Pilih Bahasa: Indonesia
halaman 2

Singa Betina dari Haarlem

Kematian putrinya membuatnya banting stir menjadi pejuang. Reputasinya, yang ikut mengantar kemerdekaan Belanda, membuat namanya melegenda.
 
Kenau. Sutradara Maarten Treurniet. Pemain: Monic Hendrickx, Barry Atsma, Lisa Smit, Sallie Harmsen, Fransisco Oimos, dll. Produksi Dutch Film Works, Nederlands Film Fonds, & FU Works. Rilis Maret 2014.
Historia
pengunjung
6.9k

Sosok Ibu

Kala itu, Belanda masih menjadi wilayah pendudukan Spanyol. Dengan dalih “Perang Suci”, Raja Spanyol Phillip II menduduki wilayah-wilayah di Belanda dan menyebarkan agama Katolik. Gubernur Don Alvares de Toledo mengutus anaknya, Don Fadrique de Toledo, memimpin pasukan. Kota demi kota jatuh ke tangan Spanyol.

Yang tersisa hanyalah Haarlem. Beberapa kali serangan Spanyol ke kota itu selalu menemui kegagalan. Pengepungan kota menjadi jalan satu-satunya. Di tengah suasana mencekam itulah Kenau memutuskan untuk berjuang. Didukung sejumlah janda, Kenau membentuk pasukan yang terdiri dari tigaratus perempuan. Bersama pasukan di bawah pimpinan Wigbolt Ripperda (Barry Atsma), mereka bagu-membahu mempertahankan kota dalam sejumlah pertempuran dan mempermalukan Fadrique de Toledo. Ripperda sendiri ayah dari Pieter Ripperda, kekasih Gertruide, yang juga dihukum bakar oleh pasukan pendudukan Spanyol.

Di suatu tempat saat hujan badai, misalnya, Kenau dan pasukannya menyergap pasukan logistik musuh. Relasi Kenau dengan orang-orang dekat Fadrique memberi keuntungan baginya. Dari janda mantan walikota yang ditiduri Fadrique, Kenau mendapat informasi rencana penyerangan pasukan Spanyol.

Dalam suasana perang itu, Kenau tetaplah sesosok ibu. Air mata kerap menghiasi pipinya. Dia mengkhawatirkan putrinya, Kathelijne. Kekhawatiran itu pula yang membuat Kenau melarang Kathelijne ikut berperang. Ketika benteng kota jebol dan penduduk melarikan diri, alih-alih berkonsentrasi menghadapi musuh, Kenau malah sibuk mencari anaknya. Adegan komunikasi hingga ribut antara Kenau dan Kathelijne kerap muncul. Pun interaksi Kenau dengan orang-orang di sekelilingnya. Dengan apik sang sutradara membuat adegan perjuangan maupun yang manusiawi muncul silih-berganti.

Pada akhirnya, perjuangan penduduk Haarlem melemah akibat blokade yang berlangsung lama. Bantuan pasukan dari Pangeran William van Oranje juga urung datang karena dialihkan ke Alkmaar. Banteng kota pun jebol. Kenau dan Ripperda ditangkap. Sementara Ripperda dipenggal lehernya, Kenau dicemplungkan ke sungai.

Alih-alih membuat ending dengan adegan tentang Kenau, sehingga sangat biografis, sutradara Treurniet justru menutup filmnya dengan keterangan (tulisan) bahwa perjuangan penduduk Haarlem menjebol bendungan berhasil membanjiri Alkmaar dan memaksa pasukan Spanyol angkat kaki. Kelanjutan kisah Kenau dibiarkan menguap laiknya pahlawan pada umumnya yang tak menuntut balas jasa atas perjuangannya.

“Saya akan tetap tinggal dan bertempur, untuk kemerdekaan… untuk anak-anak kita, untuk Haarlem. Anak-cucu kita akan menyanyikan pujian tentang para pahlawan Haarlem... hidup aman di negeri merdeka,” demikian orasi Kenau di depan pasukan perempuannya.

 
Terpopuler di Historia 
Komentar anda
Majalah
Segera Terbit
 
Nomor 37 Tahun IV
Riwayat Syariat di Nusantara
Seiring berkembangnya komunitas muslim di Nusantara sebagai dampak arus perdagangan pada abad ke-13, jejak-jejak penerapan hukum Islam mulai bisa terlacak...
 
Kenau. Sutradara Maarten Treurniet. Pemain: Monic Hendrickx, Barry Atsma, Lisa Smit, Sallie Harmsen, Fransisco Oimos, dll. Produksi Dutch Film Works, Nederlands Film Fonds, & FU Works. Rilis Maret 2014.
Kenau. Sutradara Maarten Treurniet. Pemain: Monic Hendrickx, Barry Atsma, Lisa Smit, Sallie Harmsen, Fransisco Oimos, dll. Produksi Dutch Film Works, Nederlands Film Fonds, & FU Works. Rilis Maret 2014.