Pilih Bahasa: Indonesia
halaman 3

Asal-usul Pangeran Samber Nyawa

Sumber-sumber Jawa primer menyingkap di balik julukan menggetarkan yang disandang salah satu pemimpin militer paling berbakat dan berpengalaman sepanjang sejarah Jawa.
 
Lukisan Perang Jawa (1741-1743).
Foto
Historia
pengunjung
19.3k

Berperang Laksana Macan

Panji perang Samber Nyawa termasyhur di kalangan orang Jawa saat Mangkunagara masih berperang, dan merupakan objek yang bisa bikin keder musuh-musuhnya. Malahan, panji perang itu dianggap punya kekuatan luar biasa.

Salah satu peristiwa yang berhubungan dengan panji perang itu diceritakan dalam sumber Jawa maupun Belanda. Peristiwa itu terjadi pada Oktober 1756. Pada paruh kedua tahun 1756, situasi Mangkunagara semakin memprihatinkan. Bersama sisa pengikutnya yang masih loyal, berjumlah tidak lebih dari 400 prajurit, dan keluarganya, dia siap membela diri di daerah pegunungan di Kaduwang. Para musuhnya –Sultan Mangkubumi, Susuhunan Pakubuwana III, dan Kompeni Belanda– mengepungnya dengan menutup semua jalan. Sultan Mangkubumi, seorang perwira yang juga amat masyur, memimpin tentaranya sendiri.

Dalam kondisi terjepit, nasib Mangkunagara amat suram. Penasehat utamanya, Kudanawarsa, yang sedang terluka, sangat takut akan masa depannya.

Namun Sang Pangeran memilih sebuah jalan yang tak diketahui orang lain (dengan mengikuti burung-burung gagak yang sepertinya menjadi pemimpin gaibnya). Dia pun bisa meloloskan diri dari kepungan musuh tanpa diketahui mereka.

Dari daerah pegunungan, dia bergerak ke Desa Giyanti, tempat persetujuan antara Mangkubumi dan VOC pada 1755, dan membakarnya. Dari sana mereka mendekati daerah Mataram. Kudanawarsa dan para prajurit, yang masih diselimuti ketakutan, menekankan situasinya amat berbahaya dan mendorong Mangkunagara untuk mundur. Namun, dicatat dalam otobiografi Serat Babad Pakunagaran, Sang Pangeran dengan tegas menjawab: “Walaupun saya mati, kalau sudah menemui ajal, jangan jauh dari Mataram, tempat pemakaman para leluhur saya. Mari kita bersama jangan menghitung mati, serahkan diri kepada Allah, mari kita masuk api!” (sanadyan aku matiya, yen wus tumekeng jangji, aja doh Mataram, dagane luhur ingwang, payo padha derah pati, asrah ing Allah, payo alebu gni).

Pada 28 Oktober 1756, dengan 300 pasukan kuda andalannya, Mangkunagara keluar di jalan dari Prambanan ke Yogyakarta. Saat itu, Yogyakarta hanya dijaga sedikit tentara, karena kebanyakan tentara kasultanan yang dipimpin Sri Sultan dan kekuatan VOC masih berada di daerah Kaduwang untuk mencari Mangkunagara.

Mangkunagara dan para pasukannya belum mengibarkan panji perang. Mereka bertemu beberapa remaja dengan kerbau di jalan. Sepuluh kerbau diambil dan digembalakan di depan mereka. Melihat mereka sedang mendekati keraton kasultanan, masyarakat menyangka mereka serdadu Yogyakarta yang pulang dari medan perang dengan rampasannya.

Saat itu, seorang bupati senior bernama Cakrakarti (atau Cakrajaya) sedang main kartu dengan orang Belanda di loji Kompeni. Seorang serdadu penjaga Eropa melihat ada kelompok pasukan yang mendekati dan masuk loji untuk bertanya apakah Sri Sultan dan Pangeran Mahkota sudah pulang dari medan perang. Cakrakarti keluar untuk melihat siapa yang memasuki kota.

Sekonyong-konyong Mangkunagara membentangkan panjinya (yang tidak dinamakan dalam sumber-sumber kita, tapi pasti Samber Nyawa). Cakrakarti terkejut begitu mengenali itu bukan panji dari pihak Yogyakarta!

Mangkunagara dan pasukannya langsung menyerang keraton baru Sri Sultan yang terbuat dari kayu. Mereka lalu bergerak ke selatan keraton, ke kediaman Bupati Distrik Mataram Raden Adipati Jayaningrat. Sang Bupati sedang minum teh dengan Tumenggung Sindusastra, kepala para pujangga kasultanan. Pihak Mangkunagara melepaskan tembakan. Kedua tokoh senior itu berusaha meloloskan diri lewat kebun namun gagal; Sindusastra ditangkap dan dibunuh sedangkan Jayaningrat terluka.

Di mana-mana, di keliling keraton, muncul kepanikan. Di gardu alun-alun kidul hanya ada 18 serdadu Kompeni. Mereka melepaskan dua salvo sebelum terpaksa kabur ke dalam keraton dan mengunci pintu selatannya. Mangkunagara mengejar. Menurut salah satu sumber Belanda, Mangkunara dan pasukannya berperang “seperti macan”.

Akhirnya Kompeni menembaki para penyerbu dengan meriam dari dinding loji. Mangkunagara pun memerintahkan mundur melalui jalan ke Prambanan.

Sebagian dari keraton terbakar dan sejumlah orang tewas. Menurut sumber Belanda, Mangkunagara kehilangan 30 prawira dalam serangan itu dan melarikan diri secara panik. Namun menurut Serat Babad Pakunagaran, mereka mundur secara teratur dan Sang Pangeran memandang tembakan meriam dari loji Kompeni sebagai semacam salut terhadapnya.

Sri Sultan Mangkubumi sangat marah. Dia sekali lagi ditipu oleh Mangkunagara, yang berhasil meloloskan diri dari kepungan di Kaduwang, memasuki keraton Yogyakarta tanpa perlawanan, membunuh dan membakar, serta pergi bersama sebagian besar tentaranya –dan tentu saja dengan membawa panji perang Samber Nyawa yang tersohor. Kendati beberapa bulan sesudah itu Sang Pangeran berdamai di Surakarta, Sri Sultan tetap marah kepadanya.

 
Terpopuler di Historia 
Komentar anda
Majalah
Segera Terbit
 
Nomor 37 Tahun IV
Riwayat Syariat di Nusantara
Seiring berkembangnya komunitas muslim di Nusantara sebagai dampak arus perdagangan pada abad ke-13, jejak-jejak penerapan hukum Islam mulai bisa terlacak...
 
Terpopuler
Lukisan Perang Jawa (1741-1743).
Foto
Lukisan Perang Jawa (1741-1743).
Foto