Pilih Bahasa: Indonesia
Surat dari Berlin

Habib Jerman Merayakan Natal

Populasi muslim di Eropa diperkirakan meningkat tiga kali lipat pada 2050. Sekalipun larangan masuk bagi imigran Timur Tengah diberlakukan.
 
Masjid di Wunsdorf (Zossen), 20 km dari Berlin, Jerman. Dibangun sekitar tahun 1915 dan hancur sekitar tahun 1930.
Foto
Historia
pengunjung
2.3k

SEBELUM saya tahu namanya Tobias Bohmann, dia terlebih dahulu menyapa karena mengenali bahasa Indonesia yang saya gunakan. Ini terjadi malam Natal yang lalu, dalam sebuah perjalanan kereta Hamburg ke Berlin.

“Anda dari Indonesia?” tanya dia.

Saya lekas mengangguk, sigap membenarkan. Lantas dia lanjut mengenalkan diri lebih jauh: lelaki kelahiran Jerman, bertemu jodoh seorang perempuan Medan di Hamburg, punya dua anak dari perkawinan tersebut dan kini mereka menetap di London, Inggris.

“Alhamdulillah saya muslim,” kata dia.

Saya biarkan dia bercerita, seperti seorang sahabat lama yang baru saja bertemu. Medan tampak membuatnya gembira. Dia berkisah tentang makanan yang berbumbu rempah, ikan teri Medan dan durian Ucok. “Saya hanya sanggup mencicipi sedikit,” ujarnya sebagai mengimpitkan ujung jari telunjuk dengan jempolnya.

Giliran saya bertanya, bagaimana dia memeluk agama Islam. Bukan apa-apa, di negeri yang kian banyak orang tak beragama, menarik pula untuk mendengar seorang pria Jerman mengungkapkan pengalamannya. Saya menduga, dia masuk Islam karena kawin dengan perempuan muslimah Medan.

“Saya sudah Islam sebelum saya menikah,” kata dia meyakinkan. Saya salah duga.

Setelah jadi muslim, dia ubah namanya jadi Habib. Menjalankan semua kewajiban beribadah di dalam Islam. Beberapa kali saya dengar dia mengucapkan kalimat syukur dan takjub kepada Tuhan: “Alhamdulillah” dan “Masya Allah” terselip dalam setiap pembicaraan. “Saya dapat hidayah, alhamdulillah,” katanya.

Malam itu dia hendak mengunjungi ibunya dan merayakan Natal bersamanya. “Kakak saya berhalangan datang ke rumah orangtua saya kali ini. Maka saya harus datang jauh dari London untuk merayakan Natal bersama ibu saya,” ujarnya.

Kereta yang kami tumpangi kian melambat dan berhenti di Ludwiglust, kota kecil di antara Hamburg dan Berlin. “Saya berhenti di sini, sampai berjumpa lagi. Wassalamualaikum,” kata Habib bergegas pergi keluar kereta untuk menemui ibunya.

Habib alias Tobias adalah satu dari 4,9 juta (6,1 persen) warga muslim Jerman yang kian hari kian meningkat jumlahnya. Total ada sekitar 25 juta muslim di seluruh Eropa, jumlah pemeluk Islam terbanyak ditempati Prancis dengan 5,7 juta warga muslim atau 8,8 persen dari total populasi muslim di seluruh Uni Eropa.

Berdasarkan hasil survey PEW Research Center, lembaga riset yang berkedudukan di Washington, Amerika Serikat, populasi muslim di Eropa diperkirakan bisa meningkat tiga kali lipat pada 2050. Riset yang dirilis akhir November lalu itu memprediksi kenaikan populasi muslim bisa terus berlangsung kendati seluruh negara Uni Eropa menutup gerbang masuk imigran Timur Tengah ke wilayahnya.

