Pilih Bahasa: Indonesia
halaman 2

Wanita (Tak) Dijajah Pria Sejak Dulu?

Di masa Jawa Kuno, kedudukan perempuan bisa lebih rendah atau lebih tinggi dari laki-laki. Kesetaraan hadir hampir di semua bidang kehidupan.
Judul: Perempuan Jawa: Kedudukan dan Peranannya dalam Masyarakat Abad VIII-XV | Penulis: Titi Surti Nastiti | Penerbit: Pustaka Jaya | Terbit: 2016 | Tebal: xv + 448 halaman.
Foto
Historia
pengunjung
4.4k

Tak Ada Larangan

Tak ada aturan yang melarang perempuan memegang jabatan politik. Kendati tak sebanyak laki-laki, perempuan dapat menduduki jabatan pada struktur birokrasi paling rendah di pedesaan hingga jabatan tertinggi (raja).

Prasasti Mulak I (878 M) menyebut adanya seorang perempuan yang menduduki jabatan tuhalas, pejabat desa yang bertugas mengawasi hutan. Sementara untuk jabatan tertinggi, dari 52 penguasa sepanjang tujuh abad periode Jawa Kuna, tiga di antaranya perempuan. Prasasti Silet (1019 M) dan Prasasti Pucanan (1037 & 1041 M), misalnya, menyebut nama Sri Isanatunggawijaya, putri Mpu Sindok yang menduduki tahta kerajaan Medang –perempuan pertama yang menjadi ratu di Jawa. Menurut Titi Surti Nastiti, penulis buku ini, kesetaraan laki-laki dan perempuan dalam masyarakat Jawa Kuna berakar pada budaya yang tak membedakan hak waris.

Di bidang hukum, Prasasti Guntur (907 M) menyebut adanya perempuan yang menjadi saksi dan pemutus suatu perkara. Pada masa Hayam Wuruk memerintah Majapahit, perempuan dilibatkan dalam Dewan Pertimbangan Kerajaan, yang terdiri dari raja, permaisuri, ayah-bunda raja, paman raja, dua adik perempuan raja beserta suami mereka.

Perempuan juga bergerak di bidang ekonomi. Di pasar-pasar, perempuan dari kalangan rakyat biasa bukan hanya bertindak sebagai pembeli tapi juga penjual. Beberapa di antaranya menjadi saudagar, yang melakukan perniagaan bukan hanya di tingkat desa tapi juga regional dan internasional. Hal itu bisa dilihat dari istilah banigrami atau saudagar perempuan dalam relief Jatakamala yang terdapat pada Candi Borobudur.

Kendati tak disebutkan adanya pejabat keagamaan perempuan, kaum perempuan memainkan peranan dalam bidang agama. Prasasti Taji (901 M) menyebut adanya warga desa laki-laki dan perempuan yang membeli tanah bagi s?ma suatu bangunan suci. Ada juga perempuan yang menjadi pertapa hingga biksuni. Kisah Arjunawiwaha di Candi Jago menggambarkan perjalanan Arjuna ke Gunung Indrakila yang ditemani dua pendeta perempuan. Ketika terpaksa menginap di sebuah pertapaan, mereka diterima pendeta perempuan bernama Mahayani.

 
Terpopuler di Historia 
Komentar anda
Majalah
Laporan Khusus
Majalah Historia Cetak
berikutnya
 
Nomor 35 Tahun 3
Kuliner Nusantara Rasa dan Cerita
Kali ini kami menyajikan kisah tentang makanan, tentang citarasa nusantara yang merentang sejak zaman dahulu kala. Tak hanya tentang masakan..
 
Judul: Perempuan Jawa: Kedudukan dan Peranannya dalam Masyarakat Abad VIII-XV | Penulis: Titi Surti Nastiti | Penerbit: Pustaka Jaya | Terbit: 2016 | Tebal: xv + 448 halaman.
Foto
Judul: Perempuan Jawa: Kedudukan dan Peranannya dalam Masyarakat Abad VIII-XV | Penulis: Titi Surti Nastiti | Penerbit: Pustaka Jaya | Terbit: 2016 | Tebal: xv + 448 halaman.
Foto