Pilih Bahasa: Indonesia
Musik

Meong... Meong... Segala Zaman

Sebuah lagu jenaka tak malu-malu kucing untuk tetap populer hingga kini.
Historia
Historia
pengunjung
11k

LIRIKNYA kritis, terkesan nyinyir dan menyindir. Namun Oey Yok Siang, sang pencipta lagu, sepertinya cukup pandai dengan membalutnya dalam gubahan tempo yang menarik dan segar sehingga terdengar menggelitik di telinga. Permainan metafor pada lirik pun membuat lagu jadi penuh kesan jenaka. Coba saja simak liriknya:

Apa guna bung malu malu kucing
Meong meong di belakang suaranya nyaring
Jangan suka bung diam diam kucing
Sudah menerkam sebelumnya berunding

”Lirik lagu ini berisi tentang sindiran-sindiran kepada oknum-oknum tertentu dalam lingkungan masyarakat yang kerap gemar mengadu domba dan memancing kerusuhan. Pada masa itu cara mengkritik memang masih seperti itu, dibalut dalam lagu yang syairnya berpantun. Mungkin karena adat ketimuran masih sangat kuat,” kata pengamat musik Denny Sakrie.

Diciptakan dan populer pada 1950-an, lagu bergenre keroncong ini kemudian memiliki banyak versi. Belakangan lagu ini kembali naik daun setelah dirilis ulang oleh grup band White Shoes And The Couples Company, yang menghadirkannya dalam balutan jazz. Lagu “Aksi Kucing” sepertinya belum usang dimakan zaman.

“Kalau siapa yang membawakan pertama kali saya tidak bisa memastikan, karena banyak sekali yang pernah membawakannya. Rima Melati pun dulu sempat membawakannya. Lagu ini diciptakan sekitar tahun 1952-1953,” kata Denny.

Kemunculan “Aksi Kucing” tak bisa lepas dari kejayaan kesenian Gambang Semarang, yang dikembangkan Lie Hoo Soen, anggota Volksraad (Dewan Rakyat) Semarang yang juga penggemar musik keroncong dan pengurus organisasi kesenian Krido Hartojo. Dia juga dikenal sebagai orang kepercayaan pengusaha kaya Oei Tiong Ham yang dijuluki Raja Gula.

Menurut Dewi Yuliati, sejarawan asal Semarang, dalam artikel “Kesenian Gambang Semarang: Suatu Bentuk Integrasi Budaya Jawa dan Cina”, sampai saat ini asal-usul kesenian Gambang Semarang masih diperdebatkan. Ada yang menyebutnya kesenian “impor” dari Betawi, karena dulu alat-alat musiknya dibeli dari sana dan tak berbeda dengan alat-alat musik Gambang Kromong. Ada juga yang menganggapnya berasal dari Semarang, dibawa dan dikembangkan para imigran Tiongkok yang langsung menuju Semarang.

“Terlepas dari kontroversi mengenai asal-usul Gambang Semarang, tidak dapat diingkari bahwa kesenian itu lahir atas prakarsa masyarakat Semarang sendiri,” tulis Dewi Yuliati.

Kesenian ini meramaikan pasar malam dan tersohor di hingga kota Kudus, Pati, Juwana, Temanggung, Parakan, Wonosobo, Magelang, Weleri, Pekalongan, dan Cirebon. Saking populernya, Oey Yok Siang dan Sidik Pramono, dua seniman Magelang yang terpesona dengan nilai estetis kesenian ini, terinspirasi untuk membuat lagu “Empat Penari” pada 1940. Jika mengunjungi Semarang, Anda mungkin akan mendengar lagu “Empat Penari” ini.

Oey Yok Siang menyukai Gambang Semarang. Tak heran jika dari tangannya lahir beberapa lagu yang cocok dengan iringan musik kesenian ini. Selain “Empat Penari”, dia membuat lagu “Impian Semalam” dan “Aksi Kucing” yang kemudian dipakai sutradara M Arief untuk mengisi film film Lenggang Djakarta (1953).

Gitar Kesayangan

Oey Yok Siang dikenal sebagai pencipta lagu handal pada 1950-an, terutama untuk keperluan soundtrack film. Perusahaan Bintang Surabaja Film kerap menggunakan jasanya. Itulah sebabnya, meski tinggal di Magelang, Oey kerap bermukim di Jakarta atau Malang selama 1-3 bulan. Beberapa lagu terlahir dari tangannya seperti “Radja Sehari”, ”Badju Batik”, “Terkenang Ibu”, “Idaman Gadis Taruna”, dan “Pilihlah Aku” untuk mengisi film Putri Solo (1953) garapan sutradara Fred Young. Setahun kemudian, Oey menciptakan lagu “Djoko Lodang” dan “Getuk Lindri” untuk film Sebatang Kara, juga karya sutradara Fred Young.

Pada tahun 1950-an, Oey juga sudah meluncurkan album. Lagu-lagunya seperti “Gambang Semarang”, “Impian Semalam”, “Berdendang Sajang”, “Aksi Kucing”, dan “Romeo & Juliet” terekam kali pertama dalam album piringan hitam di bawah bendera Irama Djakarta.

Oey seorang seniman sejati. Dia menggantungkan hidup pada karya-karyanya. Teman sejatinya adalah sebuah gitar, satu-satunya alat untuk menciptakan lagu. “Sebagaimana diketahui, Oey Yok Siang itu dalam mencipta lagu-lagu rakyat populer tidak pernah menggunakan piano. Tetapi satu alat yang dapat dikatakan sudah menjadi darah dagingnya adalah gitar,” tulis Tjia Koen Hwa dalam majalah Pantjawarna, April 1960.

