Pilih Bahasa: Indonesia
halaman 1

Rezim Kopi di Priangan

Kopi Priangan menjadi primadona penguasa untuk meraup laba. Para petani menderita tapi tak tinggal diam.
Judul: Keuntungan Kolonial dari Kerja Paksa: Sistem Priangan Dari Tanam Paksa Kopi di Jawa, 1720-1870 | Penulis: Jan Breman | Penerbit: Obor | Terbit: Maret 2014 | Tebal: xiv + 400 halaman |
Foto
Historia
pengunjung
7.7k

Para petinggi Kongsi Dagang Hindia Timur (VOC) di Jawa tak pernah menyangka bibit tanaman baru dari India Selatan yang mereka tanam di kebun masing-masing pada pengujung abad ke-17 bakal memberikan dampak luar biasa. Kopi menjadi sumber utama penghasilan Kerajaan Belanda.

Setelah tanaman itu berbuah, para petinggi VOC mengirim segenggam biji kopi untuk contoh ke Heeren Zeventien, para direktur VOC di Amsterdam, pada 1706. De Heeren Zeventien lalu menyarankan agar pembudidayaan kopi menjadi perhatian Gubernur-Jenderal J van Hoorn.

Van Hoorn merespon dengan membagikan tanaman itu kepada kepala-kepala pribumi di pesisir Batavia hingga Cirebon. Tak berhasil baik, penanaman bergeser ke daerah yang lebih tinggi di selatan. Hasilnya memuaskan. Pada 1711, bupati Cianjur menjadi penyetor pertama kopi Jawa ke VOC. Tingginya harga kopi membuat pembudidayaan kopi meluas. Para bupati dan bangsawan ramai-ramai menanam. VOC menjadikan Priangan sebagai pusat penghasil kopi.

Mulanya VOC membeli hasil panen petani. Namun, melihat kopi sangat menguntungkan, lambat-laun mereka memaksakan jual-beli kopi dengan harga di bawah pasar. Untuk menancapkan monopoli, VOC melarang penjualan kopi ke pedagang swasta, dan pelanggarnya bisa dikenai hukuman. Mereka juga menerapkan aturan setoran wajib kepada para kepala wilayah, yang mendapat kewenangan mengontrol dan memobilisasi rakyat menanam kopi.

Hidup petani kian terpuruk ketika gubernur jenderal mengeluarkan kebijakan penurunan harga kopi secara drastis. Para petani melawan. Mereka merusak tanaman dan kabur dari perkebunan. Banyak kebun kopi terlantar. Dampaknya, terutama di Cianjur dan Kampung Baru, pusat produksi terpenting kala itu, terjadi kemunduran, “sehingga untuk mengembalikan ke keadaan sebelumnya diperlukan waktu lebih dari enam puluh tahun,” tulis Jan Breman, guru besar emiritus Sosiologi Amsterdam Institute, Belanda.

Perluasan penanaman kopi dilakukan. Bahkan VOC memaksa petani di Priangan menanam kopi dan menyerahkannya kepada VOC. Namun perlawanan petani tak pernah surut.

 
Terpopuler di Historia 
Komentar anda
Majalah
Segera Terbit
 
Nomor 36 Tahun III
Masa Lalu Partai NU
Salah satu organisasi muslim terbesar di negeri ini yang menjadi rebutan untuk mendulang suara pemilih muslim adalah Nahdlatul Ulama (NU)...
 
Judul: Keuntungan Kolonial dari Kerja Paksa: Sistem Priangan Dari Tanam Paksa Kopi di Jawa, 1720-1870 | Penulis: Jan Breman | Penerbit: Obor | Terbit: Maret 2014 | Tebal: xiv + 400 halaman |
Foto
Judul: Keuntungan Kolonial dari Kerja Paksa: Sistem Priangan Dari Tanam Paksa Kopi di Jawa, 1720-1870 | Penulis: Jan Breman | Penerbit: Obor | Terbit: Maret 2014 | Tebal: xiv + 400 halaman |
Foto