Pilih Bahasa: Indonesia
halaman 1

Ujung Dunia Sang Orator

Sukarno terasing dalam keheningan Ende. Sebuah kisah murung namun memberi semangat dan inspirasi.
 
Judul: Ketika Bung di Ende | Sutradara: Viva Westi | Skenario: Tubagus Deddy Safiudin | Pemain: Baim Wong, Paramitha Rusady, Niniek L. Karim, Tio Pakusadewo, Hans de Kreker | Produksi: Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan dan PT Cahaya Kristal Media Utama | Rilis: 28 November 2013.
Historia
pengunjung
5.8k

Tiba di Ende pada 14 Januari 1934 dengan kapal Van Riebek, tak ada yang menyambut kedatangannya. Hanya beberapa petugas kolonial dan polisi yang selalu menaruh curiga.

Sukarno mulai menjalani masa pengasingan di Ende akibat aktivitas politiknya yang dianggap membahayakan pemerintah kolonial. Api semangatnya hampir padam. Beruntung, Inggit Garnasih, istrinya, selalu setia menemani. Begitu pula Ibu Amsi dan Ratna Djuami, mertua dan anak angkat Sukarno. Mereka tinggal di rumah yang disediakan pegawai pemerintah. Tak betah karena kurang layak, mereka menyewa sebuah rumah sederhana di Kampung Ambugaga di pelosok Ende –kini menjadi situs cagar budaya yang dilindungi pemerintah.

Kehidupan di Ende awalnya begitu berat bagi Sukarno. Dia tak menemukan lawan bicara politik yang sepadan. Maklum, penduduk Ende mayoritas nelayan dan petani kelapa yang buta huruf. Sukarno merasa teralienasi. Dia lebih sering melamun di rumah.

Namun perlahan, dengan kharisma dan tekadnya, dia berbaur dengan penduduk setempat. Dia mendirikan perkumpulan Sandiwara Kelimutu untuk menyalurkan bakat seninya sekaligus mengekspresikan ide-ide perjuangan. Dia mendalami agama Islam, dengan rutin melakukan surat-menyurat dengan T.A. Hasan, tokoh Islam dari Bandung, atau menggelar pengajian di rumahnya. Dia juga bergaul dengan pedagang Tionghoa yang membantunya menyeludupkan barang-barang dari Jawa hingga seorang pemberontak yang menawarinya untuk kabur.

Suatu ketika dia kehabisan stok buku untuk dibaca di rumah. Dia lalu mengunjungi Katedral Ende, yang berlanjut pada jalinan keakrabannya dengan para misionaris Katolik di sana. Dia menemukan teman berdiskusi, terutama dengan Pater Huijtink SVD.

“Bagaimana kamu menempatkan ibumu yang Hindu, orang Budha dan Katolik di tanah yang kebanyakan beragama Islam?” tanya Pater Huijtink dalam satu adegan berlatar Danau Kelimutu.

“Pertanyaan itu yang saya sedang pikirkan jawabannya, Bapa,” jawab Sukarno.

Di akhir film, Sukarno menemukan jawabannya. Renungan di bawah pohon sukun berbuah butir-butir gagasan penting yang kemudian dikenal dengan Pancasila.

Sukarno menjalani pengasingan di Ende selama 4 tahun 9 bulan. Karena terkena malaria, kawan-kawan politiknya mendesak pemerintah kolonial untuk memindahkannya. Pada 18 Oktober 1938, Sukarno meninggalkan Ende menuju Bengkulu.

 
Terpopuler di Historia 
Komentar anda
Majalah
Segera Terbit
 
Nomor 37 Tahun IV
Riwayat Syariat di Nusantara
Seiring berkembangnya komunitas muslim di Nusantara sebagai dampak arus perdagangan pada abad ke-13, jejak-jejak penerapan hukum Islam mulai bisa terlacak...
 
Judul: Ketika Bung di Ende | Sutradara: Viva Westi | Skenario: Tubagus Deddy Safiudin | Pemain: Baim Wong, Paramitha Rusady, Niniek L. Karim, Tio Pakusadewo, Hans de Kreker | Produksi: Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan dan PT Cahaya Kristal Media Utama | Rilis: 28 November 2013.
Judul: Ketika Bung di Ende | Sutradara: Viva Westi | Skenario: Tubagus Deddy Safiudin | Pemain: Baim Wong, Paramitha Rusady, Niniek L. Karim, Tio Pakusadewo, Hans de Kreker | Produksi: Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan dan PT Cahaya Kristal Media Utama | Rilis: 28 November 2013.