Pilih Bahasa: Indonesia

Film Seri Idaman Tahun 80-an

Penanyangannya ditunggu-tunggu pemirsa. Kisahnya dibalut pesan mengenai pendidikan hingga sejarah perjuangan bangsa.
 
Cuplikan film seri Aku Cinta Indonesia.
Historia
pengunjung
1.9k

SUATU siang, di sebuah sekolah menengah pertama, terjadi kegaduhan. Uang milik salah satu siswi yang disimpan di dalam tas tiba-tiba raib. Berita itu sampai ke telinga wali kelas. Dilakukanlah penggeledahan terhadap setiap tas para siswa di kelas itu. Uang itu ditemukan di tas seorang siswi bernama Wati. Seluruh kelas mencapnya sebagai pencuri.

Tak merasa mengambil uang itu, Wati sakit hati. Ia merasa difitnah.

Pihak sekolah bersiap memberikan sanksi tegas: mengeluarkan Wati dari sekolah. Kabar itu menyebar.

Pada akhirnya terkuak cerita sesungguhnya. Seorang siswa menemukan gulungan uang di bawah meja Wati saat jam istirahat dan ruangan kelas kosong. Mengira uang milik Wati, ia langsung memasukkannya ke tas Wati. Setelah tahu cerita sebenarnya, Amir segera meminta sebagian temannya menghubungi kepala sekolah dan yang lain meminta maaf kepada Wati.

Namun Wati terlanjur sakit hati. “Tidak! aku tidak akan memaafkan kalian, karena tidak ada yang perlu dimaafkan. Sumpah! Aku tidak menjadi susah karena tuduhan kalian. Selama ini toh aku dianggap sebagai anak yang buruk, jahat, usil, suka memfitnah. Aku ini sudah dikontrak sebagai tukang fitnah. Sekali aku difitnah, tidak apa kan?” jawab Wati ketus.

Itulah sepenggal adegan dalam film seri Aku Cinta Indonesia (ACI), yang ditayangkan Televisi Republik Indonesia (TVRI) dan digemari penonton pada 1980-an.

“Saya masih ingat saat ikut casting ACI. Tesnya dilakukan dengan membaca kalimat milik karakter baik dan jahat, lalu direkam di dalam studio. Tak beberapa lama, saya mendapat kabar bahwa saya mendapat peran Wati yang antagonis,” ujar Tursina Andriyani, pemeran tokoh Wati, kepada Historia.

Gagasan Film Seri

Pada 1 Juli 1983, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nugroho Notosusanto dan Menteri Penerangan Harmoko bertemu. Mereka berembug mengenai gagasan pembuatan film seri produksi dalam negeri, agar tak mengimpor film seri lagi. Mereka merumuskan tiga tema film seri: perjuangan, sejarah revolusi, dan celah-celah kehidupan siswa. Dari ketiga tema itu, celah-celah kehidupan siswa lebih dahulu melangkah ke arah produksi.

Pusat Teknologi Komunikasi Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (Pustekkom Depdikbud) diserahi tanggungjawab besama TVRI yang mewakili Departemen Penerangan (Deppen). Sebagai langkah awal, pada 18 Juli 1983, berlangsung rapat pembagian kerja di kantor Badan Penelitian dan Pengembangan Depdikbud, Jakarta. Hasilnya: Pustekkom mendapat jatah menyusun naskah skenario, sementara TVRI yang akan memproduksi film seri tersebut.

“Saat itu belum ada gambaran serial yang mau dibikin bentuknya seperti apa, waktu putarnya berapa lama, siapa tokoh pemeran utama tetap dan pemeran tetap bukan utama,” tulis Arswendo Atmowiloto dalam artikel “Film Seri ACI Mulai 5 April 1985”, termuat dalam buku Telaah Tentang Televisi.

Arswendo, beserta penulis skenario lainnya, hadir dalam sebuah lokakarya yang dihelat Depdikbud dan TVRI pada pada 2-4 Agustus 1983. Lokakarya ini menyepakati tema pendidikan dengan materi mengenai narkotika, perkelahian, anak membolos, penguatan kepercayaan diri, dan hubungan siswa-guru-orangtua. Judul kerja pun muncul: ACI yang merupakan singkatan dari Amir, Cici, Ito. Judul ini dicetuskan Arswendo dalam lokakarya.

Usul Arswendo ditolak Nugroho Notosusanto dengan alasan mirip dengan sebuah nama geng remaja. Arswendo tak kehilangan akal, ACI bisa juga berarti Aku Cinta Indonesia. Usul ini diterima. Persiapan pun dilakukan, termasuk pencarian pemeran.

“Setelah mendapat kabar ada casting film, saya diantar orangtua berangkat ke Pustekkom sembari membawa biodata dan foto diri. Ternyata di sana sudah banyak anak sebaya yang ikutcasting. Kebanyakan anak-anak dari sanggar teater juga,” ujar Nina, sapaan akrab Tursina Andriyani. Nina, yang saat itu duduk di bangku kelas 6 sekolah dasar, bergiat di Sanggar Tanjung BPKKS (Badan Pembina Kegiatan-Kegiatan Sosial) Jakarta.

