pada 1987, mangkrak. Pasalnya, saat itu berulang kali terjadi perubahan nomenklatur kementerian yang membidangi kebudayaan. Junus sendiri kemudian lebih banyak berkutat meneliti Candi Muarojambi di pedalaman Jambi.
Baca juga: Menggali Peradaban Muarajambi
Nama Gunung Padang sendiri, menurut geolog vulkanik Sutikno Bronto, beririsan dengan konsep spritual masyarakat Gunung Padang pada zaman purba kala. Secara geologis, daerah Gunung Padang dan sekitarnya merupakan bagian dari gunung api purba Karyamukti. Gunung Padang sendiri sebagai kubah lava di dalam kawah, yang setelah mendingin membentuk batuan beku andesit berstruktur kekar kolom. Pada bagian atas, tumpukan batu kolom tersebut kemudian ditata oleh manusia prasejarah untuk dijadikan tempat pemujaan berbentuk punden berundak.
Bila ditarik garis imajiner ke arah utara-barat laut, maka Gunung Padang menghadap ke arah Gunung Gede. Sebagai gunung yang tertinggi, Gunung Gede dianggap keramat dan disucikan, sebagaimana kepercayaan masyarakat kuno. Dari kiblat inilah nama “Padang” yang semakna dengan bentang atau hamparan luas melekat jadi toponimi Gunung Padang.
“Punden berundak menghadap ke Gunung Gede diduga mempunyai makna fisik dan spiritual, terkait dengan nama Padang,” terang Bronto.
Baca juga: Abu Sinabung Kembali Membubung
Seiring waktu, sejumlah kontroversi mewarnai narasi tentang Gunung Padang. Situs ini disebut-sebut berwujud asli piramida, seperti dinyatakan Yayasan Turangga Seta (YTS) pada 2011. Namun YTS menggunakan pendetakan supranatural alias gaib dalam menjelaskan fenomena-fenomena yang diyakini sebagai karya peradaban masa lalu. Belum lagi kabar angin yang menyebutkan dalam perut Gunung Padang tersimpan berton-ton emas. Geger Gunung Padang kemudian ditindaklanjuti oleh Tim Katastropik Purba di bawah staf khusus kepresidenan SBY, yang kemudian membentuk Tim Terpadu Riset Mandiri (TTRM) Gunung Padang.
Soal lini masa terbentuknya situs Gunung Padang pun beragam versi. Para ahli arkeologi seperti tersua dalam Direktori Cagar Budaya Peringkat Nasional: Penetapan Tahun 2013 s.d 2023 mematok usia Gunung Padang berkisar dari 500—200 SM. Sementara itu, kajian geologi memperkirakan lebih dari itu.
Pakar geotektonik BRIN Danny Hilman Natawidjaja, yang termasuk peneliti TTRM, mengatakan di beberapa lapisan tanah Gunung Padang mencapai usia belasan ribu tahun. Seperti pada struktur teras batu permukaan atau punden berundak, yang disebutnya unit satu diperkirakan berusia 3000-4000 tahun; pada unit dua mencapai 7500—8000 tahun; dan pada unit tiga berumur lebih 16.000 tahun. Unit dua dan tiga inilah yang disebutnya sebagai piramida. Itu berarti Gunung Padang lebih tua daripada Piramida Giza di Mesir.
Baca juga: Menimbang Gunung Padang
Pada 2014, situs Gunung Padang ditetapkan sebagai Cagar Budaya Nasional. Belakangan telisik visual tentang Gunung Padang tayang dalam dokumenter Netflix yang membangkitkan lagi animo keingintahuan publik terhadap situs kuno di Cianjur ini.
Tambahkan komentar
Belum ada komentar