Pilih Bahasa: Indonesia
halaman 1

Menengok Kisah Masa Kecil Sukarno dan Soeharto

Dua tokoh dengan pengalaman dan cara pemaknaan masa kecil yang berbeda.
Sukarno dan Soeharto.
Historia
pengunjung
38.8k

SELALU menarik untuk melihat bagaimana pengalaman masa kecil seorang tokoh, terutama ketika dia kelak menjelma menjadi seorang pemimpin bangsanya. Pada otobiografinya masing-masing, Sukarno dan Soeharto, pernah merefleksikan masa kecilnya dan memaknainya sendiri-sendiri.

Sukarno dalam Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia mengisahkan masa kecilnya yang lekat dengan ibunya, Ida Ayu Nyoman Rai. Sosok ibu begitu kuat mempengaruhi pembentukan sikap masa kanak-kanaknya.

“...Aku tidak punya apa-apa di dunia ini selain daripada ibu, aku melekat kepadanya karena ia adalah satu-satunya sumber pelepas kepuasan hatiku,” kenang Sukarno dalam otobiografinya.

Sebagai anak yang hidup di kota kecil seperti Blitar, hiburan satu-satunya baginya adalah dongeng sang ibu tentang kepahlawanan leluhurnya melawan penjajahan Belanda.

“Ibu selalu menceritakan kisah-kisah kepahlawanan. Kalau ibu sudah mulai bercerita, aku lalu duduk di dekat kakinya dan dengan haus meneguk kisah-kisah yang menarik tentang pejuang-pejuang kemerdekaan dalam keluarga kami,” kata Sukarno.

Ida Ayu Nyoman Rai ibu kandung Sukarno adalah perempuan asal Bali. Dia bertemu jodoh dengan seorang pria Jawa, Raden Soekemi Sosrodihardjo (versi lain menyebut namanya Soekeni), ketika Soekemi bertugas sebagai guru di Singaraja. Dari pernikahan mereka lahir dua anak: Sukarmini dan Sukarno.

Sebagai guru, Soekemi selalu menyempatkan diri untuk mendidik Sukarno di rumahnya. Menurut Sukarno, ayahnya adalah guru yang keras yang selalu mengajarinya membaca dan menulis tanpa kenal lelah walau berjam-jam lamanya. “Hayo, Karno, hafal ini di luar kepala: Ha-Na-Ca-Ra-Ka....hayo, Karno, hafal ini: A-B-C-D-E... dan terus menerus sampai kepalaku yang malang ini merasa sakit,” kenang Sukarno.

Tak kalah menariknya adalah cara Sukarno merefleksikan siapa dirinya: sebagai seorang anak bangsawan yang terpanggil untuk memimpin rakyatnya. “Ibuku, Idayu, asalnya dari keturunan bangsawan. Bapak asalnya dari keturunan Sultan Kediri...merupakan suatu kebetulan ataupun suatu takdir padaku bahwa aku dilahirkan dalam lingkungan kelas yang berkuasa...pengabdianku untuk kemerdekaan rakyatku bukan suatu keputusan yang tiba-tiba. Aku mewarisinya,” ujar Sukarno.

Sementara itu Soeharto punya cara berbeda dari Sukarno dalam merefleksikan masa kecilnya. Misalnya dalam soal status sosial keluarganya. Kendati Sukirah, ibu kandungnya, masih ada hubungan dengan keraton Yogyakarta, Soeharto enggan menyebut dirinya sebagai priayi, bahkan menganggap pangilan “den”, kependekan dari kata “raden”, sebagai sebuah penghinaan.

“Saya ingat terus kepada seseorang yang jelek rupanya, merongos dan mengece, mencemooh saya.... ia mengajak teman-teman lain agar mengece (mengejek, red.) saya dengan sebutan den bagus tahi mabul (tahi kering, red.)...mengapa saya anak orang melarat dipanggil-panggil Den,” kenang Soeharto dalam otobiografinya, Soeharto: Pikiran, Ucapan dan Tindakan Saya.

 
Terpopuler di Historia 
Komentar anda
Majalah
Laporan Khusus
Majalah Historia Cetak
berikutnya
 
Nomor 34 Tahun 3
Murba Partai Terakhir Tan Malaka
Pembahasan mengenai Tan Malaka sudah sering dimuat di berbagai media massa. Tak berbilang banyaknya orang membahas bapak republik itu di..
 
Terpopuler
6
Catatan dari Berlin (1) | Kabar Pilu dari Kamp Sachsenhausen
7
Surat-Surat dari Den Haag (5) | Tentang Sebuah Kesadaran
8
Surat-surat dari Hamburg (1) | Setengah Merdeka
Sukarno dan Soeharto.
Sukarno dan Soeharto.