Pilih Bahasa: Indonesia

Dialog Tack dan Surapati

 
Lukisan tradisional Jawa karya Tirto dari Grisek yang menggambarkan terbunuhnya Kapten Francois Tack oleh Untung Surapati di Kartasura (1686) di bawah Susuhunan Amangkurat II.
Foto
Historia
pengunjung
6.7k

SAYA ingat Bung Karno di Surakarta pada 11 Juli 1960, mengkritik nama kota Solo, yang katanya itu salah eja, peninggalan dari salah kaprahnya Belanda. Kata Bung Karno, “Yang betul adalah Sala, bukan Solo.”

Sertamerta sebagian penduduk kota –gerangan mereka dari golongan masyarakat yang ‘pejah gesang nderek Bung’ ditandai dengan genteng rumah-rumahnya bertuliskan kata USDEK yang nian besar– segera berinisiatif mengganti kata Solo menjadi Sala.

Arkian Pak Moer yang fasih bercakap kareseh-paseh Belanda –tinggalnya di sebelah palang rel sepur dari Jl. Pasarnongko ke Jl. Tirtoyoso sebelum totogan Manahan– berkata kepada saya, “Kalau menurut cerita uthak-athik gathuk-mathuk, sejarahnya Solo itu terjadi pada zaman Kapiten Tack hendak menangkap Untung Surapati.”

Konon, setelah Untung Surapati memberontak melawan Belanda dengan laskarnya yang antaralain terdiri dari para budak –seperti dirinya sendiri yang merupakan budak dari seorang edeleer bernama Moor, dan menjalinkan cinta terlarang dengan putrinya bernama Suzanne, lantas melahirkan seorang putra bernama Robert– pada 1678 membinasakan 28 orang serdadu VOC.

Karuan Belanda marah besar. Belanda ingin menangkap Untung Surapati dan menghukumnya. Mengetahui bahwa Belanda di bawah komando Kapiten Tack akan menangkapnya, buru-buru Untung Surapati menyingkir menuju ke Kartasura. Di situ ia berlindung di kraton Suhunan Hamangkurat II. Segera Kapiten Tack berangkat pula ke sana, meminta Hamangkurat II menyerahkan Untung Suropati, tapi ditolak. Sementara, karena mengetahui Kapiten Tack ada di Kartasura lekas-lekas Untung Suropati melarikan diri lagi ke timur, masuk ke dalam hutan, bersembunyi di situ. Kapiten Tack terus mengejarnya, masuk pula ke dalam hutan itu.

Setelah berhari-hari di dalam hutan, masing-masing pihak merasa letih, lantas beristirahat. Justru di situ pulalah mereka tidak menduga akan saling berpapasan. Begitu mereka beradu pandang, mereka sama-sama terperanjat, lantas berbarengan berseru gagap.

“Zo?” seru Kapiten Tack, tersingahak. “Ben jij ook hier?” Artinya, “Nah? Kamu juga ada disini?”

“Lho?” seru Untung Surapati, terkinjat. “Kowe kok wis tekan kene?” Artinya, “Lho? Kamu kok sudah sampai di sini?”

Lagi-lagi, konon, dari kata pertama yang diucapkan oleh Kapiten Tack dan Untung Surapati, yaitu “Zo?” dan “Lho?” tersebut, maka orang pun menyebut tempat itu “Zo-Lho”, dan kemudian dieja menjadi Solo.

Selain itu, ada lagi cerita bercap konon dan uthak-athik gathuk-mathuk yang menarik. Bahwa di tempat terucapkannya ‘zo’ dan ‘lho’ itu kelak pada seabad kemudian dipilih untuk lokasi pembangunan kraton Surakarta setelah kraton Kartasura hancurlebur dibakar dalam huru-hara Cina pasca Perang Kuning di Semarang 1742.

Alkisah, setelah pembantaian orang Cina di Batavia yang dilakukan oleh Gubernur Jenderal VOC yang rasis, Adriaan Valckenier pada 9 Oktober 1740, maka dua orang Cina di Lasem, Tan Pan Tjiang dan Oey Ing Kiat, membentuk ketentaraan yang siap berperang dengan Belanda di Semarang. Untuk itu mereka berdua datang dulu ke kraton Kartasura menemui Pakubuwono II, meminta izin dan restu dari sang raja. Pakubuwono II mendukung. Tapi justru ia juga yang membocorkan itu kepada pihak Belanda di garnizun Semarang. Oleh karena itu ketika pasukan laskar Cina menyerang Belanda di Semarang, dan sempat terjadi perang sengit, akhirnya mereka kalah, dipukul mundur sampai Jepara. Kedua pahlawan Cina itu gugur. Perupaan mereka dibuat toapekong dengan busana dinasti Qing di Klenteng Welahan. Sedang di Lasem mereka ditampilkan di klenteng Babagan sebagai kimsin Gie Yong Kong Co artinya “dua kakek wira perkasa”.