Beberapa anak lolos casting. Amir diperankan Agil Syahrial, Cici oleh Diah Ekowati Utomo; Ito dipegang Ario Sagantoro, tokoh antagonis Wati diserahkan kepada Tursina Andriyani, dan Hengki diperankan I. Nyoman Aryadi.

Jusufhadi Miarso, kepala Pustekkom, lalu melakukan ujicoba produksi dengan menggarap skenario Joko Lelono berjudul Gatal-gatal Tenar. Arie S. Mukmin jadi sutradara dan Sanjaya sebagai pengarah kamera.

Gatal-gatal Tenar berkisah megenai Ito dan Utami yang sedang mencari kodok sebagai bahan penelitian untuk ikut karya ilmiah remaja. Usaha keduanya didukung Amir dan Cici. Namun, dua anak lain, Wati dan Hengki, mencoba menggagalkannya. Bahkan Wati menaruh ulat bulu di laci Utami, hingga membuat Utami terserang gatal-gatal. Namun, justru dari sinilah Utami mendapat ide membuat makalah dengan judul “Mengapa Ulat Berbulu Gatal”. Karya tulisnya akhirnya menyabet juara.

Ujicoba penayangan Gatal-gatal Tenar, dikutip Kompas 18 Desember 1983, dilakukan di hadapan para pendidik, TVRI, dan para siswa. Hasilnya tidak mengecewakan. Mayoritas menerima.

Produksi dan Tayang

Memasuki tahun 1984, proses syuting dimulai. Karena TVRI belum bisa produksi, sebagian besar ditangani Pusat Produksi Film Negara (PPFN) dan sebagian sisanya oleh Pustekkom. Tiga episode diproduksi secara serentak: Duel 3x karya Arswendo, Nuk, Semua Sayang Padamu (Joko Lelono), dan Karya Tanpa Nama (H. Elsya Surya). “Ketiga naskah ini secara langsung merupakan introduksi bentuk, tema, tokoh pemeran, jenis, serta warna ACI,” tulis Arswendo.

Lokasi yang diambil, menurut Tursina Andriyani, banyak dilakukan di lingkungan Pustekkom di Ciputat dan beberapa kampung di Depok. Nina ingat betul bagaimana situasi melakukan syuting ACI di Pustekkom. “Saat syuting, saya masih duduk di kelas 6 SD. Waktu syutingnya lama, sampai satu tahun. Jadi setelah sekolah langsung syuting, begitu terus,” ujarnya.

Proses syuting bukan tanpa masalah. Menurut Arswendo, segalanya masih serba menggantung. Perubahan terjadi si sana-sini. Jusufhadi Miarso, yang terlibat di awal produksi, ditarik menjadi staf ahli menteri pendidikan dan kebudayaan. Sudarsono Sudirdjo dilantik menjadi kepala Pustekkom dan juga penanggungjawab program film seri ACI. Ada pula kendala lain yang menghadang. Misalnya, persiapan naskah yang harus sesuai target, para pemeran yang masih duduk di bangku sekolah, serta kesibukan masing-masing pemeran.

“Bahkan akhirnya, rencana penyiaran di TVRI tanggal 1 April 1984 pun tertunda,”catat Arswendo.

Beberapa bisa ditolerir. Tapi yang terjadi kemudian pergeseran dari rencana semula. Misalnya, dalam rencana terdapat lagu khusus untuk setiap episode di samping lagu latar utama yang diciptakan Toni Danoe dan lirik ditulis Arswendo. Namun dalam proses, keberadaan lagu khusus itu tidak konsisten untuk berganti di setiap episode. Terjadi pula pergantian pemeran ibu Cici dan ibu Amir. Maklum, tulis Arswendo, “cara kerja ‘dinas’ melewati struktur dan birokrasi yang ada.”

Kelemahan-kelemahan itu akhirnya bisa teratasi. Seperti soal naskah skenario, menurut Arswendo, terdapat sinergi antara pejabat atau pendidik dalam memberikan pokok-pokok permasalahan, dan para penulis mendapat keleluasaan dalam mengembangkan naskahnya.

“Ini termasuk istimewa karena biasanya program-program pemerintah selalu tampil kaku dan formal. Kerjasama antara sumber cerita dan pengolah cerita –sebelum dituangkan dalam bentuk skenario– merupakan tradisi kesenian yang baik,” catat Arswendo.

Setelah molor setahun, pada 5 April 1985, film seri ACI mulai tayang di TVRI setiap jumat malam mulai pukul 19.35 hingga 20.05.