Kalau jumlah muslim meningkat karena membanjirnya arus imigran dari negara-negara konflik Timur Tengah, tentu tidak mengherankan. Tapi menjadi muslim seperti Habib seiring maraknya Islamofobia di Eropa tentu tetap menarik didiskusikan. Apalagi kelompok-kelompok fasis seperti Pegida atau partai ultra-nasionalis seperti Alternative fuer Deutschland (AfD) bermunculan sebagai reaksi dari fenomena tersebut.

Pada Oktober lalu, Andrea Backhaus menulis sebuah esai menarik di Zeit Online mengenai Islamofobia di Jerman. Dia mengisahkan Dina, muslimah Jerman keturunan Mesir yang pernah mengalami penghinaan di jalanan. Dina juga menceritakan tentang beberapa kawannya yang tak berani mengenakan jilbab.

“Itulah saat pertama kalinya saya melihat ketakutan di mata kawan saya,” tulis Andrea.

Sebagai seorang wartawan yang tinggal di Mesir dan banyak bertugas di wilayah Timur Tengah, Andrea merisaukan gejala Islamofobia yang menjalar kemana-mana. Dia melihat banyak orang di Jerman sekarang ini, termasuk elite politiknya, yang merasa sudah cukup tahu tentang Islam kendati sebetulnya tak pernah tahu apapun.

“Dengan cara menakut-nakuti bahwa orang Arab akan mengislamkan Eropa, para demagog itu berhasil meraih tempatnya mulai dari pasar, lalu di media dan sekarang di Parlemen,” katanya.

Ketakutan akibat ketidaktahuan diorkestrasi secara rapi, sehingga menimbulkan suara serempak untuk menolak ini dan itu sesuai arahan konduktor. Cara seperti ini mengingatkan pada Hitler: menjadikan Yahudi sebagai kambing hitam atas krisis ekonomi Jerman sekaligus biang kekalahan Jerman pada Perang Dunia pertama. Lantas orang-orang menumpahkan kemarahannya pada warga Yahudi. Hasilnya adalah persekusi massal dan holocaust yang tercatat sebagai sejarah kelam peradaban manusia.

Tapi ternyata persoalan ini bukan unik milik Eropa. Setelah dipelopori oleh Donald Trump di Amerika, mobilisasi kecemasan pada yang asing dan liyan serta reaksi terhadapnya yang berlebihan juga terjadi di negeri kita. Pilkada DKI Jakarta yang lalu adalah contoh terbaik dari hal tersebut. Kecemasan akan bangkitnya komunisme, invasi Tiongkok dan sentimen keagamaan diramu sebagai mantra perebut kekuasaan. Keributan menjalar kemana-mana, mulai kemunculan misterius logo palu-arit, desas-desus kedatangan jutaan buruh Tiongkok sampai dengan saling mengharamkan ucapan Natal.

Kalau mengingat soal satu itu, kisah Habib selaiknya kabar baik di malam Natal kemarin. Bagaimana tidak? Dia seorang muslim Jerman, memeluk Islam karena pencariannya sendiri dan tetap merayakan Natal bersama ibunya. Dan rasa-rasanya judul buku The Clash of Civilizations karya Samuel Huntington jadi semacam isapan jempol belaka. Semoga Habib Tobias bukan hanya satu di Jerman.

 
Terpopuler di Historia 
Komentar anda
Majalah
Segera Terbit
 
Nomor 37 Tahun IV
Riwayat Syariat di Nusantara
Seiring berkembangnya komunitas muslim di Nusantara sebagai dampak arus perdagangan pada abad ke-13, jejak-jejak penerapan hukum Islam mulai bisa terlacak...
 
Terpopuler
Masjid di Wunsdorf (Zossen), 20 km dari Berlin, Jerman. Dibangun sekitar tahun 1915 dan hancur sekitar tahun 1930.
Foto
Masjid di Wunsdorf (Zossen), 20 km dari Berlin, Jerman. Dibangun sekitar tahun 1915 dan hancur sekitar tahun 1930.
Foto