Pilih Bahasa: Indonesia
halaman 1

Menyusuri Jejak Trem

Surabaya akan menghidupkan kembali trem. Bagaimana kisah moda transportasi itu dulu beroperasi?
 
Trem di Batavia.
Historia
pengunjung
4.2k

Bila Jakarta menjatuhkan pilihan moda transportasi massalnya pada Mass Rapid Transit (MRT), Surabaya memilih menghidupkan kembali trem. Rencana itu kembali dikemukakan Walikota Tri Rismaharini akhir tahun lalu. Pemerintah Kota Surabaya bersama Kementerian Perhubungan dan PT Kereta Api Indonesia akan mewujudkan jalur sepanjang 17 kilometer itu. Sebagai solusi mengatasi kemacetan, trem lebih murah ketimbang membeli banyak bus. Trem juga lebih aman untuk penyandang disabilitas.

Keberadaan trem di Hindia Belanda berawal di pengujung abad ke-19. Pemerintah Hindia Belanda memberikan konsesi kepada beberapa perusahaan untuk membangun dan mengoperasionalkan trem pada 6 Desember 1867. Perusahaan Dummler & Co. yang lebih dikenal dengan Bataviasche Tramweg Maatshappij (BTM) –kemudian berubah menjadi Nederlandsch Indische Tramweg Maatschappij (NITM)– mendapatkan konsesi itu untuk mengoperasikan trem di Batavia yang menghubungkan Kota-Meester Cornelis (Jatinegara).

Pemerintah juga mengizinkan pembangunan dan operasional trem di Semarang pada 1879 dan Surabaya pada 1889. Setelah Solo dan Cirebon, menyusul kemudian Deli di Sumatra Timur.

Tiga sampai empat kuda saban hari menjadi lokomotif yang menarik gerbong-gerbong untuk mengantarkan penumpang. Mulut kuda-kuda itu dipasangi besi melintang yang kedua ujungnya dihubungkan dengan tali kendali, sehingga kemudian menimbulkan istilah “zaman kuda gigit besi.” Pada 1881, trem kuda digantikan trem uap.

“Pemerintah kota kala itu direpotkan oleh kuda-kuda yang buang air dan kencing di jalan-jalan yang dilaluinya. Selain itu juga banyak kuda yang pingsan dan kemudian mati kelelahan karena mengangkut puluhan penumpang dengan gerbong,” tulis Alwi Shahab dalam Saudagar Baghdad dari Betawi.

Menurut SA Reitsma dalam “Over de Bataviasche Stadstram,” Tropisch Nederland, 27 November 1933, sedikitnya 545 kuda mati pada 1872.

Dengan teknologi lebih baru itu, jam operasional trem menjadi lebih lama, dari pukul 6 pagi hingga pukul 19.00. Dutch East Indian Steamtram Company kelanjutan dari NITM, selaku operator juga terus menambah lin, seperti Harmonie-Tanah Abang. “Dalam tahun 1909, jalur trem di kota itu (Batavia) sudah sepanjang 14 kilometer,” tulis Rudolf Mrazek dalam Engineers of Happy Land.

Tetap saja, trem uap bukan tanpa masalah. Kecelakaan lebih banyak terjadi. Maka, ketika lokomotif yang memiliki mesin penghasil uap sendiri muncul, lokomotif uap lama tersingkir. “Sistem ini (trem uap lama, red.) tak sempurna, karena trem sering mogok kehabisan uap di tengah jalan, terutama pada jalan-jalan yang agak mendaki,” tulis Star Weekly, 29 Maret 1960.

Namun, trem uap tetap eksis. Ia beriringan dengan trem listrik yang mulai dioperasikan oleh Batavia Electrische Tram Maatschappij (BETM) pada 1899. Trem uap kembali mendominasi ketika BETM menghentikan operasional trem listrik karena tak menguntungkan.

 
Terpopuler di Historia 
Komentar anda
Majalah
Segera Terbit
 
Nomor 37 Tahun IV
Riwayat Syariat di Nusantara
Seiring berkembangnya komunitas muslim di Nusantara sebagai dampak arus perdagangan pada abad ke-13, jejak-jejak penerapan hukum Islam mulai bisa terlacak...
 
Trem di Batavia.
Trem di Batavia.