Pilih Bahasa: Indonesia
halaman 1

Tendangan dari Bauru

Tentang kerja keras Pele di arena sepakbola dunia. Kurang utuh menggambarkan sang legenda.
Judul: Pele: Birth of a Legend | Sutradara: Jeff Zimbalist dan Michael Zimbalist | Produser: Ivan Orlic, Brian Grazer, Isabelle Tanugi dll. | Pemain: Kevin de Paula, Milton Goncalves, Diego Bonita, Vincent D'Onofrio, Colm Meaney, dll. | Produksi: Imagine Entertainment dan Seine Pictures | Rilis: Mei 2016 | Durasi: 107 menit.
Foto
Historia
pengunjung
1.1k

Dico atau Edson Arantes do Nascimento, lebih dikenal dengan Pele (diperankan Kevin de Paula Rosa), senewen sampai sakit perut. Ribuan pasang mata ada di tempatnya kini berada. Lensa kamera juruwarta tersebar di berbagai sudut dekatnya. Dia belum percaya beberapa saat ke depan bakal menjadi salah satu perhatian utama ribuan pasang mata tadi. Jutaan rakyat Brazil di negerinya juga bakal memperhatikannya.

Hari itu, 15 Juni 1958, Piala Dunia Swedia menggelar pertandingan antara Brazil, negeri asal Dico, menghadapi pemegang medali emas sepakbola Olimpiade Melbourne 1956 Uni Soviet. Meski keterpilihannya dalam starting lineup lebih karena striker Jose Altafini Mazzola (Diego Bonita) cedera, Dico belum yakin akhirnya bisa merumput di event olahraga terakbar sejagat itu.

Dalam sekejap, semua bisa terjadi dan berubah. Adegan pembuka film itu pun berganti scene suasana kota Bauru, Brazil pada 16 Juli 1950 (flashback). Penduduk kota, yang mayoritas miskin, antusias menunggu datangnya siaran radio yang akan menyiarkan pertandingan tersebut. Hari itu, kesebelasan negeri mereka selaku tuan rumah Piala Dunia 1950 mesti mengalahkan Uruguay untuk bisa merebut trofi Jules Rimet. Euforia terjadi merebak ke seantero kota.

Dico kecil (Leonardo Lima Carvalho) dan beberapa temannya yang sedang asik menjajakan dagangan bahkan larut dalam euforia. Mereka langsung berlarian memainkan si kulit bundar di tanah lapang hingga gang-gang sempit di lingkungan tempat tinggal mereka. Saat malam tiba, pria dewasa berkerumun di sebuah bar untuk mengikuti siaran radio pertandingan final, anak-anak ikut nimbrung secara sembunyi-sembunyi.

Sewaktu para pria dewasa menangis lantaran tim kesayangan mereka kalah, Dico ikut menangis. Dia berpapasan dengan sang ayah, Dondinho (Seu Jorge), di perjalanan pulang. Kesedihan menjalari keduanya. “Aku akan menangkan Piala Dunia untuk Brasil, Ayah. Aku janji,” kata Dico menghibur ayahnya.

Sejak itu, Dico makin keras berusaha untuk mewujudkan mimpinya. Ayahnya dengan sabar terus membimbing. Celeste (Mariana Nunes) ibunya terus mendorong. Kemiskinan tak menyurutkan semangatnya, pun perlakuan diskriminatif dari anak-anak kulit putih klub The Kings.

Sutradara amat baik menghadirkan kontradiksi sosial dalam berbagai scene di film. Di sebuah turnamen lokal, Dico dan teman-temannya dari kawasan kumuh, yang bahkan tak mampu membeli sepatu, berhasil membuktikan diri bisa berprestasi. Dico membuktikan diri sebagai pemain berbakat, motor tim apik, dan membawa timnya ke final melawan The Kings. Meski akhirnya kalah, Dico menyumbang mayoritas gol timnya. Dia mempertontonkan permainan cantik sekaligus melestarikan style ginga Brazil yang kala itu mulai ditinggalkan lantaran dianggap primitif.

Pemain legendaris Waldemar de Brito (Milton Goncalves), yang kepincut permainan cantik Dico, menawarkannya bergabung ke klub Santos. Dari sanalah bintang Dico kian benderang kendati dia sempat ingin kabur lantaran tak kuat. Dico tak pernah menyangka bakal terpilih ke dalam squad pro klub itu dalam waktu singkat. Yang jauh lebih tak disangkanya, dia terpilih menjadi bagian squad timnas Brazil ke Piala Dunia 1958.

Scene-scene keikutsertaan Brazil di Piala Dunia 1958 bergantian dengan suasana batin Dico dan ketegangan rakyat Brazil, yang terus mengikuti perkembangan turnamen dari radio, memenuhi bagian akhir film. Dramatisasi apik dari sutradara mencapai klimak. Hal itu tergambar jelas dari figur Dico.

Dico menjadi sentral lantaran usianya paling muda dalam kejuaraan itu. Demam panggung membuat bebannya kian berat. Lebih dramatis lagi, dia datang masih dengan cedera lutut. Debutnya dia lewati dengan tampil buruk, membuatnya hampir frustrasi. Beruntung orang-orang di sekelilingnya memberinya dukungan, terutama Pelatih Vincente Feola (Vincent D’Onofrio) dan Mazzola. Mereka berhasil membangkitkan kepercayaan diri Dico sehingga bisa “berkata” lain. Bintang bernama Pele pun lahir.

 
Terpopuler di Historia 
Komentar anda
Majalah
Laporan Khusus
Majalah Historia Cetak
berikutnya
 
Nomor 35 Tahun 3
Kuliner Nusantara Rasa dan Cerita
Kali ini kami menyajikan kisah tentang makanan, tentang citarasa nusantara yang merentang sejak zaman dahulu kala. Tak hanya tentang masakan..
 
Judul: Pele: Birth of a Legend | Sutradara: Jeff Zimbalist dan Michael Zimbalist | Produser: Ivan Orlic, Brian Grazer, Isabelle Tanugi dll. | Pemain: Kevin de Paula, Milton Goncalves, Diego Bonita, Vincent D'Onofrio, Colm Meaney, dll. | Produksi: Imagine Entertainment dan Seine Pictures | Rilis: Mei 2016 | Durasi: 107 menit.
Foto
Judul: Pele: Birth of a Legend | Sutradara: Jeff Zimbalist dan Michael Zimbalist | Produser: Ivan Orlic, Brian Grazer, Isabelle Tanugi dll. | Pemain: Kevin de Paula, Milton Goncalves, Diego Bonita, Vincent D'Onofrio, Colm Meaney, dll. | Produksi: Imagine Entertainment dan Seine Pictures | Rilis: Mei 2016 | Durasi: 107 menit.
Foto