Pilih Bahasa: Indonesia
halaman 2

Percik Modernitas di Asia Tenggara

Modernitas yang menjangkiti budaya di Asia Tenggara awalnya dianggap sebagai ancaman.
 
Judul: Sonic Modernities in the Malay World: A History of Popular Music, Social Distinction and Novel Lifestyles (1930-2000s) | Penulis: Bart Barendregt (editor) | Penerbit: KITLV | Terbit: 2014 |
Foto
Historia
pengunjung
4.4k

Pertemuan Dua Budaya

Kendati coba mengkaji budaya populer, buku ini lebih menyoroti aspek modernitas dalam musik. Ia menganalisis hubungan antara produksi musik populer, transformasi ide-ide modern, dan proses diferensiasi sosial di Asia Tenggara pada abad ke-20.

“Tujuan kami adalah memetakan infrastruktur industri musik di kawasan itu, membantu mengidentifikasi artis dan genre populer, dan membangun kehidupan seniman-seniman dan agen kebudayaan kunci, serta mengaitkan penonton dan gaya hidup; dan ya, bahkan pergeseran kategori sosial,” tulis Bart Barendregt, associate professor di Institute of Social and Cultural Studies, Leiden University, editor buku ini dalam pengantarnya.

Modernitas tak bisa dilepaskan dari aspek politik, ekonomi, dan terutama teknologi. Kehadirannya, pada gilirannya, berbenturan dengan tatanan atau fenomena kultural yang sudah ada, sehingga hampir selalu memicu perdebatan dan pergulatan tentang apa yang dianggap otentik dan tradisional.

Di Serawak, sebagaimana diulas Tan Sooi Beng, “world music” –istilah pemasaran yang muncul pada 1980-an– mendorong musisi lokal untuk mempertahankan tradisi musik lokal. Caranya, antara lain dengan memasukkan irama Latin dan Afrika ke dalam karya musik lokal yang kental pengaruh Melayu, India, dan China.

Hal yang sama terjadi di bidang seni tari. Di Semenanjung Malaya, Ronggeng dari Jawa mendapat pandangan miring karena dianggap berbahaya bagi tatanan sosial. Menurut Jan van der Putten, yang menyumbangkan tulisan soal tema ini, alasan moral bukan satu-satunya penyebab. Motif ekonomi dan perasaan nasionalisme juga memainkan peranan. Banyak penduduk setempat terdesak oleh pendatang asal Jawa sejak 1920-an.

Namun, alih-alih melarang, Malaysia memilih memodifikasi ronggeng yang giat dilakukan sejak akhir 1960-an. Musik pengiring tarian diganti dengan “Irama Malaysia” yang dilantunkan penyanyi macam Siti Nurhaliza. Dengan upaya tersebut, Malaysia berhasil mengubah citra ronggeng menjadi positif. Ronggeng Melayu kini justru menjadi suguhan dalam acara-acara resmi, sajian wisata, atau “duta” dalam bermacam festival budaya internasional.

 
Terpopuler di Historia 
Komentar anda
Majalah
Segera Terbit
 
Nomor 37 Tahun IV
Riwayat Syariat di Nusantara
Seiring berkembangnya komunitas muslim di Nusantara sebagai dampak arus perdagangan pada abad ke-13, jejak-jejak penerapan hukum Islam mulai bisa terlacak...
 
Judul: Sonic Modernities in the Malay World: A History of Popular Music, Social Distinction and Novel Lifestyles (1930-2000s) | Penulis: Bart Barendregt (editor) | Penerbit: KITLV | Terbit: 2014 |
Foto
Judul: Sonic Modernities in the Malay World: A History of Popular Music, Social Distinction and Novel Lifestyles (1930-2000s) | Penulis: Bart Barendregt (editor) | Penerbit: KITLV | Terbit: 2014 |
Foto