Istri Setia Sampai Sati

Kesetiaan istri kepada suami ditebus dengan pengorbanan diri.

1498578134000
  • BAGIKAN
Istri Setia Sampai Sati
Ritual sati atau pengorbanan istri di Bali sekitar tahun 1597. Foto: commons.wikimedia.org.

TATKALA seorang bangsawan atau pemimpin tertinggi meregang jiwa, selir dan para pelayan yang paling setia bersumpah: “Dalam kematian kami akan ikut denganmu.”

Lalu upacara kremasi pun digelar. Bangunan tinggi dari kayu didirikan. Tumpukan kayu bakar diletakkan. Peti mati dimasukkan saat api mulai membesar. Ketika api berkobar-kobar, selir bersama dua atau tiga pelayan yang telah bersumpah mulai naik ke atas bangunan, menari dan berkeliling, menunggu waktu yang tepat, lalu melemparkan diri ke kobaran api dan terbakar bersama junjungan mereka.

Deskripsi tersebut dicatat Ma Huan, anggota ekpedisi Cheng Ho ke Jawa antara 1413 dan 1415. Ma Huan mengunjungi Majapahit dan menyaksikan upacara kremasi tersebut.

Ritual pengorbanan diri perempuan bukan hanya dilakukan di Jawa tapi juga Bali. Ia juga dilakukan di banyak kebudayaan, terutama India. Di India, ia dikenal dengan sebutan sati.

Menurut AS Kobalen, dosen terbang Filsafat Hindu, sati memiliki ruang tersendiri dalam alam pikiran masyarakat Hindu. Sati mengacu pada tokoh Daksyani dalam kitab Siva Purana, yang termasuk ke dalam Purana, kumpulan kitab berisi kisah dan ajaran keagamaan yang ditulis sekira 300 tahun SM sampai abad ke-4 SM. Dalam Siva Purana, dikisahkan bahwa Daksayani rela mengakhiri hidup demi menebus rasa hina suaminya, Siva. Penghinaan itu dilakukan Daksa, raja yang juga ayah Daksayani.

“Tindakan Daksayani adalah perwujudan sati. Dia telah menempuh satya-nya, untuk sehidup-semati bersama sang suami,” ujar Kobalen.

Dalam konteks suami-istri, satya wacana (benar dan setia, satu dari lima satya dalam ajaran Hindu) diucapkan mempelai perempuan kepada mempelai pria saat upacara pernikahan di hadapan api sebagai manifestasi Hyang Agni. Dengan sumpah itu, sang perempuan bersungguh-sungguh menerima swami (suami) sebagai guru atau dewa. Tak heran bila praktik sati dimuliakan sebagai simbol kesetiaan tertinggi.

[pages]

Pemuliaan hingga Pelarangan

Sulit menelusuri jejak sati. Asal-usulnya belum jelas, “di mana dan bagaimana kebiasaan itu dikembangkan dan apakah diperkenalkan kepada masyarakat secara mandiri atau sebagai sebuah konsekuensi dari kontak dengan masyarakat lain atau pengaruh budaya yang lebih tersebar,” tulis Jorg Fisch dalam “Dying for the Dead: Sati in Universal Context”, dimuat Journal of World History Vol 16 No 3, September 2005.

Menurut Jorg Fisch, India merupakan kasus khusus karena kualitas dan kuantitas sumber-sumbernya. Sati dilakukan semua kasta dan strata sosial, kendati relatif lebih sering terjadi pada kasta atas dan keluarga kaya.

Data paling awal mengenai praktik pengorbanan diri perempuan di India dicatat sejarawan Aristobulus dari Cassandreia pada 326 SM. Ketika ikut dalam rombongan ekspedisi Alexander Agung ke lembah Indus, dia menyaksikan praktik tersebut di kota Taxila (kini wilayah Pakistan). Praktik ini terus berlangsung selama berabad-abad.

Pada abad ke-19, kelompok kelas menengah dan intelektual perkotaan yang tumbuh di Bengal mulai cemas dengan maraknya praktik sati. Mereka melakukan perlawanan. Dengan menyebarkan pamflet-pamflet, mereka melucuti praktik ini dari bingkai agama dan menampilkannya sebagai tindakan pembunuhan atau bunuh diri. Gerakan reformasi kemudian mengarah ke ranah hukum.

