Pilih Bahasa: Indonesia

Serupa Hari di Bulan April

Cerah dengan canda tawa sesaat dan berganti tangis tak lama kemudian. Gangguan bipolar mengguncang kehidupan seorang ibu negara Amerika Serikat.
 
Jason Emerson dengan bukunya, "The Madness of Mary Lincoln" (Southern Illinois University Press, 2007).
Foto
Historia
pengunjung
5.4k

Di suatu sore musim semi yang cerah, pasangan Mary dan Abraham Lincoln menikmati perjalanan berkereta kuda menuju kediaman presiden di Washington. Kehangatan dan kebahagiaan menyeruak dalam perbincangan mereka. Lincoln bersemangat membahas rencana masa pensiunnya: mengunjungi California, serta melancong ke Eropa dan Jerusalem. “Hari ini, aku bisa merasakan perang akan segera berakhir,” ucap presiden Amerika ke-16 kepada istrinya.

Keriangan pasangan ini berlanjut di malam hari. Mereka menonton pertunjukan drama di Teater Ford. Mary menggenggam erat lengan Lincoln . Di tengah pertunjukan, seorang pendukung konfederasi bernama John Wilkes Booth melompat ke arah mereka seraya menodongkan senjata ke kepala Lincoln .

“Presiden tertembak!” jerit histeris Mary.

Tubuh lunglai Lincoln segera ditandu menuju rumah penginapan di seberang teater untuk mendapatkan perawatan. Nyawanya tak tertolong. Pada pukul 07.22, 15 April 1865, Mary kehilangan seorang pria yang dia sebut “segala-galanya untukku –seorang kekasih, suami, dan ayah selama 18 tahun kami bersama.” Di mata sejumlah pengamat, sejak itu, Mary seakan meluncur hancur dalam masa yang disebut “episode gila”.

Kerapuhan Mary

Mary Todd Lincoln kecil adalah pribadi yang tak terduga. “[Mary] sangat sensitif dan mudah gelisah, emosinya bergejolak serupa hari di bulan April: cerah dengan canda tawa sesaat dan berganti tangis tak lama kemudian, seakan hatinya akan patah,” tulis Emilie, adik tiri Mary, tentang pandangan salah satu sepupu mereka mengenai kakaknya dalam buku harian yang kemudian dterbitkan Katherine Helm dengan judul The True Story of Mary, Wife of Lincoln pada 1928.

Mary tumbuh tanpa kasih sayang seorang ibu. Dia lebih dekat dengan neneknya, Eliza Parker. Mary kehilangan tiga putra dalam kurun waktu 11 tahun: Edward, Willie, dan Tad. Kehilangan beruntun ini, menurut Emerson, membuat Mary menjadi mudah rapuh.

Keluarga dan sahabat dekat memahami kecenderungan Mary yang mudah emosional dan depresi. James Gourley, tetangga pasangan Lincoln pada awal pernikahan mereka, menyebut, “dia mudah naik pitam dan tak bisa mengontrol diri sehingga punya banyak musuh.” Sekretaris Presiden, John Hay dan John Nicolay, menjuluki Mary “Hellcat” karena ucapannya yang menusuk ketika marah.

Terhadap sifat istrinya, Lincoln dikenal tenang dan sabar. Gourley mengingat bagaimana Lincoln hanya tertawa atau keluar rumah bersama salah satu anak mereka ketika Mary sedang emosi. Elizabeth Keckly, staf penjahit kepresidenan, memiliki kenangan serupa. Lincoln , menurut Keckly, memaklumi sifat Mary seperti ”orangtua memaklumi sifat anaknya yang impulsif.”

Keluarga dan sahabat juga mengingat kebiasaan Mary berbelanja. Ketika berdiam di Gedung Putih, Mary mendapat kecaman karena kerap menyelenggarakan pesta di tengah masa perang. Lincoln bahkan menolak keras usul Mary untuk menyesuaikan bujet renovasi Gedung Putih dari estimasi US$7.000 menjadi US$20.000. “Lubang hidung rakyat Amerika akan tersengat jika mereka tahu Presiden Amerika Serikat mengizinkan penyesuaian bujet senilai US$20.000 untuk rumah tua buruk ini sementara tentara-tentara kita bahkan tidak memiliki selimut!”

Mania dan Delusi

Tak lama setelah pemakaman Lincoln, Mary takut jatuh miskin. Meski mendapat santunan dan memiliki beberapa properti, dia melelang gaun-gaun dan perhiasan. Mary menulis surat membujuk pejabat-pejabat yang menurutnya mendapat keuntungan pada masa kepresidenan Lincoln agar membeli barang-barang lelang.

Mary pun menjadi target olok-olok. Berbagai media menyorot kejadian ini dengan sebutan “skandal baju bekas”. Editorial majalah Littel’s Living Age Desember 1875 menyebutnya sebagai “sebuah pertunjukan vulgar yang mencoreng seluruh bangsa.”

