Pilih Bahasa: Indonesia
halaman 1

Mengejar Cenderawasih Kuning Besar

Blair bersaudara menjelajahi Indonesia untuk memfilmkan Cenderawasih Kuning Besar yang dikisahkan Wallace. Mereka jatuh hati pada negeri cincin api ini.
Judul: Ring of Fire Indonesia dalam Lingkaran Api | Penulis: Lawrence Blair dan Lorne Blair | Penerbit: Ufuk Press | Terbit: Oktober 2012 | Tebal: xx + 399 halaman.
Foto
Historia
pengunjung
2.1k

Pada 1972, Lawrence Blair sedang berjuang menuntaskan tesis doktornya di Universitas Lancaster Inggris. Adiknya, Lorne Blair, menelepon dari London. Dia mengabarkan bahwa Ringo Starr, mantan personel The Beatles, siap menyediakan £2.000 dan biaya pascaproduksi untuk film petualangan pertama mereka. “Kita dapat!” teriak Lorne. “Ringo menerima proposal kita untuk mengulangi pencarian Cenderawasih Kuning Besar oleh Wallace bersama para perompak Bugis.”

Bagi Lawrence, ini akan jadi petualangannya yang pertama, tak seperti adiknya yang pernah bekerja sebagai asisten seorang etnografer dan asisten produksi di BBC. Selama sepuluh tahun mereka memfilmkan sembilan ekspedisi terpisah di Indonesia. Sempat mangkrak selama 15 tahun, Public Broadcasting Sevices (PBS) di Amerika Serikat yang bekerjasama dengan BBC akhirnya membeli hasilnya dengan syarat dipadatkan menjadi empat episode, masing-masing berdurasi satu jam.

Buku ini dimaksudkan sebagai pasangan film seri tersebut dan menggambarkan nyaris semua yang tak terlihat di kamera. “Serial dan buku ini saling mempengaruhi, membungkus dan memperkuat,” tulis Lawrence.

Mencari Pinisi

Lawrence menyerahkan disertasinya. Lorne menyiapkan peralatan seadanya. Dengan lebih banyak kenekatan ketimbang akal sehat, mereka berangkat dan berada di Pulau Celebes (Sulawesi). Namun tak mudah mendapatkan pinisi yang akan membawa mereka mencari Cenderawasih Kuning Besar. Selama itu mereka menyempatkan diri menyaksikan pemakaman Puang Sangalla, bangsawan Toraja, dan bertemu dengan para Bissu, pendeta waria Bugis yang sedang melakukan ritus trance (kerasukan) yang mengiringi penanaman padi.

Setelah beberapa minggu, mereka akhirnya mendapatkan perahu ketika pergi ke dusun terpencil Bira dan tetangganya Kasuso –kini masuk desa Bira Darubiah, kecamatan Bonto Bahari, kabupaten Bulukumba. “Ternyata inilah hunian bajak laut terpencil yang kami cari-cari, dan sumber tersembunyi dari sebagian besar pinisi layar Indonesia dan para awak kapalnya,” tulis Lawrence.

Sang Karaeng menyambut mereka dengan baik dan menyewakan pinisinya, Sinar Surya, beserta awaknya. Mulailah perjalanan mencari Cenderawasih Kuning Besar.

Dalam pelayaran mereka singgah di Buton. Tanpa diduga, Sultan menjamu makan malam, mengajak berkeliling, menunjukkan perhiasan kebesaran kerajaan, serta menghibur mereka dengan pertunjukan musik dan tarian. “Bulu Cenderawasih Kuning Besar melambangkan keberanian,” Sultan memberitahu mereka. “Yang berhasil kembali hidup-hidup dari Aru dan Nugini membawa bulu-bulu ini sebagai bukti ketangguhan mereka.”

Dari Bau-Bau, Buton, mereka berlabuh di Ambon untuk memperbaiki layar utama kapal. Setelah itu melaju ke Kepulauan Banda, di mana mereka sempat merekam ikan laweri, dan akhirnya tiba di Kepulauan Aru sembilan bulan setelah tiba di Indonesia dan tepat saat visa mereka habis.

 
Terpopuler di Historia 
Komentar anda
Majalah
Laporan Khusus
Majalah Historia Cetak
berikutnya
 
Nomor 35 Tahun 3
Kuliner Nusantara Rasa dan Cerita
Kali ini kami menyajikan kisah tentang makanan, tentang citarasa nusantara yang merentang sejak zaman dahulu kala. Tak hanya tentang masakan..
 
Judul: Ring of Fire Indonesia dalam Lingkaran Api | Penulis: Lawrence Blair dan Lorne Blair | Penerbit: Ufuk Press | Terbit: Oktober 2012 | Tebal: xx + 399 halaman.
Foto
Judul: Ring of Fire Indonesia dalam Lingkaran Api | Penulis: Lawrence Blair dan Lorne Blair | Penerbit: Ufuk Press | Terbit: Oktober 2012 | Tebal: xx + 399 halaman.
Foto