Pilih Bahasa: Indonesia
Rumah susun (5)

Hidup di Rumah Susun

Warga menolak tinggal di rumah susun karena belum terbiasa dan biaya. Rusun pun dimiliki orang luar untuk dihuni atau disewakan.
 
Gedung serba guna Perhimpunan Penghuni Rumah Susun Kebon Kacang, Tanah Abang, Jakarta Pusat.
Foto
Historia
pengunjung
887

PEMBANGUNAN rusun oleh Perumnas bertapak awal di Kebon Kacang IX pada 1981. Rusun ini berdiri di pusat kota dengan kemudahan akses dan limpahan fasilitas. Mulai transportasi bus, kereta, listrik, air dari Perusahaan Daerah Air Minum, gas dari Perusahaan Gas Negara, dan lapangan olahraga. Harga jual tiap unit berkisar Rp4.500.000-Rp6.000.000, tergantung lantainya. “Penghuni boleh mencicil sebesar 30 ribuan selama 20 tahun,” kata Satya Putra, penghuni awal rusun.

Prioritas penghuni rusun berasal dari warga Kebon Kacang. Masalahnya, warga Kebon Kacang merasa cicilan ini masih sangat tinggi. Sebagian besar mereka hanya berpenghasilan Rp20.000-30.000 per bulan.

Sepi peminat dari warga sekitar, Perumnas membuka kesempatan warga lain untuk menghuni rusun. Satya Putra tertarik tinggal di rusun. dia menilai harga rusun pas dengan koceknya. Sebelum menghuni rusun, dia tinggal bersama omnya. “Tapi saya kan juga berpikir masa depan. Kalau punya anak dan istri, bagaimana? Harus punya rumah. Tadinya mau rumah tapak saja. Akhirnya di sini. Saya tak menduga,” cerita Satya.

Awal hidup di rusun, Satya mengaku harus menyesuaikan diri. “Belum terbiasa. Harus naik-turun tangga. Tapi lama-lama, ya, biasa,” ungkap Satya.

Ani Usman, penghuni lain, juga berpendapat serupa. Menurut Ani, penghuni rusun cepat belajar mengubah kebiasaan. Dari penggunaan gas PGN sampai membuang sampah. “Tak ada kesulitan menyesuiakan diri, walau suasana jauh berbeda dengan rumah kontrakan,” kata Ani kepada Kompas, 14 Juli 1981.

Terhadap warga sekitar, penghuni rusun juga tak menutup diri. Mereka tetap bersosialisasi. Perumnas merancang rusun tanpa pagar tinggi. Warga sekitar bebas masuk ke lingkungan rusun. “Flat merupakan hal yang baru. Jadi menarik mereka. Bila telah terbiasa, tentu mereka tak datang lagi,” kata Kristianto, staf Pembina Perumnas kepada Kompas.

Melihat kehidupan penghuni rusun Kebon Kacang berlangsung harmonis, pemerintah pusat meneruskan pembangunan rusun lain. Rusun kedua Perumnas berdiri pada April 1982 di Kebon Kacang XI. Berbeda dari rusun pertama, rusun ini bertujuan memperbaiki kampung kumuh.

Kebon Kacang terkenal sebagai wilayah terpadat dan terkumuh di ibukota. Padahal jaraknya hanya beberapa puluh meter dari gedung-gedung pencakar langit di Jalan Thamrin. Cosmas Batubara merisaukan keadaan kampung. Maka dia meminta warga menjual tanahnya pada pemerintah. Kompensasinya, warga boleh tinggal di rusun. Cosmas berharap warga kampung kumuh bersedia pindah ke rusun.

Tanggapan warga jauh dari harapan Cosmas. Warga berat hati tinggal di rusun. Alasannya lagi-lagi dua hal: belum terbiasa dan biaya. Alhasil penghuni rusun lebih banyak warga di luar Kebon Kacang. “Menurut Direktur Utama Perumnas, Suwarno Prawirasumantri, hanya sekitar 30% flat Kebon Kacang dihuni kembali oleh penghuni lama,” tulis Prisma, No 5, 1986, dalam “Laporan Khusus: Tempat Tinggal untuk yang Tak Punya Rumah”.

