Pilih Bahasa: Indonesia

Gambar Tikus di Miras Manado

 
Historia
Historia
pengunjung
5k

AGAKNYA di antara sekian banyak kota besar Indonesia, adalah Manado yang paling kentara mewarisi kebudayaan Prancis dari masa Bataafsche Republiek, manakala istana raja di Amsterdam disinggasanai Louis Napoleon sebelum Napoleon Bonaparte dikalahkan Inggris dalam perang di Waterloo 1815 yang menyebabkan sang kaisar kehilangan tentaranya sekitar 25.000 orang.

Kata-kata bahasa Prancis yang diserap bahasa Manado sejak masa itu misalnya saguer dari saguouier adalah nama minuman dari nira; fastiu dari fastidieux maknanya ‘membosankan’; capeo dari chapeau artinya ‘topi’; fasung dari façon maknanya ‘cara santun’: popoji dari poche artinya ‘saku’; jelus dari jaloux artinya ‘iri’, dll., dan tidak lupa katrili dari quadrille nama tarian rakyat.

Sekarang katrili termasuk kesenian tradisional yang dilestarikan oleh pemerintah setempat melalui festival-festival. Pada umumnya orang di Manado dan Minahasa mengira bahwa katrili berasal dari budaya Portugis atau Spanyol, dua bangsa Barat yang telah lebih dulu mukim di Manado, Kema, Amurang sejak abad ke-16 dan kawin-mawin di sana lantas menurunkan anak-anak yang kemudian disebut borgo.

Padahal sebenarnya katrili berasal dari tarian Prancis, masuk ke Manado pada awal abad ke-19, dibawa oleh tentara Prancis dalam pemerintahan Koninkrijk Holland lanjutan dari Bataafsche Republiek yang direkayasa oleh Prancis.

Mulanya diceritakan bahwa tentara Prancis berjumlah 6000 orang menjadi tawanan Inggris setelah terjadi perang sengit pada Agustus 1811 di sekitar Salemba Matraman Jatinegara. Sebelumnya, salah seorang bawahan Daendels berdarah Spanyol yang diberi gelar comte di Paris diceritakan sebagai orang kuat yang hadir dalam pembuatan jalan pos Anyar-Panarukan. Panggilannya Don Lopez comte du Paris. Orang di Jawa melafalnya Ho Lopis kuntul Baris. Setelah Prancis dikalahkan Inggris ia pindah ke Manado, kawin dengan pribumi Minahasa, dan tewas di Amurang ketika tsunami melanda kota itu pertengahan abad ke-19. Dalam cerita tutur dikisahkan bahwa tsunami dahsyat itu baru reda setelah seorang zending bernama Graafland –dikenal sebagai penulis buku De Minahasa, Haar Verleden en Haar Tegenwoordige Toestand– berdoa di atas benteng peninggalan Portugis. Cerita ini masih dituturkan sampai 1940-an oleh orang-orang tua Minahasa di desa-desa sekitar atas Amurang antara Malenos, Ritey, Maliku.

Nama Don Lopez yang comte itu sendiri dianggap sebagai salah seorang pewaris budaya Prancis yang memperkenalkan pribumi Minahasa memainkan katrili. Katrili asli adalah tarian untuk dua atau empat orang, terdiri dari lima bagian masing-masing (1) Le Pantalon mat 6/8, (2) L’Éte mat 2/4, (3) La Poule mat 6/8, (4) La Trenise mat 2/4, dan (5) La Pastourelle mat 2/4. Ujungnya dimainkan komposisi Finale. Dan, setelah itu diserukan kata-kata “Éternel, sauve le roi!” artinya “Tuhan jayakanlah raja!”

Adalah komunitas Indo-Indo yang disebut borgo itu yang merasa paling memiliki tarian ini. Borgo sendiri sejak 1758 dimanfaatkan Belanda untuk menjaga pantai-pantai sekitar Manado, Tanawangko, Amurang dari pelanunan bajaklaut Pilipina. Setelah berjalan dua abad, maka pada 1925 di bawah kebijakan Residen Manado, H.J. Schmidt selaku RMWO 3de kl Eeresabel ex Officer NOIL diberi status kewarganegaraan khusus.

Di banyak pesta para borgo biasa bersulang untuk menenggak miras sembari haha-hihi. Ketika miras dari Eropa sulit didapat, maka pribumi di Minahasa pun menyuling saguer menjadi anggur-putih. Sementara karena di botol anggur-putih yang asli ada gambar tikus, bahasa Prancisnya souris, maka orang kampung yang waktu itu belum bisa membaca dan menulis lantas menyimpulkan bahwa minuman yang bergambar tikus itu niscaya berkadar tinggi alkohol. Sampai sekarang orang di Minahasa menyebut anggur-putih adalah ‘Cap Tikus’.