Pemerintah Inggris mulanya ragu untuk menekan sati, karena takut menimbulkan reaksi kekerasan. Barulah pada 8 November 1829 Gubernur Jenderal Lord William Bentinck yang baru terpilih mengeluarkan sebuah peraturan hukum mengikat yang dikenal dengan Bengal Sati Regulation 1829. Sejak itu polisi berusaha mencegah praktik itu, bahkan menghukum denda dan kurungan bagi pelakunya. Praktik sati pun berkurang dan perlahan menghilang –hingga muncul kembali pasca-kemerdekaan India.

[pages]

Merangkai Sati dan Bela

Di India, praktik sati marak pada abad ke-15 dan 16 sejalan dengan gelombang awal penyebaran budaya India di Asia Tenggara. “Namun, hanya di Jawa dan Bali gaungnya berlanjut dalam praktik sosial yang nyata,” tulis Helen Creese dalam buku berjudul Perempuan dalam Dunia Kakawin: Perkawinan dan Seksualitas di Istana Indic Jawa dan Bali.

Ada perbedaan dengan praktik di India. Di Jawa dan Bali, praktiknya tidak hanya dilakukan oleh istri tapi juga selir atau pembantu paling setia. Selain itu, ada penggunaan keris untuk mengakhiri hidup sebelum melompat ke tumpukan api. Kata yang digunakan untuk merujuk tindakan itu disebut bela atau dalam bentuk verbal mabela.

Menurut Creese, karya sastra Jawa Kuno mengandung banyak referensi tentang perempuan yang mengikuti suaminya dalam kematian. Misalnya, pengorbanan Sinta dalam Kakawin Ramayana pada abad ke-9, Yajnawati dalam Kakawin Bhomakawya, dan Satyawati dalam Kidung Angling Darma.

Praktik sati juga terekam dalam relief Candi Jago di dekat Malang, Jawa Timur, yang dibangun antara 1268 dan 1280 –kemungkinan dibangun kembali pada abad ke-14. Candi Jago memiliki enam relief yang menggambarkan kematian bunuh diri Satyawati, istri Angling Darma.

Titi Surti Nastiti, arkeolog pada Pusat Penelitian dan Pengembangan Arkeolog Nasional, menduga tiga dari keempat istri Sri Kertarajasa Jayawarddhana, raja Majapahit, yakni Tribhuwaneswari, Narendraduhita, dan Prajnaparamita, melakukan bela. Pasalnya, sepeningal Kertarajasa, justru anak bungsu dan istri keempat Kertarajasa (Gayatri) yang berperan besar dalam mengurus putra mahkota dan menjadi rajapatni. Selain itu, “Setelah Kertarajasa meninggal, ketiga istrinya tidak pernah disebut lagi dalam sumber tertulis, baik prasasti maupun teks,” ujar Titi Surti kepada Historia.

Catatan mengenai praktik ini diperkaaya oleh catatan sejumlah pelancong Eropa seperti Tom Pires; Antonio Pigafetta, seorang ilmuan dan penjelajah asal Italia pada 1524; hingga Thomas Cavendish, seorang penjelajah Inggris.

Dengan masuknya Islam, praktik kremasi Hindu digantikan penguburan ala Islam. “Saat Belanda terlibat dalam urusan Jawa pada awal abad ke-17, kerajaan-kerajaan pesisir maupun istana di Jawa Tengah, termasuk bekas pusat Majapahit, menjadi Islam dan praktik pengorbanan diri tampaknya ditinggalkan di semua daerah kecuali daerah bagian yang paling timur, yakni Blambangan, dan pulau di sebelahnya, Bali,” tulis Creese.

[pages]

Tradisi Besar

Jan Oosterwijck adalah saudagar kepala (Opperkoopman) dalam Kongsi Dagang Hindia Timur (VOC). Pada Februari 1633, Gubernur Jenderal Hendrik Brouwer mengirimnya untuk misi ke Bali. Tugasnya membujuk raja Bali untuk memerangi kerajaan Mataram, yang empat tahun sebelumnya mengepung Batavia. VOC khawatir Mataram akan menyerang lagi. Dan mereka butuh sekutu.

Misi Oosterwijck gagal. Bahkan dia tak bisa bertemu dengan raja, yang tengah berduka atas kematian dua anak dan ibunya. Oosterwijck turut menyaksikan upacara kremasi tersebut.

