Pilih Bahasa: Indonesia
halaman 2

Asal-usul Pangeran Samber Nyawa

Sumber-sumber Jawa primer menyingkap di balik julukan menggetarkan yang disandang salah satu pemimpin militer paling berbakat dan berpengalaman sepanjang sejarah Jawa.
 
Lukisan Perang Jawa (1741-1743).
Foto
Historia
pengunjung
19.4k

Panji Perang

Berbasis sumber-sumber Jawa primer, sekarang kita bisa menjawab pertanyaan itu. Pertama kita harus mengerti apa arti “samber nyawa”. Kata samber dalam bahasa Jawa sama artinya dengan “sambar” dalam bahasa Indonesia. Kata nyawa dalam bahasa Jawa sama artinya dengan kata yang sama dalam bahasa Indonesia. Jadi, samber nyawa berarti seorang atau sesuatu yang menyambar dan menangkap sesuatu, seperti burung elang menyambar anak ayam atau seorang nelayan menyambar ikan dengan jala. Namun, dalam kasus ini, yang disambar adalah nyawa.

Istilah samber nyawa muncul dalam dua sumber primer yang luar biasa dari zaman Pangeran Mangkunagara. Yang pertama, otobiografi yang disusun Sang Pangeran sendiri –otobiografi dalam bahasa Jawa paling kuno yang diketahui sampai sekarang. Judulnya Serat Babad Pakunagaran. Judul itu merefleksikan variasi yang lazim mengenai nama-nama Jawa waktu itu: Mangkunagara kadang ditulis Pakunagara, Gunung Merbabu pernah dinamakan Gunung Prababu, dan sebagainya.

Naskah Serat Babad Pakunagaran menyebut secara jelas bahwa Mangkunagara I-lah yang menulis sesudah dia berdamai dan kembali ke Surakarta, yaitu tahun 1757: ingkang murwa carita, Kangjeng Pangeran Dipati, ingkang saking lalana andon ayuda.

Salinan naskah itu masih tersimpan di British Library, London, tapi bukan yang tahun 1757, melainkan salinan yang dibuat untuk merayakan ulang tahun ke-55 Sang Pangeran pada bulan Ruwah tahun Jawa 1705 (17 Augustus 1779). Juga ada fragmen kecil yang tersimpan di Perpustakaan Radyapustaka di Surakarta, tertanggal bulan Sawal, tahun Jawa 1719 (Mei-Juni 1793). Keduanya jelas disalin oleh beberapa prajurit perempuan (prajurit estri) dalam Pura Mangkunagaran. Sumber ini ditulis dalam tembang macapat dan cukup tebal –lebih dari 800 halaman.

Di bagian Serat Babad Pakunagaran yang meriwayatkan tahun 1750, di tengah-tengah perang di Gondang, dekat Surakarta, kita menemukan deskripsi panji perang Mangkunagara: bandera wulung kakasih, pun Samber Nyawa, ciri wulan aputih; sebuah panji perang berwarna wulung, namanya Samber Nyawa, dan berciri bulan berwarna putih (hampir pasti bulan sabit). Jadi, jelaslah nama “Samber Nyawa” berasal dari panji perang Sang Pangeran.

Pada era itu lazim tokoh-tokoh pemimpin punya panji perang yang diberikan nama. Misalnya, panji perang Pangeran Mangkubumi bernama Gula Kalapa. Prawira terkemuka Rongga Prawiradirja punya panji yang namanya Geniroga (api penyakit) dengan gambar seekor monyet yang berwarna wulung.

Dalam sumber primer lain, kita sekali lagi menemukan panji Samber Nyawa. Ini semacam campuran antara buku harian dan babad. Sekali lagi ini merupakan inovasi dalam kesusasteraan Jawa: buku harian paling kuno yang diketahui. Masih terdapat beberapa naskah yang diberi judul berbeda-beda: Babad Tutur, Babad Nitik Mangkunagaran, dan Babad Nitik Samber Nyawa, yang meliputi tahun 1780 sampai 1793. Naskah-naskah ini disimpan di perpustakaan Leiden, Mangkunagaran, Museum Radyapustaka, dan Museum Sonobudoyo. Penulisnya tak diketahui, tapi jelas buku itu disalin prajurit estri dalam Pura Mangkunagaran.

Pada bagian Babad Tutur yang tertanggal 15 Oktober 1791, kita membaca kenang-kenangan (oleh Mangunagara I sendiri?) mengenai kehidupan Sang Pangeran sebelum tahun 1757, saat masih berperang. Panji perang Samber Nyawa dideskripsikan: bandera denarani, pun Samber Nyawa ranipun, mila ran Samber Nyawa, pilih kang tahan nadhani, yen anamber kang mengsah kathah kang pejah /0/ yen langkung ageng kang mengsah, m[a]ring wana ngardi ngo[n]cati, yen sedheng mengsah kapisah, sinamber saking ing wukir, mengsah kagyat keh mati, lamun dengengi kang mungsuh, ngo[n]cati dhateng wana, Jeng Gusti Pangran Dipati, kang bandera mila ran pun Samber Nyawa.

Terjemahannya: Panji perang Samber Nyawa namanya, dinamakan Samber Nyawa karena jarang orang bisa bertahan. Kalau menyambar, banyak musuh yang mati. /0/ Kalau musuh terlalu banyak, [Mangkunagara] melarikan diri ke hutan di gunung. Kalau jumlah musuhnya yang terpisah sedang, mereka disambar dari puncak gunung. Musuh terkejut karena banyak dari mereka yang mati, kalau musuh dijumlahkan. [Mangkunagara] sudah melarikan diri ke hutan di gunung. Karena itulah panji perang Sang Pangeran Adipati [Mangkunagara] dinamakan Samber Nyawa.

 
Terpopuler di Historia 
Komentar anda
Majalah
Segera Terbit
 
Nomor 37 Tahun IV
Riwayat Syariat di Nusantara
Seiring berkembangnya komunitas muslim di Nusantara sebagai dampak arus perdagangan pada abad ke-13, jejak-jejak penerapan hukum Islam mulai bisa terlacak...
 
Terpopuler
Lukisan Perang Jawa (1741-1743).
Foto
Lukisan Perang Jawa (1741-1743).
Foto