top of page

Enam Moda Angkutan di Jakarta yang Tinggal Kenangan

Semua moda transportasi di ibukota punya masa keemasannya masing-masing. Perlahan meredup tergantikan generasi baru.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Dari kiri atas searah jarum jam: Delman, Miniatur Trem, Oplet, Helicak, Bus Tingkat dan Bemo. Foto: Wikimedia, Dok. Pribadi, mfnl.nl, busesworldwide.org.

  • 23 Jan 2018
  • 4 menit membaca

Diperbarui: 28 Jul

Abang becak, abang becak di tengah jalan

Cari muatan untuk mencari makan

Putar-puter, putar-puter kaki mengayuh

Pergi jauh keringat pun lalu jatuh...


Sebait lirik lagu Abang Becak yang dipopulerkan Iin dan Bimbo di atas, mengingatkan kita kepada becak sebagai angkutan umum yang melintas zaman, tak hanya di ibukota tapi juga di berbagai daerah di Indonesia. Belakangan, muncul wacana untuk menghidupkan lagi becak yang selama ini termarjinalkan, khususnya di Jakarta.


Sebagaimana diketahui, kemunculan becak mulai marak sejak 1936. Namun, pada medio 1970, angkutan beroda tiga yang digerakkan dengan tenaga manusia ini mulai dilarang beroperasi ibukota oleh Gubernur Ali Sadikin.


Bukan hanya becak yang sempat marak namun perlahan menghilang. Enam moda angkutan ini juga tinggal kenangan.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Maria Ullfah suffered a series of losses during her life. She lost four of her loved ones in a very short time.
bg-gray.jpg
Sebagai pegawai kereta api, masa depan Semaoen terjamin. Namun, dia memilih terjun ke pergerakan karena melihat ketidakadilan yang dialami rakyat jajahan.
bg-gray.jpg
Maria Ullfah’s first marriage ended in tragedy. Her husband was shot and killed by Dutch soldiers. Her second spring of love unfolded with Soebadio Sastrosatomo.
bg-gray.jpg
Captain Drury, a veteran of the Java Invasion, is the only British person buried in the old Dutch cemetery at the Bogor Botanical Gardens.
transparant.png
bottom of page