Saat proses kremasi ratu, 22 budak perempuan melemparkan diri ke kobaran api setelah menikam sendiri atau mendapat tikaman keris dari algojo. Sementara dalam prosesi pemakaman dua putra raja, 42 perempuan dan 34 perempuan ditikam dan dibakar, termasuk dua istri utama dari dua pangeran. Ini merupakan catatan kesaksian Belanda pertama mengenai pengorbanan perempuan di Bali.

“(Praktik) ini mungkin dibawa ke Bali dari India, melalui Jawa, bersama praktik budaya dan agama Hindu lainnya. Mungkin juga mesatia berkembang sebagai adat Bali asli yang kemudian dilapisi agama Hindu,” tulis Alfons van der Kraan dalam “Human Sacrifice in Bali: Sources, Notes, and Commentary”, dimuat majalah Indonesia No 40 Oktober 1985.

Dari catatan sejumlah pengamat Eropa, Alfons van der Kraan menyimpulkan bahwa sati merupakan ranah istana daripada desa, milik tradisi “besar” daripada tradisi “kecil”. Selain itu, perngorbanan perempuan hanya dipraktikkan pada upacara kremasi raja, pangeran, orang kaya dan berkuasa. Alfons van der Kraan memperkirakan pada abad ke-19, upacara kremasi, di mana antara satu dan sembilan perempuan dikorbankan, terjadi setidaknya sekali dan mungkin dua kali dalam setahun di suatu tempat di Bali atau Lombok.

Para pengamat itu menyebut para perempuan melakukan sati tanpa paksaan tapi atas kemauan sendiri. Lantas apa motivasi mereka? “Pengorbanan hanya tampak sukarela karena, pada kenyataannya, tekanan psikologis dan sosial yang cukup berat ditanggung para perempuan. Tekanan psikologis adalah sifat alami agama,” tulis Alfons van der Kraan.

Tekanan juga dilakukan keluarga korban, yang juga termotivasi oleh keyakinan agama. R. Th. Friederich, orientalis dan ahi bahasa Jerman yang punya pengetahuan mengenai Hinduisme dan bahasa Sansekerta yang menyaksikan upada di Gianyar pada 1847, mencatat motivasi lain: kerabat laki-laki dari bela menerima imbalan tertentu dari istana, seperti sawah, pengangkatan sebagai pembekel, dan sebagainya.

Praktik ini kemudian dihapuskan secara bertahap. Di Bali Utara (kerajaan Buleleng dan Jembrana), praktik pengorbanan perempuan berlangsung sampai pertengahan abad ke-19; di Bali Timur (Karangasem) dan di antara penduduk Bali di Lombok pada akhir abad ke-19; dan Bali Selatan (Bangli, Tabanan, Mengwi, Gianyar, Badong, dan Klungkung) sampai awal abad ke-20. “Kasus sati terakhir yang terdokumentasi terjadi pada 1903 ketika dua perempuan dikorbankan saat kremasi Raja Ngurah Agung dari Tabanan,” tulis Alfons van der Kraan.

Pada 1903 pula, dengan alasan kemanusiaan dan terdorong apa yang dilakukan Inggris di India, pemerintah kolonial melarang praktik sati.

Setelah adanya pelarangan dari pemerintah kolonial, tidak ada catatan mengenai praktik pengorbanan perempuan di Bali. Menurut Alfons van der Kraan, dalam upacara kontemporer, praktik ini dilakukan dengan membakar sejumlah boneka jerami.

Menurut I Made Suparta, pengajar Jawa Kuna Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia, esensi kesetiaan dalam bela di Bali masih tetap terjaga dan dilakukan saat upacara kematian. Misalnya, pada upacara perabuan di Setra Tampuagan, Bangli, Bali pada pertengahan 2006, sang janda membuka gelung rambutnya, membiarkan rambutnya terurai, dan kemudian membersihkan patulangan (wadah tempat kremasi) dengan rambutnya sebelum jenazah sang suami diletakkan dan dikremasi.

“Itu adalah tanda dan peringatan bahwa dia akan menjanda dan tidak menikah lagi,” ujar I Made Suparta.

Bentuk kesetiaan perempuan menemukan bentuknya yang lebih manusiawi.

[pages]

  • BAGIKAN
0 Suka
BOOKMARK