Pilih Bahasa: Indonesia
halaman 3

Wanita (Tak) Dijajah Pria Sejak Dulu?

Di masa Jawa Kuno, kedudukan perempuan bisa lebih rendah atau lebih tinggi dari laki-laki. Kesetaraan hadir hampir di semua bidang kehidupan.
 
Judul: Perempuan Jawa: Kedudukan dan Peranannya dalam Masyarakat Abad VIII-XV | Penulis: Titi Surti Nastiti | Penerbit: Pustaka Jaya | Terbit: 2016 | Tebal: xv + 448 halaman.
Foto
Historia
pengunjung
10.2k

Pembagian Kerja

Kesadaran gender memunculkan pembagian kerja secara seksual. Di kalangan petani, misalnya, pekerjaan berat seperti membajak atau mencangkul biasanya dilakukan lelaki, sementara pekerjaan ringan seperti menanam bibit atau memanen dikerjakan perempuan. Kendati demikian, tulis Titi, pembagian pekerjaan itu bukan berarti kelompok yang satu mendominasi yang lain tapi justru saling melengkapi. Pembagian kerja secara seksual juga tidak selalu baku. Sejumlah relief menggambarkan laki-laki sedang memasak dalam kesempatan-kesempatan tertentu.

Menariknya, Titi juga menunjukkan kedudukan perempuan tak selalu setara dengan lelaki. Ada beberapa aspek yang tidak setara, baik lebih tinggi atau lebih rendah.

Seorang istri bisa mempunyai kekuasaan lebih tinggi dari suaminya. Ini bisa dilihat dalam kasus Wikramawarddhana. Saat belum menjadi raja, dia mengeluarkan Prasasti Patapan II (1385 M) dan Prasasti Tirah atau Kara? Bog?m (1387 M) dengan memakai lambang daerah Lasem yang merupakan daerah kekuasaan Kusumawarddhan?, istrinya. Hal ini mencerminkan kekuasaan Kusumawarddhan? lebih besar dari Wikramawarddhana. Hal yang sama terjadi pada Bhre Wirabh?mi yang mendapat gelar dari istrinya, N?garawarddhan?.

Kedudukan perempuan juga bisa lebih rendah dari laki-laki. Di bidang agama, jabatan pemimpin agama (kawi) merupakan hak kaum pria. Di bidang sosial, poligami, pelacuran dan pelecehan seksual disahkan oleh penguasa. Lalu ada kebiasaan yang mengharuskan seorang istri ikut mati apabila suaminya meninggal lebih dulu (bela atau sati).

“Apabila ditelusuri asal mula dari adat istiadat yang menyebabkan adanya ketidaksetaraan maka dapat diketahui bahwa semua itu berasal dari kebudayaan India,” tulis Titi.

Kendati mengadopsi kebudayaan India, masyarakat Jawa Kuna melakukan penyesuaian dengan budayanya. Seperti disebutkan berita Portugis, laki-laki bangsawan juga melakukan bela atau sati sebagai tanda setia kepada rajanya –hal yang tak didapatkan di India. Dalam masalah hukum, hukuman yang dijatuhkan kepada laki-laki yang melakukan pelecehan seksual lebih berat daripada aturan-aturan dalam perundang-undangan di India.

 
Terpopuler di Historia 
Komentar anda
Majalah
Segera Terbit
 
Nomor 37 Tahun IV
Riwayat Syariat di Nusantara
Seiring berkembangnya komunitas muslim di Nusantara sebagai dampak arus perdagangan pada abad ke-13, jejak-jejak penerapan hukum Islam mulai bisa terlacak...
 
Judul: Perempuan Jawa: Kedudukan dan Peranannya dalam Masyarakat Abad VIII-XV | Penulis: Titi Surti Nastiti | Penerbit: Pustaka Jaya | Terbit: 2016 | Tebal: xv + 448 halaman.
Foto
Judul: Perempuan Jawa: Kedudukan dan Peranannya dalam Masyarakat Abad VIII-XV | Penulis: Titi Surti Nastiti | Penerbit: Pustaka Jaya | Terbit: 2016 | Tebal: xv + 448 halaman.
Foto