Meski popular, dia tak pernah lupa keluarga. Dia menyisihkan dan mengirimkan sebagian penghasilannya ke rumah. Namun kesulitan keuangan menghampiri ketika pesanan dari Bintang Surabaja Film mulai seret pada medio 1960-an. Sementara dia lagi memperbaiki rumahnya di Magelang. Untuk menambal kekurangannya, Oey terpaksa melego satu-satunya gitar kesayangan.

Tanpa gitar, Oey mulai pesimis memandang hidupnya. Hingga suatu ketika dia mendapat serangan asma, penyakit yang sudah lama dia derita. Komplikasi dengan tekanan darah tinggi memperparah kondisi tubuhnya.

Pada akhirnya, di kediamannya di Jalan Karet 29 B, Magelang, Oey Yok Siang menghembuskan nafas terakhir pada 5 Maret 1960. Dia meninggalkan seorang istri dan seorang anak angkat bernama Agus Affandi yang baru berumur empat tahun.

Sebelum meninggal, Oey sempat berpesan pada ibu kandung anak angkatnya: “Agus jangan diambil kembali ya.” Agus pula yang mengurus hak cipta lagu-lagu Oey, dengan meminta bantuan PT Penerbit Karya Musik Pertiwi (PMP) di Jakarta. PMP, yang antara lain menghimpun dan mengelola karya cipta lagu dan musik, mendata 18 lagu karya Oey Yok Siang. Sayangnya, PMP tak memberikan data lengkap mengenai masing-masing lagu.

Aksi Kucing

Dari sebegitu banyak lagu, “Aksi Kucing” jadi salah satu yang popularitasnya melewati zaman. Lagu ini kerap dibawakan penyanyi-penyanyi tenar tanah air. Pada 1960-an Nien Lesmana (istri Jack Lesmana dan ibu dari Indra Lesmana) pernah membawakannya dengan nuansa swing big band dan rock and roll yang kental. Mendengarnya sedikit mengingatkan pada irama lagu-lagu The Beatles atau Koes Ploes, kental dengan suara cabikan senar gitar dan bass khas rock and roll.

“Lagu-lagu Nien biasanya lebih ke pop atau jazz. Lagu-lagu Nien kan yang mengaransemen Jack Lesmana. Jack sendiri bisa main apa saja. Jadi sebuah lagu dia mau aransemen model apa saja, asyik aja. Mau di jazz-in, rock, bisa,” kata Ricky Surya Virgana, anggota band White Shoes And The Couples Company.

Pada 1970-an penyanyi Mus Mulyadi memasukkan “Aksi Kucing” dalam album Keroncong Jenaka. Dia membawakan lagu ini berduet dengan Mamiek Marsadi.

Lagu ini juga populer di negara tetangga. Kartina Dahari, penyanyi asal Singapura yang mendapat julukan “Ratu Keroncong dari Melayu”, memasukannya dalam album Kroncong Tina pada 1973. Di album ini, “Aksi Kucing” mendapat sentuhan aransemen ulang oleh Kassim Masdor, juga dari Singapura.

Memasuki tahun 2006, “Aksi Kucing” kembali populer setelah menjadi soundtrack film Berbagi Suami garapan Nia Dinata. Lagu “Aksi Kucing” dilantunkan penyanyi Jetti dengan iringan Orkes Gambang Kromong Lie Tan di bawah pimpinan Tan A Hoy. Selain tampil dalam film, “Aksi Kucing” masuk dalam album kompilasi Ost Berbagi Suami. Ini bukan kali pertama “Aksi Kucing” menjadi soundtrack. Pada 1953, lagu ini sudah pernah dipakai sutradara M Arief untuk menghiasi film Lenggang Djakarta (1953).

White Shoes And The Couple Company, yang ikut-serta dalam album Ost Berbagi Suami tapi membawakan lagu “Sabda Alam” dan “Bersandar”, memasukkan “Aksi Kucing” dalam extended play (EP/ album mini) Skenario Masa Muda yang rilis tahun 2007. Dalam album ini, “Aksi Kucing” menjadi single andalan yang ditawarkan kepada pendengar.

“Lagu-lagu yang dulu sempat hits selalu ada peluang untuk terkenal atau ngetop lagi. Tapi tentunya harus digarap secara tepat. Kalau sekadar membawakan atau menyanyikan kembali tanpa ada sentuhan baru jadi agak riskan,” kata Denny.

White Shoes memberikan sentuhan nuansa jazz yang diramu lewat permainan senar drum nan ritmis dan permainan melodi solo gitar berpadu saxophone di bagian interlude. Kenapa memasukkan “Aksi Kucing”? “Pertama, itu lagu bagus. Kedua, banyak orang, terutama anak muda, yang belum pernah dengar lagu itu. Makna liriknya sebenarnya kan cukup dalam. Intinya, kita ingin memperlihatkan kepada anak-anak muda sekarang kalau Indonesia juga memiliki lagu-lagu bagus yang berkualitas,” kata Ricky dari White Shoes.

Pilihan yang tak sepenunya salah. Terbukti, kata Ricky, “Setiap kali kita manggung banyak penonton yang selalu meminta agar kita memainkan lagu ‘Aksi Kucing’.”

Meong, meong...

 
Terpopuler di Historia 
Komentar anda
Majalah
Laporan Khusus
Majalah Historia Cetak
berikutnya
 
Nomor 34 Tahun 3
Murba Partai Terakhir Tan Malaka
Pembahasan mengenai Tan Malaka sudah sering dimuat di berbagai media massa. Tak berbilang banyaknya orang membahas bapak republik itu di..
 
Historia
Historia