Pilih Bahasa: Indonesia

Agar Dieng Tak Tenggelam

Luapan danau Bale Kambang menenggelamkan percandian Dieng. Dibuatlah Gangsiran Aswatama atau terowongan bawah tanah untuk mengalirkan air tersebut.
Historia
Historia
pengunjung
18.3k

PEMBUATAN terowongan bawah tanah untuk mengendalikan air telah dilakukan Dinasti Mataram Kuno di bawah wangsa Sanjaya, yang membangun Gangsiran Aswatama.

Nama Aswatama diambil dari tokoh pewayangan. Aswatama adalah putra pandita Drona. Untuk membalas dendam kematian ayahnya dalam perang Baratayudha, dia menggali lorong bawah tanah atau gangsiran, yang berujung di perkemahan Pandawa. Nahas, Aswatama tewas oleh keris Pasopati yang ditendang bayi Parikesit, cucu Arjuna, hingga menancap di dadanya.

Menurut Otto Sukatno CR, Gangsiran Aswatama adalah sebuah lorong bawah tanah, terbuat dari batu, untuk mengalirkan air danau Balai Kambang yang berada di kawasan candi-candi Dieng, terletak di kecamatan Batur, Banjarnegara. “Dimungkinkan kompleks percandian di Dieng itu pernah tergenang atau tenggelam oleh telaga Bale Kambang,” tulis Otto Sukatno CR dalam Dieng Poros Dunia.

Pembuatan candi sendiri harus memenuhi aturan-aturan yang digariskan dalam kitab Vastusastra, semacam ilmu arsitektur kuno dari India. Aturan dalam kitab ini tak hanya mengenai konstruksi candi, tapi juga pemilihan lahan, jenis tanah, dan lingkungannya. Menurut Manasara, salah satu bagian dari kitab Vastusastra, bangunan suci sebaiknya didirikan di dekat air seperti danau, sungai, mataair, muara sungai, dan laut serta berada di puncak bukit, lereng gunung, hutan, atau lembah.

Percandian Dieng dibangun sesuai dengan ketentuan kitab tersebut: berada di puncak bukit, lereng gunung, dan hutan, juga dekat dengan mataair, yakni Tuk Bima Lukar dan danau Bale Kambang.

Menurut Otto, luapan danau Bale Kambang yang menenggelamkan percandian Dieng terjadi akibat erupsi gunung berapi, muncul kawah atau telaga baru. Selain itu, menurut Sutjipto Wirjosuparto dalam Sedjarah Bangunan Kuno Dieng, luapan Bale Kambang juga terjadi karena air kiriman dari Kali Tulis yang mengalir dari Gunung Prahu. Air yang memenuhi Bale Kambang tersebut kemudian dialirkan ke saluran Gangsiran Aswatama.

“Saluran ini berupa bangunan pipa air dari batu yang di beberapa tempat tertentu ada lubangnya untuk mengurangi tekanan air. Pipa air ini sebagian ditemukan di kelompok bangunan Arjuna dan menuju ke arah barat laut,” tulis Sutjipto.

Gangsiran Aswatama telah menjadi jalan keluar untuk mengendalikan air yang menenggelamkan percandian Dieng.

 
Terpopuler di Historia 
Majalah
Laporan Khusus
Majalah Historia Cetak
berikutnya
 
Nomor 33 Tahun 3
Kejahatan Perang Belanda
Kisah ini kami hadirkan bukan untuk mengaburkan batas sikap tentang apa makna menjajah dan dijajah. Kami ingin membahas apa yang..
 
Komentar anda
Historia
Historia