Pilih Bahasa: Indonesia
halaman 1

Perebutan Lahan di Kota Pahlawan

Perbedaan pandangan dan ketiadaan aturan menyebabkan kaum papa-kaum kaya dan kaum papa-negara berebut lahan dan ruang kota.
Judul: Merebut Ruang Kota: Aksi Rakyat Miskin Kota Surabaya 1900-1960-an | Penulis: Purnawan Basundoro | Penerbit: Marjin Kiri | Terbit: Mei 2013 | Tebal: xiv + 338 halaman |
Foto
Historia
pengunjung
2.5k

TAK terima oleh ulah pemilik tanah partikelir, Prawirodihardjo dan Sadikin alias Pak Siti mengajak penduduk setempat untuk melawan. Caranya: tak membayar sewa tanah, mengabaikan kerja wajib, melakukan pendudukan lahan, dan tak menyetorkan sebagian hasl panen mereka. Mereka beralasan gerakan protes ini bertujuan mengembalikan hak-hak mereka yang direnggut si kaya dengan dukungan pemerintah. Mereka juga mengklaim telah menempati lahan itu turun-temurun.

Gayung bersambut. Penduduk kampung menduduki lahan, menebangi pohon, dan kemudian mendirikan gubuk-gubuk liar. Mereka juga mengancam para tukang dan mandor yang bekerja dalam proyeka pembangunan perumahan. Bak api di tumpukan jerami, gerakan protes itu meluas ke berbagai tempat di Surabaya, terutama yang berbatasan dengan kedua kampung tersebut.

“Awalnya gerakan protes tersebut hanya terjadi secara sporadis tetapi mendekati tahun 1916 gerakan tersebut sudah menjadi perlawanan umum kepada tuan tanah,” tulis Purnawan Basundoro, dosen Departemen Ilmu Sejarah Universitas Airlangga, penulis buku ini.

Prawirodihardjo, warga kampung Ondomohen, tanah Ketabang, bekerja pada pemerintah kolonial atau biro pembangunan milik orang Eropa yang mengawasi pembangunan di kota Surabaya. Sementara Pak Siti mandor kereta api yang bertempat tinggal di kampung Kedondong, tanah Keputran Lor, Surabaya. Keduanya anggota Sarekat Islam (SI).

Larangan dan tindakan polisi tak menghentikan perlawanan. Pendudukan lahan terus terjadi. Para pemilik tanah, melalui pengacara BH Drijber, akhirnya mengajukan permohonan kepada Gubernur Jenderal AWF Idenburg agar menahan dan memindahkan Prawirodihardjo dan Pak Siti dari kota Surabaya ke tempat lain.

Di pengadilan, dalam sengketa yang dimotori Prawidihardjo dan Pak Siti, rakyat miskin menang di pengadilan. “Namun demikian gerakan pendudukan tanah-tanah partikelir di kota ini terus berjalan, bahkan kemudian merembet ke tanah-tanah kosong yang statusnya adalah tanah negara,” tulis Purnawan. Bahkan, pada 1930-an, gerakan pendudukan tanah bukan lagi semata-mata untuk menentang para tuan tanah, “tetapi sudah dilandasi oleh kebutuhan perumahan yang semakin mendesak.”

 
Terpopuler di Historia 
Komentar anda
Majalah
Laporan Khusus
Majalah Historia Cetak
berikutnya
 
Nomor 36 Tahun III
Masa Lalu Partai NU
Salah satu organisasi muslim terbesar di negeri ini yang menjadi rebutan untuk mendulang suara pemilih muslim adalah Nahdlatul Ulama (NU)...
 
Judul: Merebut Ruang Kota: Aksi Rakyat Miskin Kota Surabaya 1900-1960-an | Penulis: Purnawan Basundoro | Penerbit: Marjin Kiri | Terbit: Mei 2013 | Tebal: xiv + 338 halaman |
Foto
Judul: Merebut Ruang Kota: Aksi Rakyat Miskin Kota Surabaya 1900-1960-an | Penulis: Purnawan Basundoro | Penerbit: Marjin Kiri | Terbit: Mei 2013 | Tebal: xiv + 338 halaman |
Foto