Tak hanya itu. Mary berkali-kali mengirim telegram kepada Robert Lincoln di Chicago, meyakini putra sulungnya sakit keras dan akan meninggal. Di perjalanan kereta menuju Chicago, dia mencurigai seorang penumpang berusaha meracuni kopinya. Khawatir, Robert memesan kamar di hotel yang sama dan menemaninya. Namun Mary tak kunjung tenang. Dia meyakini Chicago akan dilalap api besar-besaran seperti kebakaran massal pada 1871.

Sebagai anak produk masa Victoria, Robert menyikapi tingkahlaku ibunya dengan rasa tanggung jawab. Termasuk ketika memutuskan merawat ibunya di rumahsakit mental. Sahabat-sahabat keluarga Lincoln memberinya dukungan.

Sesuai hukum di Illinois, Chicago, pada masa itu orang yang dianggap gila, idiot, atau mengalami gangguan berhak memperoleh keputusan status kesehatan yang adil di pengadilan. Setelah mendengar keterangan delapanbelas saksi, para juri memutuskan Mary mengalami gangguan mental dan harus dirawat di rumahsakit. Robert ditetapkan sebagai wali atas aset Mary hingga Mary dinyatakan sembuh. Proses dan keputusan pengadilan memburukkan hubungan ibu dan anak.

Sempat mencoba bunuh diri tapi gagal, Mary dibawa ke Bellevue Place, sebuah rumahsakit kelas atas. Mary menempati sebuah kamar pribadi yang nyaman serta ditemani asisten pribadi. Tak ada jeruji besi di jendela. Mary bebas berjalan-jalan di sekitar sanitarium.

Mary tak lantas menyerah. Dengan berbagai upaya, dia memojokkan Robert melalui tulisan di media. Mary akhirnya bebas dari perawatan di Bellevue Place. Robert melepaskan hak perwalian atas aset ibunya. Mary dinyatakan waras secara hukum dan mampu bertanggungjawab atas dirinya sendiri. Mary lalu memutuskan pergi dan berdiam di Eropa selama beberapa saat.

Keabadian Cinta

Masa yang dikenal sebagai “episode gila” Mary Lincoln, menurut Emerson, adalah sebuah kekeliruan. Mengacu pada pemahaman medis masa kini, Emerson menjelaskan, definisi gila dipahami dengan terminologi psikosis, yaitu kondisi ketidakmampuan seseorang mengenali serta memahami realitas.

Kesaksian banyak orang saat sidang jelas mengungkapkan bahwa Mary mengalami psikosis yang termanifestasi lewat delusi –sebuah keyakinan yang dipercaya namun jauh dari realitas. Secara bergantian, dia kerap mengalami mania, di mana luapan perasaan senang yang tak terkontrol terwujud lewat nafsu berbelanja tanpa batas.

Dokter James S. Brust, direktur medis unit psikiatri Rumah Sakit San Pedro Peninsula yang ditunjuk Emerson sebagai editor medis, menganalisis semua faktor dalam riset Emerson. Hasilnya sesuai dengan kriteria gangguan mental yang kini dikenal sebagai gangguan bipolar –suatu kondisi gangguan mood abnormal yang berganti antara perasaan euforia, aktif, sosial, dan mood depresi. Seperti pendulum, perubahan mood terjadi dalam jangka waktu berkepanjangan yang diselingi masa jeda di mana penderita dapat menjalani hidup secara normal.

Mary Lincoln meninggal dunia pada 16 Juli 1882. Stroke dan komplikasi diabetes diyakini penyebab kematiannya. Ribuan orang menghadiri prosesi pemakamannya. Di jarinya tersemat cincin pernikahan dengan inskripsi “A.L untuk Mary, 4 Nov 1842. Cinta adalah Abadi”.

The Madness of Mary Lincoln merupakan biografi medis yang menyingkap pergulatan kelam seorang mantan ibu negara mengatasi gangguan mental. Tinjauan sejarah serta fakta medis yang kontekstual membuat Madness menjadi relevan untuk masa kini –terutama dalam menyikapi kesembronoan banyak pihak yang melabeli penderita gangguan mental sebagai orang gila.

 
Terpopuler di Historia 
Komentar anda
Majalah
Segera Terbit
 
Nomor 37 Tahun IV
Riwayat Syariat di Nusantara
Seiring berkembangnya komunitas muslim di Nusantara sebagai dampak arus perdagangan pada abad ke-13, jejak-jejak penerapan hukum Islam mulai bisa terlacak...
 
Jason Emerson dengan bukunya, "The Madness of Mary Lincoln" (Southern Illinois University Press, 2007).
Foto
Jason Emerson dengan bukunya, "The Madness of Mary Lincoln" (Southern Illinois University Press, 2007).
Foto