Dalam catatan Manado, ketika Pangeran Diponegoro ditahan di Fort Amsterdam, benteng peninggalan Portugis –sekarang tidak ada diratakan tanah oleh Jepang pada PD II– maka sang Pangeran yang mengharamkan miras dan bahkan pernah menyiram miras ke muka residen Yogyakarta, Smissaert, tapi dalam keadaan frustrasi di Manado ia menjadi akrab dengan anggur-putih. Residen Manado, Pietermaat, adalah biangkerok yang menjerumuskannya. Pietermaat sendiri dalam sumber Manado digambarkan sebagai seorang vrijdenker yang sangat memuja Descartes karena pandangannya “cogito ergo sum” tercerabut dari pola-pola ilmu pasti.

Walaupun begitu, tak urung upaya syiar yang dilaksanakan oleh zending Jerman, yaitu Schwarz di Langoan dan Riedel di Tondano, dengan patron teologi Pietisme, toh berhasil menggiring pribumi Minahasa ke keyakinan baru berpengharapan dari pegangan biblikal bahasa Prancis “Je suis le chemis, le verite, et la vie,” maknanya “Akulah jalan, kebenaran, dan hidup.” Maka, bisa dimengerti, mengapa orang di Minahasa yang menyadari kalimat itu berasal dari Injil, gandrung memajang gambar Yesus di dinding rumahnya –yaitu Yesus historis dalam diskursif kristologi sebagai pribadi insani sekaligus pribadi ilahi– selaras dengan kredo yang dihafal umat pada setiap hari Ahad.

Sekarang justru di Tondano sebagai tengah-tengahnya bumi Minahasa yang mayoritas Kristen, hidup dengan damai masyarakat Jaton, singkatan Jawa-Tondano yang seluruhnya muslim. Orang Jaton merupakan keturunan dari Kyai Mojo dan Diponegoro. Dalam Babad Menado diceritakan bahwa Ratnaningsih istri Diponegoro melahirkan putranya di Benteng Fort Amsterdam Manado, dan putranya itu diberi nama Menadurahman. Ketika sang pangeran dipindahkan ke Makassar, putranya itu dititipkan pada Kyai Mojo, kuatir kalau-kalau Menadurahman dibunuh Belanda. Maka ketika Diponegoro wafat di Benteng Fort Rotterdam Makassar pada 5 Agustus 1855, laki-laki berumur 25 tahun yang disebut-sebut sebagai putranya itu bukanlah Menadurahman.

Dari catatan Manado juga, diceritakan bahwa zending Riedel berdialog dengan Kyai Mojo, dan di situ Sang Kyai menceritakan tentang wawasan Islam damai yang dicetuskan Sunan Kalijaga lewat piranti wayang. Bahwa peran Gareng dalam Punakawan, berasal dari bahasa Arab nala qarin artinya mencari teman mengiaskan Islam sebagai agama yang menggalang persaudaraan nan guyub.

Berkaitan dengan itu, kalau ingin melihat jiwa persaudaraan dalam kerukunan bhinneka tunggal ika yang tulen, datanglah ke Tondano. Hebatnya, di Tondano pula ada sinagog, tempat sembahyang bani Yahudi. Kota ini sejuk: sejuk lahir sejuk batin. Di kasad sejuk lahir, ada pemandangan yang heboh. Bahwa dalam rangka menghangatkan tubuh di udara yang sejuk sebagian orang memilih habitual tercela bagate. Arti harafiah bagate adalah ‘mengait’ atau ‘mencantel’. Tapi arti kiasnya adalah ‘menenggak cap tikus’.

Untuk itu sudah ada seruan dari pihak gereja agar berhenti bagate. Tapi malah ada mop juga yang mengisahkan tentang umat yang datang ke rumah pendeta hendak memberi salam natal sambil bertanya “Di mana Pak Pendeta?” Dan jawab istrinya, “Cari jo di got.” Maksudnya sang pendeta pun mabuk ‘cap tikus’ lantas tumbang terkulai dan tertidur di got. Orang yang lewat di situ menegur sang pendeta, “Jangan tidur di got.” Dan dalam keadaan masih mabuk sang pendeta menjawab, “Ngana pe got so?”

 
Terpopuler di Historia 
Komentar anda
Majalah
Segera Terbit
 
Nomor 37 Tahun IV
Riwayat Syariat di Nusantara
Seiring berkembangnya komunitas muslim di Nusantara sebagai dampak arus perdagangan pada abad ke-13, jejak-jejak penerapan hukum Islam mulai bisa terlacak...
 
Historia
Historia