Pilih Bahasa: Indonesia
halaman 1

Geert Wilders dan Balas Dendamnya

Diramalkan menang pemilu Belanda pada 15 Maret 2017, Geert Wilders cuma mereduksi kompleksnya politik menjadi hanya masalah penjagaan perbatasan, sensus dan migrasi. Retorika politiknya selalu mengulang-ulang soal displacedness atau pemindahan yang tak dikehendaki –bukan kebetulan karena itu juga merupakan sejarah tersembunyi keluarganya yang berdarah campur alias Indo.
Geert Wilders.
Historia
pengunjung
5.3k

KEMBALI DIA BERHASIL: pelbagai kepala berita koran-koran Eropa pada Juni 2009 memuat rencana Geert Wilders untuk mengusir “jutaan, puluhan juta” Muslim Eropa kalau mereka macam-macam dan menyebabkan masalah. Ucapan ini dilontarkan sang pemimpin PVV (singkatan bahasa Belanda untuk Partai Kebebasan) di Denmark, karena di sana, seperti juga di Amerika Serikat, oleh banyak orang dia dianggap sebagai pahlawan internasional bagi kebebasan berpendapat. Di luar negeri, Wilders merasa lebih bebas bicara, manakala dia menyinggung topik-topik yang disukainya: ancaman islamisasi terhadap dunia Barat yang bebas, diawali dengan ‘Eurabia’. Alternatifnya —deportasi, pengurungan atau pengusiran kaum Muslim— di luar negeri selalu disambut dengan tepuk tangan meriah para hadirin yang langsung pula berdiri. Di Denmark dia menegaskan bahwa demokrasi di Barat berada di ambang keruntuhan, karena ‘imigrasi massal dan tingginya angka kelahiran penduduk yang beragama Muslim’. Di Los Angeles, Wilders menegaskan bahwa Islam di Eropa masa kini telah berseru supaya ‘kita dimusnahkan’ saja.

Pertanyaannya tetap: mengapa Wilders berbuat begitu? Dari mana dia memperoleh dorongan yang begitu menggebu-gebu? Adakah konteks —ideologis, historis— yang pas bagi Wilders? Walaupun sudah begitu banyak upaya menempatkan sang wakil rakyat di dalam aliran politik tertentu, tetap saja tidak ada analisa yang memuaskan. Tahun-tahun belakangan Wilders dilukiskan sebagai fasis, rasis, populis, udik, xenofob, liberal tulen, ekstrim kanan, radikal kanan dan juga sebagai rasis Islam. Dia lebih jauh ketimbang ekstrim kanan biasa seperti Jean-Marie Le Pen dan Filip Dewinter, demikian menurut beberapa pakar politik. Meindert Fennema, pakar politik Universiteit van Amsterdam, menegaskan bahwa usul-usul Wilders kadang-kadang menggelisahkan karena jauh melebihi batas apa yang pantas di sebuah negara hukum — klasifikasi yang oleh Wilders sendiri disebut sebagai ‘rengekan di pinggiran’ dan hasrat orang untuk menganggapnya sebagai setan. Sesudah itu Wilders menyebut dirinya sebagai ‘pejuang kebebasan Belanda’; sebelum itu dia lebih senang menyebut diri sebagai ‘demokrat sejati’.

Sesuatu yang harus diterima oleh khalayak ramai, para politisi dan para pakar politik —tentu saja selain kekerasan verbalnya— adalah masa lampaunya sebagai anggota partai konservatif VVD, kemudian asal usulnya dari Limburg, di selatan (ini selalu ditekan-tekankannya) dan rambutnya yang diblonda secara ekstrim. Sebagai politikus dia tampaknya seperti jatuh dari langit: bom molotov buatan sendiri dari Venlo, yang tidak pas dalam pelbagai tradisi politik dan karena itu sulit pula untuk menjinakkannya secara politis. Bagi banyak orang Belanda (terutama yang tinggal di Randstad yaitu wilayah perkotaan mencakup Amsterdam, Den Haag, Rotterdam dan Utrecht), asal usul Wilders di Limburg merupakan semacam wilayah pinggiran, dari sana apa saja bisa muncul; sebuah wilayah dengan adat istiadat sendiri dengan budaya yang tidak umum. Prasangka semacam ini justru menghalangi pencarian wawasan mendalam terhadap fenomena Wilders. Mengapa melihat lebih jauh dari sekedar Limburg bisa menawarkan kerangka yang lebih jelas? Mungkin karena partai konservatif VVD sebagai ibu kandung PVV, partai yang dipimpinnya, bisa memberi pencerahan baru bagi missi Wilders? Sementara itu rambut Wilders yang dicat pirang telah merupakan gejala politik yang, sayangnya, tidak dianggap serius.

 
Terpopuler di Historia 
Komentar anda
Majalah
Laporan Khusus
Majalah Historia Cetak
berikutnya
 
Nomor 35 Tahun 3
Kuliner Nusantara Rasa dan Cerita
Kali ini kami menyajikan kisah tentang makanan, tentang citarasa nusantara yang merentang sejak zaman dahulu kala. Tak hanya tentang masakan..
 
Terpopuler
6
Surat-Surat dari Den Haag (4) | Mentalitas Kolonial versus Inlanders
7
Catatan dari Berlin (1) | Kabar Pilu dari Kamp Sachsenhausen
8
Surat-Surat dari Den Haag (5) | Tentang Sebuah Kesadaran
9
Surat-surat dari Hamburg (1) | Setengah Merdeka
Geert Wilders.
Geert Wilders.