Pilih Bahasa: Indonesia
halaman 1

Mengatasi Kisruh Taksi

Sejak kemunculannya, taksi yang terdaftar harus bersaing melawan taksi gelap. Bagaimana pemerintah mengatasinya?
Ribuan pengendara taksi berunjuk rasa menuntut taksi online dibubarkan.
Foto
Historia
pengunjung
979

Ribuan sopir taksi konvensional dan angkutan umum menggelar unjuk rasa besar-besaran di Jakarta belum lama ini. Mereka menuntut pemerintah menutup layanan angkutan berbasis daring (online) dengan alasan “liar” alias ilegal karena tak memenuhi regulasi transportasi. Unjuk rasa serupa digelar di beberapa daerah.

Danang Parikesit, guru besar Transportasi Universitas Gadjah Mada yang juga ketua Masyarakat Transportasi Indonesia, melihat adanya kompetisi yang hilang. Layanan baru berbasis daring seolah dipaksakan ikut dalam regulasi yang sudah ada.

“Ini beda struktur, tarif; model bisnisnya juga beda,” ujarnya kepada Historia.

Taksi berplat kuning memang lebih terkena beban biaya akibat regulasi pemerintah. Dari seragam supir, database supir, sertifikasi supir, pangkalan taksi, pemeliharaan, uji layak kendaraan (KIR), hingga kewajiban pajak. Ini pula yang jadi alasan tarifnya menjadi lebih mahal dibandingkan “taksi” berplat hitam.

Banyak penumpang lalu pindah ke layanan aplikasi. Tarifnya lebih murah dan pelayanannya lebih baik. Gengisnya pun meningkat; serasa naik mobil pribadi. Akibatnya, sopir taksi konvensional mengeluhkan penghasilannya yang berkurang.

“Tapi siapa tahu nanti menjadi lebih murah dengan masuknya pesaing baru. Ingat nggak dulu ketika operator-operator seluler semakin banyak, tarifnya kan juga jadi semakin turun,” kata Danang.

 
Terpopuler di Historia 
Komentar anda
Majalah
Laporan Khusus
Majalah Historia Cetak
berikutnya
 
Nomor 36 Tahun III
Masa Lalu Partai NU
Salah satu organisasi muslim terbesar di negeri ini yang menjadi rebutan untuk mendulang suara pemilih muslim adalah Nahdlatul Ulama (NU)...
 
Ribuan pengendara taksi berunjuk rasa menuntut taksi online dibubarkan.
Foto
Ribuan pengendara taksi berunjuk rasa menuntut taksi online dibubarkan.
Foto