Pilih Bahasa: Indonesia

Salad, Lezaaat…

Salad kaktus di Timur Tengah hingga gado-gado di Hindia Timur membuktikan makanan ini digemari siapapun.
Historia
Historia
pengunjung
9k

SAMA-sama hobi makan salad, sekelompok orang mendirikan komunitas di dunia maya. Namanya saladjakarta.groupsite.com. Forum ini, sebagaimana terpampang di situswebnya, “adalah komunitas (beta community) penggemar makanan salad untuk daerah Jakarta dan sekitarnya.”

Sejak ribuan tahun silam hidangan ini menjadi menu makanan orang di banyak tempat. “Salad mungkin sudah diciptakan ketika manusia pertama makan beberapa jenis tumbuhan –rumput liar dan biji-bijian, bunga, kulit kayu, dan apa saja yang tersedia,” tulis Patty Inglish, penulis dan peneliti asal Central Ohio, di http://hubpages.com.

Tentu saja “salad” itu belumlah lengkap tanpa bumbu atau kuah. Menurut situs www.hungrymonster.com, orang-orang China menambahkan saus kedelai pada salad sejak 5.000 tahun silam. Orang Mesir memilih minyak, cuka, dan bumbu-bumbuan dari Timur. Sementara orang-orang Babilonia, wilayah yang kini bernama Irak, sejak 2.000 tahun silam memilih minyak dan cuka.

Ketika era Yunani dan dilanjutkan Romawi salad kian digemari. “Orang-orang Yunani kuno dan Romawi menikmati semangkuk sayuran campuran pada waktu makan, yang sedikit dirias dengan minyak, cuka, dan garam,” tulis Alexandra Greeley dalam The Everything Guide to Being Vegetarian. Bapak kedokteran Yunani Hippocrates dan fisikawan sekaligus filsuf Claudius Galenus, lebih dikenal dengan Galen of Pergamon, percaya sayuran mentah mudah masuk ke sistem pencernaan serta tak menghalangi apapun yang masuk setelahnya.

Pamor salad ikut runtuh ketika Romawi runtuh pada abad kelima, meski konsumsi salad tetap berlanjut. Biasanya salad Abad Pertengahan dibuat dari dedaunan hijau dan terkadang dihiasi dengan bunga nasturtiums atau mawar. Baru ketika masa Renaisans salad populer lagi. Para koki di Eropa membuat variasi salad, di antaranya menambahkan telur atau sayuran matang. Terkadang koki-koki kerajaan mencampurkan 35 macam bahan untuk membuat satu salad.

Salad jadi menu utama di banyak istana kerajaan di Eropa. Raja Inggris Henry IV suka salad dengan kentang yang dipotong-potong seukuran dadu plus kuah herbal dan sarden. Ratu Mary dari Skotlandia gemar salad dengan bahan akar seledri rebus, daun selada, kuah dari krim mustard, truffle, telur rebus, dan irisan seledri. Selang beberapa waktu kemudian, para bangsawan Prancis mulai menggunakan mayones untuk kuah salad-saladnya.

Pada 1699, seorang ilmuwan asal London, John Evelyn, mempublikasikan A Discourse of Sallets, buku berbahasa Inggris pertama yang membahas tentang salad. Di dalamnya terdapat daftar beragam bahan pembuat salad beserta gambaran umum manfaat kesehatannya. Termasuk di antaranya salad dengan sayuran mentah. Buku ini begitu populer sehingga orang-orang di masa selanjutnya menjadikannya sebagai referensi utama. Dengan buku ini, Evelyn berusaha, “meyakinkan pembacanya bahwa mereka salah dengan berpikir bahwa ‘hanya orang liar yang makan salad,’ dan dia menekankan bahwa jenis makanan ini menyehatkan,” lanjut Dayle Hayes dan Rachel Laudan.

Dalam perkembangannya, bahan salad kian variatif. Salah satu salad terpopuler abad ke-18, Salmagundi, terbuat dari daging dingin, kacang-kacangan, dan sebagainya. Namun, “seluruh genre salad tetap belum jadi seni kuliner sampai ribuan –atau bahkan jutaan– tahun kemudian dan tidak terlalu populer sampai akhir abad ke-19 dan ke-20 (di AS, khususnya),” tulis Patty Inglish.

