Pilih Bahasa: Indonesia
halaman 1

Percik Modernitas di Asia Tenggara

Modernitas yang menjangkiti budaya di Asia Tenggara awalnya dianggap sebagai ancaman.
Judul: Sonic Modernities in the Malay World: A History of Popular Music, Social Distinction and Novel Lifestyles (1930-2000s) | Penulis: Bart Barendregt (editor) | Penerbit: KITLV | Terbit: 2014 |
Foto
Historia
pengunjung
3.6k

Adil Johan, musikolog kandidat doktor di King’s College London, tak heran melihat kesederhanaan pameran musik yang dihelat Singapore’s Esplanade Library pada 22 Oktober 2013. Pasalnya, pameran itu menampilkan informasi historis band-band rock n roll Melayu dari apa yang dikenal sebagai era pop yeh yeh. Genre musik ini dibenci pemerintah Singapura maupun Malaysia. Panitia tentu mesti berhati-hati.

Rock n roll masuk dan berkembang di Semenanjung Malaya pada 1960-an. Demam The Beatles melanda. Kaum muda bukan hanya gemar menyanyikan lagu tapi juga meniru musik maupun gaya mereka. Mereka menyebut genre musik tersebut sebagai pop yeh yeh, mengacu pada lirik lagu The Beatles “She Loves You”. Pada saat bersamaaan, produk budaya pop lain ikut masuk. Kacamata. Rambut gondrong. Pakaian ketat dan rok mini. Bagi generasi muda, pop yeh yeh menjadi simbol kebebasan sekaligus perlawanan terhadap tatanan kaum konservatif yang mengekang.

Pemerintah dan kaum tua di Singapura dan Malaysia menganggap fenomena itu sebagai kemunduran moral. Ia bukan hanya ancaman bagi generasi muda tapi juga bagi budaya nasional yang Melayu-sentris dan Islam-sentris –digagas artis senior macam P. Ramlee, Zubir Said, dan Omar Rojik.

“Negara-bangsa Singapura dan Malaysia belum lama merdeka dan seakan putus asa mencari penegasan identitas budaya nasional khas yang ditumbuh-kembangkan dalam modernitas halus namun berakar pada tradisi asli,” tulis Adil Johan dalam artikelnya yang termuat di buku ini.

Tak pelak pemerintah kedua negara tersebut berupaya menghambat pertumbuhan rock n roll dan budaya pop. Melalui Malaysian Culture Policy (NCP) pada 1971, misalnya, pertunjukan musik dilarang. Maka, label-label rekaman dan industri hiburan pun bergerak secara sembunyi-sembunyi, dengan ancaman dianggap subversif.

Kegalauan serupa juga terjadi di Indonesia. Musik “ngak-ngik-ngok” –demikian Presiden Sukarno menamakan rock n roll– dianggap tak sesuai dengan kepribadian dan budaya nasional. Orang yang mempertunjukkan atau menyebarkannya bisa berabe, mendapat “stempel” kontrarevolusi dan ujung-ujungnya masuk bui seperti dialami Koes Bersaudara.

Toh arus modernitas tak bisa dibendung dan malah memperkaya perkembangan musik. Ini ditandai dengan antara lain penggunaan bass, drum, dan gitar listrik.

 
Terpopuler di Historia 
Komentar anda
Majalah
Laporan Khusus
Majalah Historia Cetak
berikutnya
 
Nomor 36 Tahun III
Masa Lalu Partai NU
Salah satu organisasi muslim terbesar di negeri ini yang menjadi rebutan untuk mendulang suara pemilih muslim adalah Nahdlatul Ulama (NU)...
 
Judul: Sonic Modernities in the Malay World: A History of Popular Music, Social Distinction and Novel Lifestyles (1930-2000s) | Penulis: Bart Barendregt (editor) | Penerbit: KITLV | Terbit: 2014 |
Foto
Judul: Sonic Modernities in the Malay World: A History of Popular Music, Social Distinction and Novel Lifestyles (1930-2000s) | Penulis: Bart Barendregt (editor) | Penerbit: KITLV | Terbit: 2014 |
Foto