Pilih Bahasa: Indonesia
FILM

Sepuluh Tahun Penantian

Karena kesetiaannya pada sang majikan, seekor anjing jadi legenda. Patungnya berdiri di sejumlah tempat bak pahlawan.
Historia
Historia
pengunjung
9.7k

CERITA berawal ketika Profesor Parker Wilson (Richard Gere) menemukan seekor anjing kecil di stasiun kereta api Bedridge, Wonsocked, Amerika Serikat, tempat ia biasa pergi dan pulang bekerja. Ia membawa pulang anjing berjenis akita itu ke rumah dan memberinya nama Hachiko. Parker dan istrinya Cate (Joan Allen) merawat Hachiko hingga tumbuh besar. Tiada hari yang dilewatkan Parker tanpa bermain dengan Hachiko.

Suatu hari, ketika Hachiko sudah beranjak dewasa, tanpa disangka ia mengikuti Parker, yang hendak berangkat kerja, ke stasiun. Parker terpaksa keluar dari kereta untuk memulangkan Hachiko ke rumah. Namun, sorenya, Hachiko menjemputnya di stasiun. Sejak itu Parker membiarkan Hachiko mengantar-jemputnya di stasiun. Sampai suatu hari, Hachiko tak menemukan Parker di stasiun. Parker meninggal dunia karena serangan jantung ketika ia tengah mengajar.

Cate akhirnya menjual rumahnya dan meninggalkan Bedridge. Sementara Hachiko dipelihara anak perempuan Parker, Andy Wilson (Sarah Roemer). Berulang kali Hachiko kabur dari rumah Andy untuk pergi ke stasiun. Ia masih berharap menemukan Parker. Andy selalu menjemput Hachiko di stasiun, hingga akhirnya ia merelakan Hachiko pergi. Hachiko tinggal di stasiun dan pada pukul 17.00, seperti biasanya, ia akan duduk di bundaran depan stasiun. Keunikan tingkah laku Hachiko itu menarik perhatian orang-orang di sekitar stasiun, bahkan tulisan mengenainya dimuat di koran-koran. Kisah Hachiko pun menjadi legenda.

Kesetiaan Hachiko bertahan hingga tahun kesepuluh kematian Parker. Sampai akhirnya, pada musim dingin, Hachiko meninggal di bundaran stasiun di tengah malam.

Seperti film tentang kesetiaan anjing, Hachiko: A Dog’s Story menyentuh perasaan manusia. Rasanya, bukan penggemar anjing pun akan meneteskan air mata bila menonton film ini.

Film ini terinspirasi dari kisah nyata seekor anjing bernama Hachiko yang hidup di Jepang. Hachiko lahir 10 November 1923 dari induk bernama Goma-go dan anjing jantan bernama Oshinai-go. Namanya sewaktu kecil adalah Hachi. Pemiliknya keluarga Giichi Saito dari kota Odate, Akita. Lewat seorang perantara, Hachi dipungut keluarga Ueno.

Profesor Hidesaburo Ueno (53) yang mengajar ilmu pertanian di Universitas Kekaisaran Tokyo dan istrinya, Yae (39), adalah penyayang anjing. Ia beberapa kali memelihara anjing akita inu tapi semuanya tak berumur panjang. Di rumahnya, yang berdekatan dengan Stasiun Shibuya, Hachi dipelihara bersama dua ekor anjing lain, S dan John.

Setiap Profesor Ueno berangkat kerja, Hachi selalu mengantar hingga pintu rumah atau gerbang. Di pagi hari, bersama S dan John, Hachi kadang-kadang mengantar Profesor Ueno hingga Stasiun Shibuya. Di petang hari, Hachi kembali datang ke stasiun untuk menjemput.

Pada 21 Mei 1925, seusai mengikuti rapat di kampus, Profesor Ueno meninggal mendadak. Hachi terus menunggui majikannya yang tak kunjung pulang dan tak mau makan selama tiga hari.

Setelah kematian suaminya, yang tak pernah menikahinya secara resmi, Yae meninggalkan rumah. Ia menitipkan Hachi ke kerabatnya. Tapi karena berulah, Hachi bolak-balik pindah pengasuh. Hachi baru betah setelah tinggal di rumah Kikusaburo Kobayashi, tukang kebun keluarga Ueno, yang berdekatan dengan Stasiun Shibuya. Setiap harinya, sekitar jam-jam kepulangan Profesor Ueno, Hachi menunggu majikannya di stasiun.

Pada 1932, kisah Hachi mengundang perhatian Hirokichi Saito dari Asosiasi Pelestarian Anjing Jepang. Prihatin atas perlakuan kasar yang sering dialami Hachi di stasiun, Saito menulis kisah tentang Hachi. Artikel tersebut dikirimkannya ke harian Tokyo Asahi Shimbun, dan dimuat dengan judul “Itoshiya roken monogatari” (Kisah Anjing Tua yang Tercinta).

Masyarakat Jepang akhirnya tahu kesetiaan Hachi. Setelah Hachi menjadi terkenal, orang-orang di sekitar Stasiun Shibuya mulai menyayanginya. Sejak itu pula ko (sayang) ditambahkan di belakang nama Hachi, dan orang memanggilnya Hachiko.

Kenalan Saito, seorang pematung bernama Teru Ando, tersentuh dengan kisah Hachiko. Ando membuat patung perungu yang kemudian dipajang di depan Stasiun Shibuya. Ando juga membuat patung Hachiko sedang tiarap, yang dihadiahkannya kepada Kaisar Hirohito dan Permasuri Kojun.

Selepas pukul 06.00 pagi, tanggal 8 Maret 1935, Hachiko, 13 tahun, ditemukan sudah tak bernyawa di jalan dekat Jembatan Inari, Sungai Shibuya. Hasil otopsi menyebutkan, penyebab kematiannya adalah filarisasi. Upacara perpisahan dengan Hachiko di Stasiun Shibuya dihadiri banyak orang. Hachiko dimakamkan di samping Profesor Ueno di Pemakaman Aoyama. Bagian luar tubuh Hachiko diopset, dan hingga kini dipamerkan di Museum Nasional Ilmu Pengetahuan, Ueno, Tokyo.

Pada 8 Juli 1935, patung Hachiko didirikan di kota kelahiran Hachiko, tepatnya di depan Stasiun Odate. Dua tahun berikutnya, kisah Hachiko masuk buku pendidikan moral untuk murid kelas 2 sekolah rakyat di Jepang. Pada 1944, di tengah kecamuk Perang Dunia II, patung perunggu Hachiko dilebur untuk keperluan perang. Patung pengganti yang sekarang berada di Shibuya adalah patung yang selesai dibuat Agustus 1948 oleh Takeshi Ando, anak laki-laki Teru Ando.

Kisah Hachiko pernah diangkat ke layar lebar pada 1987 dengan judul Hachiko Monogatari karya sutradara Seijiro Koyama. Lalu, pada 2006, sebuah drama spesial berdurasi dua jam, Densetsu no Akitaken Hachi (Legenda Hachi Si Anjing Akita), ditayangkan jaringan televisi Nippon Television.

Film Hachiko: A Dog’s Story, adalah persembahan terbaru tentang Hachiko.

 
Terpopuler di Historia 
Komentar anda
Majalah
Laporan Khusus
Majalah Historia Cetak
berikutnya
 
Nomor 34 Tahun 3
Murba Partai Terakhir Tan Malaka
Pembahasan mengenai Tan Malaka sudah sering dimuat di berbagai media massa. Tak berbilang banyaknya orang membahas bapak republik itu di..
 
Historia
Historia