Sementara ada versi yang mengatakan bahwa orang Cina kecewa karena dikhianati, maka mereka menggempur kraton Kartasura. Untuk membangun kraton baru dipilih lokasi di timur. Menurut versi uthak-athik gathuk-mathuk pula, adalah kraton Surakarta di timur tersebut, dibangun di sekitar tempatnya Kapiten Tack dan Untung Surapati mengucapkan ‘zo’ dan ‘lho’. Dan, tentu saja, sebagai cerita dengan adverbia ‘konon’ dan verba ‘uthak-athik gathuk-mathuk’ maka urusan kebenarannya tidak terjamin. Yang benar adalah kraton Surakarta itu berdiri pada 17-2-1745 dengan sinengkalan berbunyi “kombul ing pudya kapyarsining nata”. Dari arsip kraton terbaca catatan dalam tembang dandanggula: sigra jengkar saking kartawani/ ngalih kedaton mring dusun sala/ busekan sapraja baline.

Tapi, cerita menarik berikut ini adalah tentang Tambak Segaran, tak jauh dari benteng Vastenburg, di utara-timur-laut kraton Surakarta. Bagi pelahap sate dan tongseng kambing, di Tambak Segaran itu, persisnya di Jl Sungai Barito, ada rumahmakan terkenal Bu Hajah Bejo yang siap menyambut.

Iseng, coba perhatikan nama Tambak Segaran itu. Mungkin di situ dulu ada tambak terkenal. Tapi segaran? Dalam bahasa Jawa, segaran adalah ‘samudra kecil’ atau ‘samudra-samudraan’. Nah, di mana gerangan itu? Ternyata Tambak Segaran itu berasal dari salah ucap atas nama sebuah toko di zaman Belanda yang khusus menjual tembakau dan pelbagai rokok. Bahasa Belanda untuk kosakata ‘tembakau’ adalah tabak, dan bahasa Belanda untuk ‘rokok’, masing-masing tunggalnya sigaar dan jamaknya sigaren. Di tembok toko tersebut terpasang tulisan Tabak Sigaren.

Kebetulan saya kenal betul Tambak Segaran yang berasal dari Tabak Sigaren tersebut. Di situ ada Akademi Kesenian Surakarta jurusan Senirupa. Perguruan itu didirikan oleh Gregorius Sidharta dan Abas Alibasyah ketika yang disebut ini didongkel oleh Lekra/PKI dari ASRI Yogya. Saya sendiri belajar melukis dan mematung di situ. Nama-nama pelukis yang pernah belajar di situ antaralain Jeihan, Sri Hadhy, Tedja Suminar, Wiyoto Wiyono, AS Budiono, OH Supono, Hartoko, dll. Tampaknya mereka semua bangga pernah menjadi wong Solo.

Jangankan mereka, bahkan orang bulek pun, Geoff Fox, dokter pemerhati sastra Indonesia di Australia, juga berkata dengan bangga, “I am wong Solo.” Begitu ujar dia di Universitas Melbourne pada 2001 sebelum membaca puisi saya yang diterjemahkannya ke bahasa Inggris disertai diskusi dengan ratusan sarjana ahli Indonesia, termasuk ketua studi Indonesia di universitas itu Prof Dr Arief Budiman. Penampilan dan sikap Geoff Fox memang sangat Solo: santun, ramah, kordial.

Seingat saya, penampilan dan sikap yang mengagumkan dari wong Solo itu teruji dalam sejarah bangsa ketika Indonesia dijajah Jepang pada masa Perang Dunia II. Kala itu ucapan bahasa Jepang “arigato gozaimasu” yang tidak lebih berarti “terimakasih”, dipleseti ke bahasa Jawa di Solo menjadi “kari kathok goceki Mas”, harafiahnya “hanya tinggal celana peganglah Mas”. Kalimat ini sendiri mengandung sanepan yang pandai dan bestari, bahwa sungguhpun di zaman Jepang rakyat Solo ditindas dan diperlakukan semena-mena oleh Jepang sampai-sampai pakaian pun terpaksa dibuat dari bekas karung beras, toh hargadiri dan martabat harus tetap dipegang sebagai syarat adab. Maka memang hebat betul wong Solo. Sekalian tepuk tangan deh buat wong Solo yang sekarang menumpaki mobil Mercedes-Benz S600 Pullman Guard.

 
Terpopuler di Historia 
Komentar anda
Majalah
Segera Terbit
 
Nomor 37 Tahun IV
Riwayat Syariat di Nusantara
Seiring berkembangnya komunitas muslim di Nusantara sebagai dampak arus perdagangan pada abad ke-13, jejak-jejak penerapan hukum Islam mulai bisa terlacak...
 
Lukisan tradisional Jawa karya Tirto dari Grisek yang menggambarkan terbunuhnya Kapten Francois Tack oleh Untung Surapati di Kartasura (1686) di bawah Susuhunan Amangkurat II.
Foto
Lukisan tradisional Jawa karya Tirto dari Grisek yang menggambarkan terbunuhnya Kapten Francois Tack oleh Untung Surapati di Kartasura (1686) di bawah Susuhunan Amangkurat II.
Foto