Pilih Bahasa: Indonesia
Benteng Rotterdam

Embrio Kota Makassar

Makassar adalah kota kolonial yang terbentuk dan tumbuh di sekitar Benteng Rotterdam.
Sisi belakang Benteng Rotterdam, terlihat rumah peduduk menempel dengan tembok benteng.
Foto
Historia
pengunjung
3k

DI RUANG informasi Benteng Rotterdam, terpajangbeberapa foto masa lalu. Satu diantaranya memperlihatkan gerbang utama benteng yang memiliki tiga lapis. Di foto lain memperlihatkan sebuah gerbang kecil, dimana ada iring-iringanpasukan menyeberangi jembatan kecil.

“Dulu memang ada dua gerbang di benteng (Rotterdam). Tapi yang satunya sudah tertutup,” kata Chalid AS, staf peneliti di Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Sulawesi Selatan.

Gerbang kedua itu berada di bagian belakang, tidak begitu besar dan lebarnya hanya sekitar 3 meter. Langit-langitnya melengkung. Bagian atasnya adalah sebuah bangunan. Menelusurinyaserupa masuk lorong kecil. Bekas gerbang itu dipenuhi barang rongsokan; ada lemari reot, meja rusak dan beberapa tumpukan kayu.

Dari bagian depan lorong kecil menuju gerbang, tak ada papan informasi. Sering kali ketika berkunjung ke Benteng Rotterdam, terlihat beberapa pengunjung hanya meliriknyasepintas. Menoleh sedikit dan berlalu –jalannya gelap.

Benteng Rotterdam sering pula disebut Benteng Ujung Pandang –ada juga yang menyebutnya Benteng Penyu dan sebutan lainnya Kota Tua. Penyebutan Benteng Penyu (Panynyua) bagi masyarakat Bugis dan Makassar karena benteng ini saat dilihat dari atas mirip penyu yang merayap menuju laut.

Denah Benteng Rotterdam 1767 memperlihatkannya. Benteng ini rupanya memiliki enam bastion (pos penjagaan). Namun saat ini, hanya ada lima bastion yang bertahan. Bastion ke enam yang berada di belakang benteng telah runtuh, begitu pula gerbangnya yang sudah tetutup. Di batasi tembok rumah dan permukiman.

MenurutDias Pradadimara,sejarawan Universitas Hasanuddin Makassar, dalam “Penduduk Kota, Warga Kota, dan Sejarah Kota: Kisah Makassar”yang disampaikan dalamInternational Conference on Urban History di Surabaya tahun 2004, Makassar adalah kota kolonial yang terbentuk dan tumbuh di sekitar Benteng Rotterdam mulai akhir abad ke-17.

Tumbuhnya permukiman di sekitar Benteng Rotterdam, kata Dias, menandakan adanya keterputusan historis dengan Benteng Somba Opu yang terletak di sebelah selatannya –yang pernah menjadi pusat perdagangan di bawah kontrol kerajaan Gowa. “Dengan kata lain, kota Makassar adalah kota kolonial yang lahir bersamaan dengan hadirnya sumber kekuasaan baru,” tulisnya.

Penguasaan dan pendudukan atas Benteng Rotterdam terjadi ketika persekutuan dua kerajaan Gowa-Tallo ditaklukkan oleh Belanda tahun 1667. Belanda melalui kongsi dagang VOC melahirkan Perjanjian Bongaya dimana semua benteng pertahanan harus dihancurkan, kecuali Benteng Ujung Pandang (Benteng Rotterdam).

Perubahaan nama benteng ini dilakukan oleh Laksamana Cornelis Speelman yang memimpin ekspedisi penyerangan. Benteng Rotterdam disesuaikan dengan kota kelahiran sang laksamana.

Benteng ini dibangun pertama kali tahun 1545 di masa Raja Gowa X, I Manrigau Daeng Bonto Karaeng Lakiung dengan gelarnya Karaeng Tunipallangga Ulaweng. Struktur benteng pada awalnya berupa gundukan tanah dan kemudian menggunakan struktur batu bata.

Pada masa lalu, kerajaan Gowa-Tallo menyiapkan beberapa pertahanan untuk mempertahankan pusat pemerintahan di Somba Opu. Benteng-benteng itu berderet di sepanjang pesisir pantai. Dari mulai pesisir utara, berturut-turut Benteng Tallo, Benteng Ujung Tana, Benteng Ujung Pandang (Benteng Rotterdam), Benteng Mariso, Benteng Somba Opu (sebagai pusat pemerintahan Gowa-Tallo), Benteng Garassi, Benteng Pana’kukang, Benteng Barombong, hingga Sanrobone.

Iswadi Makkaraka, staf penelitiBadanBPCB Sulawesi Selatan mengatakan, keberadaan Benteng Rotterdam di lahan sekitar 2,9 ha tidak hanya melanggengkan sejarah pendudukan kolonialisme di Makassar. Tapi di sisi lain, benteng tersebut menjadi saksi dan cikal-bakal pertumbuhan kota Makassar yang dikenal saat ini.

Ketika penaklukkan Gowa-Tallo tahun 1667, pemerintah kolonial membangun benteng dengan menggunakan struktur batu padas yang kuat. Konsepnya menjadi benteng pertahanan karena pada masa itu selalu terjadi riak dan pemberontakan. Selain itu, dalam kawasan benteng dibangun puluhan gedung (15 bangunan) termasuk gereja, kantor gubernur jenderal, hingga wisma prajurit. “Semua aktivitas pemerintahan berjalan dalam benteng ini. Saya kira inilah embrio kota,” kata Iswadi.

Di samping benteng terdapat sebuah sungai (Makassar river) yang menghubungkannya ke Benteng Vredenburg –sekarang menjadi kantor BNI di Jalan Jenderal Sudirman. Di sisi sungai bersisihan dengan Benteng Rotterdam terdapat sebuah kanal yang mengelilinginya. Dari aliran kanal itulah –dalam sebuah foto tahun 1915– sebuah jembatan melintang di gerbang belakang benteng.

Kapan gerbang dan jembatan itu menghilang? Tak ada catatan yang pasti. Namun, ketika Belanda meninggalkan Makassar, benteng kemudian menjadi Kantor Pusat Penelitian dan Bahasa di masa pendudukan Jepang. Kemudian menjadi markas Tentara Kerajaan Hindia Belanda (KNIL) pascaproklamasi hingga 1950. Tahun berikutnya menjadi permukiman. Baru kemudian pada 1970 diserahkan pada Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Kini embrio kota Makassar itu semakin menyempit. Pemugaran yang dilakukan untuk menunjukkan kembali kanal di sebelah selatan benteng hanyalah sebagian. Bagian belakang yang menghubungkannya dengan pusat kotaterhalang permukiman, kantor pos, dan deretan kantor bank.

 
Terpopuler di Historia 
Komentar anda
Majalah
Laporan Khusus
Majalah Historia Cetak
berikutnya
 
Nomor 33 Tahun 3
Kejahatan Perang Belanda
Kisah ini kami hadirkan bukan untuk mengaburkan batas sikap tentang apa makna menjajah dan dijajah. Kami ingin membahas apa yang..
 
Sisi belakang Benteng Rotterdam, terlihat rumah peduduk menempel dengan tembok benteng.
Foto
Sisi belakang Benteng Rotterdam, terlihat rumah peduduk menempel dengan tembok benteng.
Foto