Lea Jellinek, antropolog, mengungkap pembangunan rusun di Kebon Kacang XI mengubah wajah kampung. “Perkampungan warga tersapu dan rusun berdiri,” tulis Lea dalam Seperti Roda Berputar. Warga kampung pun memilih pergi ke tempat lain. Sebuah komunitas hilang, berganti komunitas baru. Tak heran banyak intelektual menduga pembangunan rusun sebagai penggusuran terselubung.

Di luar Jakarta, penerimaan warga terhadap rusun sangat bervariasi. Hingga 1985, rusun di Medan dan Palembang kurang laku. “…Disebabkan terlalu besarnya unit rumah yang dibangun dibandingkan dengan kemungkinan jumlah permintaan masyarakat setempat,” tulis Prisma. Di Surabaya, minat warga juga rendah. Sedangkan warga Bandung cukup berterima pada rusun.

Pemerintah pusat berkesimpulan program rusun harus berlanjut. Untuk memperkuat program rusun, pemerintah mengeluarkan UU Rumah Susun No 16 Tahun 1985. Isi pokoknya mengatur penggunaan tanah dalam kompleks rusun, masa berlaku Hak Guna Bangunan (HGB), status hak milik rusun, dan pembayaran.

Dua tahun kemudian, pemerintah pusat berusaha menjawab kritik terhadap pembangunan rusun. Menggandeng pemerintah daerah Jakarta, mereka membangun rusun sewa di Angke, Jakarta Barat. Warga hanya boleh menyewa, tidak perlu sampai memiliki rusun.

Memasuki dekade 1990-an, konsep rusun berkembang lagi. Muncul rusun sederhana sewa. Konsepnya sama seperti rusun sebelumnya. Tapi harganya lebih murah. Ini berakibat pada kualitas rusun. Penyewa sering mengeluh pada fasilitas dan kualitas bangunan. Belum lagi soal pembelian rusun sewa secara tidak sah oleh beberapa orang untuk disewakan kembali. Kritik pun berdatangan lagi.

Pemerintah lalu menggulirkan lagi konsep baru: rusun sederhana hak milik. Konsep ini pun bermasalah. Karena murah, banyak orang mampu membeli rusun dan menjualnya lagi demi keuntungan lebih. Bahkan sampai berani menyewakannya.

Banyak pihak menilai UU Rusun No 16 Tahun 1985 tak mampu lagi menjawab permasalahan rusun. Mereka mendesak pemerintah memperbaharui UU Rusun. Pemerintah mengabulkan permintaan mereka. Lahirlah UU Rusun No 20 Tahun 2011. Tapi sejumlah pihak kurang puas dengan UU ini. Mereka menilai UU belum mengatur rusun komersial dan rusun untuk masyarakat berpenghasilan rendah.

Di tengah sengkarut rumit rusun, ratusan ribu orang masih hidup tanpa rumah. Sementara yang sudah punya rusun pun tak lepas dari masalah. Seperti para penghuni rusun Kebon Kacang IX. HGB rusun mereka habis.

Sesuai undang-undang, HGB bisa berlaku lagi hingga 20 tahun. Hingga saat ini tak ada keputusan apapun mengenai HGB. Satya Putra berharap pemerintah segera mengeluarkan keputusan HGB rusun Kebon Kacang IX.

Kini sekeliling rusun Kebon Kacang IX bukan lagi perkampungan kumuh, melainkan rimba beton apartemen kelas atas, hotel bintang lima, dan perkantoran luks. Ini lahan bisnis. Segala hal sangat mungkin terjadi. Dan sampai menunggu hari-hari keluarnya HGB baru, Satya dan penghuni rusun lainnya tetap mengisi hari dengan keguyuban. Mereka sudah kerasan tinggal di rusun.

 
Terpopuler di Historia 
Komentar anda
Majalah
Segera Terbit
 
Nomor 37 Tahun IV
Riwayat Syariat di Nusantara
Seiring berkembangnya komunitas muslim di Nusantara sebagai dampak arus perdagangan pada abad ke-13, jejak-jejak penerapan hukum Islam mulai bisa terlacak...
 
Gedung serba guna Perhimpunan Penghuni Rumah Susun Kebon Kacang, Tanah Abang, Jakarta Pusat.
Foto
Gedung serba guna Perhimpunan Penghuni Rumah Susun Kebon Kacang, Tanah Abang, Jakarta Pusat.
Foto