ACI langsung memikat pemirsa. Bagaimana tidak, cerita berganti tiap episode, dengan penulis skenario dan sutradara tidak selalu sama. Misalnya, dalam episode Si Nonot Jera, Heroe Soehendro jadi penulis skenario sekaligus sutradara. Abadan Eff Sangling jadi penulis skenario sekaligus sutradara antara lain dalam episode Nyanyian Burung Kedasih dan Menggapai Cita-cita. Selain dari sisi cerita, film menjadi menarik karena ditunjang pula dengan jingle khusus yang enak didengar. Para pemainnya pun menjadi idola masyarakat.

“Surat dari penggemar dalam sebulan sampai sekarung,” kenang Nina.

Film seri ACI berlangsung hingga lama. Menurut Nina, kisah dalam film ACI tak berhenti saat tokoh-tokohnya di jenjang SMP namun meningkat hingga Sekolah Menengah Atas (SMA). “Namun saat ACI SMA, hanya saya yang kembali ikut. Lalu ada Sally Marcelina dan Sylvana Herman yang turut meramaikannya,” ujar Nina.

Pemeran utama dalam ACI SMA adalah Yuyu Wahyudin sebagai Dadang, Januarizal (Binsar), Sarah Salatin (Bu Astuti). Yang lainnya, termasuk Sally Marcelina dan Sylvana Herman, pemeran pembantu. Tapi dalam beberapa episode pemeran utamanya bisa berganti-ganti.

Kerjasama Departemen Pendidikan dan Kebudayaan dengan Departemen Penerangan kemudian berlanjut. Dengan mendompleng sukses film seri ACI, dibikinlah film ACI seri PSPB. Dalam penulisan ceritanya, Pusat Sejarah Angkatan Bersenjata Republik Indonesia –kini Tentara Nasional Indonesia– terlibat di dalamnya. Ini ada kaitannya dengan mata pelajaran yang diajarkan di bangku sekolah, yakni Pelajaran Sejarah Perjuangan Bangsa (PSPB). Dengan kata lain, film seri ini dimaksudkan untuk mendukung sejarah resmi versi pemerintah.

Produksi ACI seri PSPB tetap digarap PPFN dan Pustekkom. Sesuai namanya, film seri ini mengangkat tema-tema perjuangan, dari Gerbong Maut (Peristiwa Bondowoso 23 Nopember 1947), Desaku yang Kutinggalkan mengenai hijrah Divisi Siliwangi, Peristiwa Rengas Dengklok, hingga peristiwa bermuatan sejarah lokal (Baca: Fragmen DI/TII dalam Film Darah dan Doa).

Sama seperti ACI SMA, pemeran dalam ACI seri PSPB berganti-ganti tergantung materi yang diangkat. Begitu pula penulis skenario dan sutradaranya. Misalnya, dalam episode Gerbong Maut (Peristiwa Bondowoso 23 Nopember 1947, Gatut Kusuma jadi penulis skenario sekaligus sutradara (Baca: Setelah Peluit Terakhir Berbunyi).

Pada 1990-an, ketika Pustekkom dililit kesulitanan dana, film seri ACI pun macet.

Produksi Kembali

Pada 2014, 29 tahun sejak penayangan perdananya di TVRI, film ACI diangkat ke layar lebar dengan sentuhan lebih modern. Judulnya diubah jadi Kau dan Aku Cinta Indonesia. Sutradaranya Dirmawan Hatta. Film seri ACI yang tenar tahun 1980-an diringkas menjadi sebuah film layar lebar. ACI bukan lagi Amir; Cici, Ito melainkan Andi, Cahaya, Ian. Inti ceritanya adalah kepindahan Cahaya dari Jakarta ke desa dan menjalin persahabatan dengan Andi dan Ian.

Tak semua eks ACI 80-an ambil bagian dalam ACI format baru ini. Hanya Diah Ekowati Utomo yang dulu membawakan karakter Cici.

“Sebenarnya kami semua dikontak. Saya terlebih dulu tanya kepada Agil dan Ario serta kepada Oom Wendo (Arswendo Atmowiloto). Agil dan Ario menyarankan jangan turut dulu,” ujar Nina.

Benar saja, Arswendo Atmowiloto merasa dilangkahi dalam urusan hak cipta ACI. Dia menyayangkan, seperti dikutip halaman daring Warta Kota 4 Februari 2014, bahwa produksi ACI baru itu tidak meminta izin atau memberitahu secara tertulis kepada dirinya.

Kini, di saat layar kaca dipenuhi tayangan sinetron hingga telenovela, banyak orang merindukan kehadiran film-film yang mendidik seperti ACI.

 
Terpopuler di Historia 
Komentar anda
Majalah
Segera Terbit
 
Nomor 37 Tahun IV
Riwayat Syariat di Nusantara
Seiring berkembangnya komunitas muslim di Nusantara sebagai dampak arus perdagangan pada abad ke-13, jejak-jejak penerapan hukum Islam mulai bisa terlacak...
 
Cuplikan film seri Aku Cinta Indonesia.
Cuplikan film seri Aku Cinta Indonesia.