Pilih Bahasa: Indonesia
halaman 1

Pulau Run di Suatu Kurun

Kisah tentang arti penting sebuah pulau penghasil pala yang ikut mengukir jalannya sejarah dunia.
 
Pulau Run: Magnet Rempah-rempah Nusantara yang Ditukar dengan Manhattan | Penulis: Giles Milton | Penerbit: Alvabet | Terbitan: Pertama, Juni 2015 | Tebal: 512 hlm |
Foto
Historia
pengunjung
6.3k

TEPIAN Sungai Thames, London, kebanjiran orang pada suatu hari di bulan Februari 1601. Berpasang mata, dari saudagar hingga orang biasa, menatap lima kapal anggun berbendera Saint George Cross yang melintas di depan mereka. Pita dan bendera menghiasi kapal-kapal itu. Meriah!

Armada dari Kongsi Dagang Inggris (EIC) di bawah pimpinan Kapten James Lancaster itu memulai pelayaran berbahaya, mengarungi samudera sekaligus membawa misi “suci” yang beragun kehormatan kerajaan. Mereka bukan hanya akan menghadapi jarak yang jauh, ganasnya alam, atau ancaman kapal-kapal Portugis ataupun Spanyol, tapi juga Hindia Timur yang jadi tujuan mereka masih sebatas imajinasi di benak sebagian besar awak kapal.

Dengan dukungan dari Ratu Elizabeth I, pelayaran Lancaster menandai keterlibatan Inggris secara resmi dalam pelayaran ke Hindia Timur untuk memperebutkan rempah-rempah, komoditas utama perniagaan dunia kala itu. Selain mengawetkan bahan makanan, orang-orang Eropa menggunakan rempah-rempah untuk obat berbagai penyakit. Ketika wabah mematikan merenggut banyak nyawa penduduk London pada abad ke-16, misalnya, mereka meyakini pala sebagai jawabannya.

Inggris mulanya mendapatkan rempah-rempah dari Venesia (Italia) atau Lisabon (Portugis) dengan harga amat mahal. Namun, sejak 1580, ketika Raja Philip II merebut tahta kekuasaan di Portugal, pasar-pasar Lisabon menutup pintu pengiriman rempah-rempah ke Inggris.

“Kini ada satu kebutuhan mendesak untuk mengirim misi perdagangan yang berhasil ke Hindia Timur,” tulis Giles Milton, penulis buku ini.

Setelah berlayar berbulan-bulan, armada Lancaster tiba di Aceh, Banten, dan akhirnya mencapai Kepulauan Banda, “gudang” rempah-rempah yang mereka cari. Selain sambutan hangat dari penguasa dan penduduk lokal, EIC mendapatkan rempah-rempah dengan harga murah. Mereka juga mendapatkan izin untuk membangung gudang di Pulau Run.

“Pada masa itu, Run adalah pulau yang paling dibicarakan di dunia, sebuah tempat dengan kekayaan yang begitu menakjubkan sehingga sebagai perbandingan, harta sepuhan Eldorado terlihat murahan,” tulis Milton.

Kedatangan armada Lancaster di London pada September 1603 menandai kesuksesan pelayaran pertama EIC. Pelayaran berikutnya pun dipersiapkan. Namun kali ini tantangan lebih besar menghadang: Kongsi Dagang Belanda (VOC) telah tiba di Hindia Timur dan menggunakan berbagai cara demi memenuhi ambisi memonopoli rempah-rempah.

 
Terpopuler di Historia 
Majalah
Segera Terbit
 
Nomor 37 Tahun IV
Riwayat Syariat di Nusantara
Seiring berkembangnya komunitas muslim di Nusantara sebagai dampak arus perdagangan pada abad ke-13, jejak-jejak penerapan hukum Islam mulai bisa terlacak...
 
Komentar anda
Pulau Run: Magnet Rempah-rempah Nusantara yang Ditukar dengan Manhattan | Penulis: Giles Milton | Penerbit: Alvabet | Terbitan: Pertama, Juni 2015 | Tebal: 512 hlm |
Foto
Pulau Run: Magnet Rempah-rempah Nusantara yang Ditukar dengan Manhattan | Penulis: Giles Milton | Penerbit: Alvabet | Terbitan: Pertama, Juni 2015 | Tebal: 512 hlm |
Foto