Pilih Bahasa: Indonesia
halaman 1

Soegija dalam Film dan Buku

Dalam film: 40 persen tentang Soegija, 60 persen soal lainnya. Dalam buku: sosok Soegija jauh lebih utuh.
Historia
Historia
pengunjung
7.4k

Ini film tentang seorang tokoh yang hidup pada masa lalu, tapi sarat pesan bagi yang hidup di masa kini. Semacam proyeksi dari masa lalu untuk masa kini dari kisah kehidupan seorang Katolik, yang umatnya di masa kini dihumbalang persoalan akibat meningkatnya intoleransi.

Adegan pembuka cukup mengesankan. Seorang pastor Jawa berkhotbah dalam bahasa Belanda di hadapan jemaatnya yang terdiri dari beragam suku bangsa: inlanders yang duduk lesehan sementara tuan-tuan Belanda duduk di kursi. Soegija, lakon utama film ini, menganjurkan manusia berbuat kebajikan, mengajarkan bahwa kemanusiaan itu satu adanya.

Film besutan sutradara Garin Nugroho merekam sepenggal babak kehidupan Soegija pada zaman pancaroba. Kala Hindia Belanda di ujung tanduk, Jepang datang dan tak lama kemudian tiba saatnya revolusi kemerdekaan. Film ini merekam pergulatan batin seorang pastor Jawa yang kemudian ditahbiskan sebagai uskup danaba, pemimpin tertinggi umat Katolik di Hindia Belanda, kemudian di Indonesia saat melintasi zaman yang penuh prahara itu.

Laiknya sebuah pohon yang dipenuhi dahan dan ranting, film ini terlalu banyak menampilkan kisah tentang dahan dan ranting ketimbang batang pokoknya sendiri (baca: kisah Soegija). Harapan untuk menonton biografi Soegija pupus ketika subplot lebih sering disuguhkan ketimbang plotnya sendiri.

Adegan demi adegan terlalu cepat melompat. Mengesankan terlalu banyak yang hendak disampaikan namun hanya tersisa sedikit waktu untuk mengatakan semuanya. Alih-alih memadatkan cerita, alur pengisahan yang berlompat cepat itu malah menimbulkan kebingungan tentang apa yang hendak dikatakan oleh film ini: tentang Soegija? Tentang Mariyem? Tentang laskar republikein? Atau tentang kehidupan tentara Belanda? Semua campur aduk sambil sesekali diselingi adegan-adegan lucu dan guyon Butet Kertaredjasa yang memerankan Koster Toegimin, orang dekat Soegija.

Agaknya pengisahan yang dipercepat itu mungkin karena film ini hendak bercerita secara kronologis babakan kehidupan Soegija. Problem kisah yang kronologis adalah urutan cerita berdasarkan periode. Maka itu membutuhkan waktu yang panjang untuk berkisah dari setiap zaman yang ditampilkan. Dan di film ini, ada hal-hal yang melompat jauh melampaui zamannya juga ada yang terkesan dipaksakan.

Ketika Jepang tiba, misalnya, Robert (Wouter Zweers) sang serdadu Belanda dan Hendrick (Wouter Braaf) kawannya masih menikmati permainan tenis seolah mereka tidak tahu bahwa Jepang akan datang. Padahal ketika Jepang datang pada Maret 1942, kendati tak ada perlawanan yang berarti dari tentara Belanda, semua tentara Belanda dalam keadaan siaga.

Menurut kesaksian AH Nasution, yang pada saat itu perwira KNIL (Koninklijk Nederlands Indisch Leger), seluruh pasukan Belanda ditarik keluar dari markasnya dan membuat pertahanan di pinggiran kota. Dan kita tahu bahwa tak ada sama sekali perlawanan dari Belanda sampai dengan Belanda bertekuk lutut kepada Jepang di Kalijati, Cirebon. Jadi, agak mustahil rasanya jika pada hari H kedatangan Jepang, tentara Belanda bersantai di markasnya, apalagi masih sempat main tenis.

 
Terpopuler di Historia 
Komentar anda
Majalah
Laporan Khusus
Majalah Historia Cetak
berikutnya
 
Nomor 36 Tahun III
Masa Lalu Partai NU
Salah satu organisasi muslim terbesar di negeri ini yang menjadi rebutan untuk mendulang suara pemilih muslim adalah Nahdlatul Ulama (NU)...
 
Historia
Historia