Di Amerika Serikat, salad awalnya tak populer. Salad juga bukan menu utama; hanya tambahan. Ia mulai jadi kegemaran orang-orang kaya ketika restoran Demonico di New York mulai menghadirkan salad lezat untuk para klien kayanya pada pertengahan 1800-an. Hal itu berlangsung lama, “dan menempatkan salad ke peta kuliner orang Amerika,” tulis www.salad-recipe.net/Salad-history.htm. Alhasil salad sering dianggap sebagai menu angkuh di banyak negara bagian.

Pada penghujung abad ke-19, ketika ilmu pengetahuan berkembang, perhatian akan makanan sehat meningkat. Salad jadi salah satu pilihan. Salad Gelatin Molded kian menjamur karena menawarkan kontrol maksimum. Banyak restoran atau koki lalu menciptakan salad baru. Oscar Tschirky, manajer rumah makan di Hotel Waldorf-Astoria, New York, menciptakan salad Waldorf pada 1896 dan sukses. Versi aslinya hanya terdiri dari apel, seledri, dan mayones. Kenari cincang ditambahkan kemudian. Biasanya salad Waldorf disajikan di atas daun sla.

Pada tahun yang sama pemilik sebuah restoran di Columbus, Ohio Joe Marzetti, juga memanjakan konsumen dengan beragam kuah salad di restorannya yang baru dia buka. Kuah-kuahnya itu dia ciptakan dari resep-resep salad di banyak negara tua. Peminatnya membludak. Dia lalu mengemas kuah itu ke dalam botol dan mulai menjualnya pada 1919. Sukses!

Beberapa tahun kemudian, Richard Hellmann, pemilik toko makanan di New York, menjual mayones pita biru dalam kemasan kayu. Pasar meresponnya. Setahun kemudian dia pun menjual mayonesnya dalam kemasan botol. Robert Cobb, dengan salad Cobb-nya yang terkenal, ikut meramaikan persaingan. Perusahaan besar seperti Kraft pun tak ketinggalan. Kraft membeli beberapa produsen mayones dan Milani Company pada 1925. Tahun itu menandai awal keterlibatan Kraft dalam bisnis kuah salad. Produk pertamanya, kuah ala Prancis.

Yang paling monumental di antara para petarung mungkin salad Caesar. Salad ini diciptakan oleh Caesare Cardini di restorannya di Tijuana, Meksiko, pada 1920-an. “Kini, Anda hampir tak bisa menemukan restoran Amerika tanpa koki yang tak mengambil salad Caesar,” tulis Alexandra Greeley.

Kini, beragam jenis dan rasa salad bermunculan. Bahan-bahannya pun kian beragam. ia juga bukan sebatas menu tambahan tapi sudah menjadi menu utama di banyak tempat.

Salad bukan hidangan asing bagi lidah orang Indonesia. Salad ala Indonesia bernama gado-gado atau pecel. Bahan dasarnya sama: sayuran. Hanya bumbu atau kuahnya yang berbeda. Di Indonesia, yogurt atau mayones belum lama dikenal. Orang Indonesia lebih akrab dengan bumbu kacang –toh kacang tanah tumbuh di mana-mana. Ia tetap populer sekalipun salad mulai menggoyang lidah orang Indonesia.

Salad sudah jadi menu global. Dengan keunikan geografis dan kultural masing-masing, hampir tak ada masyarakat yang tak punya resep salad. Tobbouleh (Timur Tengah), coleslaw (Denmark), dan moju (Kuba) hanyalah sedikit dari sekian banyak jenis salad. “Seringkali salad mencerminkan sebuah etnis atau kegiatan produksi bahan-bahan lokal yang tersedia di wilayah atau negara tertentu,” tulis Dayle Hayes dan Rachel Laudan.

Meminjam kalimat Martha Margolis dalam "Dinner on the Greens: Salads Become Entrees, dimuat di Tampa Bay Magazine Nov-Dec 2001, "setiap budaya punya salad sendiri."

 
Terpopuler di Historia 
Majalah
Laporan Khusus
Majalah Historia Cetak
berikutnya
 
Nomor 34 Tahun 3
Murba Partai Terakhir Tan Malaka
Pembahasan mengenai Tan Malaka sudah sering dimuat di berbagai media massa. Tak berbilang banyaknya orang membahas bapak republik itu di..
 
Komentar anda
Historia
Historia