Pilih Bahasa: Indonesia

Cerita Pahit Mobil Rakyat Mazda MR 90

Niat hati menggantikan Kijang sebagai mobil rakyat. Mazda MR 90 malah lebih mahal dari Kijang, meski didukung Presiden Soeharto.
 
Soebronto Laras mengontrol pabrik mobil pada 1986.
Foto
Historia
pengunjung
13.3k

Soebronto Laras, bos PT Indomobil, ingin mengubah visi mobil rakyat dari berbentuk Kijang (Kerjasama Indonesia-Jepang) menjadi sedan. Sebab, konotasi Kijang dan Suzuki Carry adalah mobil niaga atau mobil barang yang dijadikan mobil penumpang.

“Obsesi saya adalah membuat mobil rakyat atau yang saya sebut Mobira,” kata Soebronto dalam memoarnya, Meretas Dunia Otomotif Indonesia.

Soebronto menggandeng Mazda agar mau menjadi pioner membuat sedan di Indonesia. Selama ini semua sedan yang masuk cuma dirakit dan terkena bea masuk yang sangat tinggi. Sementara itu, Kijang dan Suzuki Carry dibebaskan dari pajak dan bea masuk. Untuk menghindari bea masuk, komponen-komponennya akan dibuat di Indonesia. Mazda setuju namun tidak bisa membuat model sedan baru. Sehingga dipilih model Mazda 323 Familia yang diproduksi pada 1978 sampai 1980.

Mazda Motor Corporation, Indomobil, dan Sumitomo Trading Corporation bermitra mendirikan PT Mazda Indonesia Manufacturing (MIM). Peralatan dan segala macam teknisnya disediakan Mazda, sementara lokasi manufaktur disediakan Indomobil di kawasan Tambun, Kabupaten Bekasi. Pada 1 Agustus 1989, peletakan batu pertama pembangunan pabrik PT MIM dihadiri Dirjen Industri Mesin, Logam Dasar dan Elektronika Departemen Perindustrian Soeparno Prawiroadiredjo dan Bupati Bekasi Suko Martono.

Pembangunan pabrik direncanakan selesai pada April 1990 dengan investasi keseluruhan sebesar Rp60 miliar. Ditargetkan pada Juni atau Juli 1990, setelah trial run (pengujian), Mobira Mazda dapat diproduksi massal. Mantan pembalap nasional, Benny Hidayat, jadi instruktur trial run mobil rakyat itu.

Ngetes mobil rakyat itu beberapa kali bolak-balik Jakarta-Bandung nonstop, tidak boleh berhenti. Berhenti sebentar hanya untuk ganti sopir. Tidak hanya membawa muatan orang, tapi juga bawa muatan karung dan timah supaya tidak oleng,” kata Benny kepada Historia.

Selesai pengujian yang terbilang sukses, Soebronto menamakan mobil rakyat itu MR 90. “Ketika mengambil nama itu, saya memikirkan bahwa mobil-mobil sedan itu nantinya akan menjadi mobil rakyat tahun ‘90-an karena saat itu kita sudah masuk ‘90-an,” kata Soebronto.

Soebronto didampingi Menteri Muda Perindustrian, Tungky Ariwibowo, memperlihatkan prototipe MR 90 kepada Presiden Soeharto. “Wah, ini bagus untuk dikembangkan,” kata Soeharto.

Soebronto menyampaikan karena MR 90 jenis sedan maka akan terkena pajak penjualan barang mewah 30%. Soeharto menyuruh Tungky untuk membicarakan dengan menteri keuangan agar pajak penjualan dapat dihapuskan supaya harganya bisa lebih murah lagi.

“Saya menyimpulkan bahwa Pak Harto senang dengan adanya prototipe sedan itu,” kata Soebronto.

Akhirnya, PT MIM memproduksi massal sedan MR 90. Menjelang peluncuran, Soebronto didampingi Presiden Direktur Mazda yang datang khusus dari Jepang, menyerahkan lima mobil MR 90 produksi pertama kepada Soeharto dalam suatu upacara di Bina Graha.

Namun, Soebronto benar-benar kaget ketika permintaan bebas pajak penjualan yang diajukan ditolak menteri keuangan. Alasannya “mobil itu sedan dan tidak bisa membicarakan lokalisasi karena belum ada peraturan mobil nasional. Sehingga PPN BM-nya adalah 30%.”

“Saya seperti dihantam. Mati saya!” kata Soebronto.

Niat Soebronto menjadikan MR 90 sebagai mobil rakyat gagal. Terkena pajak PPN BM 30% membuat harga MR 90 lebih mahal dari Kijang.

“Saya pikir dapat dukungan orang nomor satu, tidak ada yang berani bagaimana-bagaimana. Tapi peraturan sudah baku. Obsesi kami menjual mobil murah tidak terwujud. Bayangkan waktu itu kami harus menjual Rp22 juta, sementara Kijang cuma Rp18 juta, jadi beda Rp4 juta sama Kijang. Gagallah kita,” kata Soebronto.

“Kalau tidak kena pajak, mungkin harga MR 90 cuma sekitar Rp12 juta,” kata Benny Hidayat.

Mazda MR 90 bermesin 1.300 cc tak laku di pasaran. Target 1.000 unit per bulan tidak tercapai, hanya 150-300 unit. Mobil banyak yang rusak karena menumpuk di gudang. Akibatnya, PT MIM bangkrut. Semua mesin dilelang dan lahan serta pabriknya dibeli Suzuki. Soebronto memindahkan sebagian karyawannya ke Suzuki.

“Peristiwa itu menjadi pengalaman yang sangat pahit buat saya, apalagi enam tahun kemudian lahir mobil nasional yang dilindungi SK (Surat Keputusan) Presiden Soeharto dan dihapuskan dari semua kewajiban pajak dan sebagainya,” kata Soebronto.

Mobil nasional itu adalah Timor milik Tommy Soeharto, putra Presiden Soeharto. (Baca: Kisah Mobil Timor)

 
Terpopuler di Historia 
Komentar anda
Majalah
Segera Terbit
 
Nomor 37 Tahun IV
Riwayat Syariat di Nusantara
Seiring berkembangnya komunitas muslim di Nusantara sebagai dampak arus perdagangan pada abad ke-13, jejak-jejak penerapan hukum Islam mulai bisa terlacak...
 
Soebronto Laras mengontrol pabrik mobil pada 1986.
Foto
Soebronto Laras mengontrol pabrik mobil pada 1986.
Foto