Pilih Bahasa: Indonesia

Liur yang Lezat

Berabad-abad orang mengonsumsinya karena yakin akan khasiatnya. Berabad-abad pula si kaya memonopolinya.
Historia
Historia
pengunjung
6.6k

SUATU pagi di Ancol, sekitar tahun 1992. Laurent Manda, perempuan karier yang berdomisili di Jakarta, masih berusia 15 tahun. Bersama keluarganya, dia pergi ke Hailai Restaurant untuk sarapan. Menunya: sebuah hidangan istimewa, yang tak semua orang pernah merasakannya. Porsinya sedikit tapi harganya selangit –Laurent tidak ingat berapa harga seporsi makanannya itu. Namanya sup sarang burung walet.

“Kalau orang Chinese bilang cia po, artinya makanan berisi obat-obatan buat memulihkan tubuh yang kurang sehat,” ujar Laurent kepada Majalah Historia Online (MHO).

Laurent sendiri tak terlalu menyukainya karena, “Agak amis. Rasanya kenyal-kenyal seperti rumput laut.”

Sejak berabad-abad silam, sop burung walet sudah menjadi konsumsi spesial bagi banyak orang, terutama di China. Ia dipercaya memiliki khasiat yang baik bagi kesehatan.

Banyak buku klasik China tentang makanan kesehatan menyebutkan perdagangan sarang walet sudah dimulai sejak Dinasti T’ang (618-907 SM). Beberapa waktu kemudian, di masa Dinasti Ming, pada 1430 kaisar mengirim Zheng He untuk mengembangkan jalur perdagangan ke laut selatan. Dia mengunjungi Filipina, Malaysia, Myanmar, Thailand, Indonesia, dan India dan kembali dengan membawa sejumlah produk. Salah satunya sarang burung walet, yang kemudian menjadi sajian istana. Mengutip seorang profesor biokimia di Chinese University di Hong Kong, Theresa Park dalam “Bird Nest Sopu, Anyone?”, “persediaan sarang walet habis sebelum China mengimpor dari luar negeri.”

“Berdasarkan catatan sekitar tahun 1587, China mengimpor sarang walet dalam jumlah besar dan mengenakan bea impor. Pada 1618, jumlahnya meningkat pesat karena adanya pengurangan bea impor yang diberikan kaisar dari Dinasti Ming. Pada waktu itu, sarang walet diterima dengan baik sebagai makanan berharga oleh penduduk Provinsi Guangdong dan Fujian,” tulis www.birdnestsoups.com.

“Mereka dikonsumsi hanya oleh orang-orang besar, dan sebagian besar dikirim ke ibukota untuk konsumsi istana,” tulis John Crawfurd dalam History of the Indian Archipelago.

Selain mewah, sup sarang walet dipercaya punya khasiat bagi kesehatan. Ini terutama berkat karya dua ahli pengobatan Cina yang terkenal pada masa Dinasti Qing, akhir abad ke-17. Menurut St. Eka Adiwobawa dalam Meningkatkan Kualitas Sarang Walet, manfaat sarang burung walet terdapat dalam Ben Cao Bei Yao (Catatan-catatan Penting tentang Bahan Obat-obatan) karya Wang pada 1694 dan Ben Cao Feng Yuan (Bahan Obat-obatan di Alam Terbuka) karya Zhang pada 1695. Orang China percaya sarang burung walet punya daya penyembuh untuk beragam penyakit seperti TBC, sakit lambung, dan perdarahan paru-paru. Ia juga dianggap mampu meremajakan kulit atau memperlambat proses penuaan.

Orang-orang China menjadi pengonsumsi sarang walet terbesar di dunia. Mereka mengimpornya dari berbagai tempat, terutama dari kepulauan Nusantara. Kualitas sarang waletnya dianggap yang terbaik. Menurut Crawfurd, Jawa, Kepulauan Suluk, Makassar, dan Batavia merupakan pemasok utama kala itu.

“Pada akhir abad ke-17, empat juta sarang walet (senilai 125.000 pounds) melewati pelabuhan Batavia,” tulis Park dalam situswebnya www.theresepark.com.

Kesuksesan dari bisnis walet tergambar pada buku Mayor Jantje: Kisah Tuan Tanah Batavia Abad ke-19 karya Johan Fabricius. Mayor Jantje –nama aslinya Augustin Michele– hidup bergelimang kemewahan dan kesenangan berkat sarang-sarang burung waletnya di Klapanoenggal; sumber hartanya yang tak pernah kering, warisan dari sang ayah.

Burung walet umumnya tinggal dan beranak-pinak di gua-gua dekat laut, jauh dari jangkauan manusia. Untuk mengambilnya, butuh ketrampilan dan pengalaman karena umumnya dilakukan dengan peralatan sederhana. Salah sedikit, nyawa melayang. Mitos Nyi Roro Kidul, penguasa Laut Selatan, kemudian diyakini sebagai pelindung para pencari sarang burung walet yang mempertaruhkan nyawa dengan memanjat tebing-tebing terjal. Di desa Karang Bolong, Kebumen, Jawa Tengah, yang konon sudah terkenal sebagai penghasil sarang walet sejak zaman kerajaan Mataram (Amangkurat II), burung walet dipercaya milik Nyi Roro Kidul. Untuk menghindari petaka, penduduk desa itu melakukan sejumlah ritual sebelum memanen sarang burung walet.

Tapi ada juga walet yang memilih gua-gua pedalaman, termasuk di gua-gua pegunungan kapur. Kini, banyak orang beternak burung walet di rumah kosong berukuran tinggi–tentu harganya tak semahal sarang yang dipanen dari gua-gua.

Kualitas sarang walet ditentukan oleh lingkungan alam dan kondisi gua. Tapi yang terpenting, waktu pengambilan sarang itu sendiri. Sarang terbaik, menurut Crawfurd, adalah yang didapat dari gua lembab yang dalam dan diambil sebelum burung walet bertelur. Sedangkan yang terjelek, setelah walet muda berbulu. Warna sarang terbaik adalah putih, minim warna gelap, tak tercampuri darah dan bulu.

Bisnis sarang walet pernah mengalami masa kegelapan selama rezim Mao Ze Dong (1949-1976). Sup sarang walet dianggap “barang mewah”, memakannya dianggap punya mental borjuis, dan hukum melarang pembelian dan penjualan sarang burung walet. “Pemerintah bahkan mengiizinkan para penjarah untuk membakar dan menghancurkan rumah-rumah (walet) yang tak terhitung jumlahnya,” tulis Theresa Park.

Setelah masa itu, penjualan sarang walet kembali normal. Yang menarik, menurut Park, industri sarang burung tak pernah terancam oleh krisis ekonomi global. Bahkan, selama 30 tahun terakhir, harganya meroket. Pada 1975 per kilogram dijual seharga $ 10,00 di Hong Kong, tapi pada 1995 menjadi $ 400,00, dan pada 2002 menjadi $ 1.600.

Kini, sarang walet dijual di berbagai tempat. Ada yang menjualnya sebagai makanan, ada pula yang menjual untuk obat. Toko-toko obat di pecinan biasa menjualnya, kiloan atau sudah dalam bentuk kemasan. Harganya bervariasi. Untuk kualitas biasa, umumnya Rp 5 juta per kilogram, sedangkan kualitas terbaik bisa mencapai Rp 30 juta rupiah per kilogram.

Di banyak restoran, sarang burung walet biasanya disajikan sebagai sup –dikenal dengan julukan Caviar dari Timur– atau manisan sebagai makanan penutup. Biasanya hanya tersedia di hotel-hotel berbintang lima dan restoran yang menyajikan masakan chinese food. Harga sup bisa mencapai Rp 250.000 per mangkuk.

“Tidak semua orang beruntung bisa makan sarang walet ini karena harganya yang tidak bisa dibilang murah,” ujar Laurent menirukan ucapan mamanya ketika mereka mencicipi masakan ini.

Tapi mungkin sebaiknya begitu. Sejumlah ilmuwan mulai kuatir akan kepunahannya. Berapa lama walet bisa bertahan sementara sarang mereka terus dicuri dan dirusak? Ketika sarang mereka dicuri, walet akan membangunnya kembali hanya untuk kehilangan lagi. Mereka juga mulai meninggalkan dinding di beberapa gua. Regenerasi walet juga terputus, karena pencuri berharap memperoleh sarang berkualitas terbaik, yang hanya mungkin diperoleh ketika walet belum bertelur.

Kang Nee, ahli zoologi National University of Singapore, sebagaimana dikutip Park, mengatakan bahwa siklus panen walet harus selaras dengan pola perkembangbiakkannya sebelum mereka menjadi punah. Sampai hal ini dilakukan, jumlah walet akan menyusut cepat, sedangkan harga sarangnya akan terus melonjak.

 
Terpopuler di Historia 
Majalah
Laporan Khusus
Majalah Historia Cetak
berikutnya
 
Nomor 34 Tahun 3
Murba Partai Terakhir Tan Malaka
Pembahasan mengenai Tan Malaka sudah sering dimuat di berbagai media massa. Tak berbilang banyaknya orang membahas bapak republik itu di..
 
Komentar anda
Historia
Historia