Pilih Bahasa: Indonesia
BUKU

Menelusuri Perjalanan Mutiara

Sebuah upaya dokumentasi menelusuri jejak mutiara sebagai salah satu perhiasan klasik berbagai zaman.
Historia
Historia
pengunjung
4k

JURNALIS Stephen G Bloom, yang menulis untuk beberapa harian di Amerika termasuk Los Angeles Times sekaligus dosen jurnalisme di University of Iowa, punya gairah dan keingintahuan terhadap mutiara yang telah memikat hati banyak orang selama bertahun-tahun. Dia terbawa kenangan masa kecilnya: seuntai kalung mutiara sederhana (dan satu-satunya) yang dikenakan ibunya setiap kali merayakan ulang tahun pernikahan. Bloom kemudian membawa keingintahuannya dalam sebuah perjalanan ke berbagai negara sejauh 30.000 mil selama empat tahun. Dia ingin melacak dari mana mutiara berasal, bagaimana diproduksi dan dipasarkan, serta siapa saja yang berada di belakang industri mutiara.

Bloom mengunjungi Cubagua di Venezuela (di mana Columbus diyakini kali pertama melihat mutiara yang menjadi milik kaum Indian), Toba di Jepang (daerah asal Kokichi Mikimoto, yang mengembangkan kultur/budidaya mutiara), Hongkong (dealer mutiara), Hainan di China (kini menjadi raksasa teknologi budidaya yang menghasilkan banyak mutiara dengan upah produksi rendah), Kepulauan Polynesia (penghasil mutiara hitam), serta Palawan di Filipina (efek polusi, pencemaran lingkungan, dan penangkapan ikan ilegal yang merusak peternakan mutiara). Dia mendatangi berbagai pameran dan lelang mutiara. Bloom merangkum pernak-pernik perjalanan itu, termasuk karakter-karakter menarik dalam sejarah perhiasan mutiara dan nilai besar industri mutiara, dari masa lampau hingga kini.

Salah satu mutiara natural termahal dalam buku karya Bloom adalah kalung mutiara Baroda, yang dikenakan para maharaja di Baroda, India. Meski tak pernah ada yang tahu dari mana asal kalung Baroda dengan tujuh untaian itu (memuat 300-350 mutiara natural) serta bagaimana ia berpindah tangan, Tears of Mermaids menyebut pemilik pertama kalung itu adalah Khanderao Gaekwar, Maharaja Baroda pertama. Maharaja yang gemar memamerkan penampilannya dengan taburan perhiasan mewah ini terlihat mengenakannya pada 1909 oleh Edward St Clair Weeden dalam A Year with the Gaekwar of Baroda. Weeden menulis bahwa kalung tersebut bernilai “sekitar 50 lakh rupee atau 500.000 poundsterling. Untaian mutiara berharga tinggi ini kemudian juga didokumentasikan fotografer Henri Cartier-Bresson pada 1946 ketika Sita Devi, istri kedua Maharaja Pratapsingh Gaekwar, mengaitkan kalung tersebut di leher suaminya.

Pada 2007, balai lelang Christie mengumumkan lelang kalung mutiara Baroda dalam dua untaian (untaian lainnya hingga kini tak diketahui keberadaannya). Hasilnya: kalung itu terjual US$7,1 juta atau sekira Rp63 milyar, rekor tertinggi untuk sebuah kalung mutiara.

Sebuah perjalanan menarik dengan deskripsi karakter-karakter unik yang dia temui dalam setiap perjalanan, Tears of Mermaids merupakan bacaan cukup informatif. Selain mewawancarai pelaku bisnis mutiara, dia berdiskusi dengan broker, kolektor, pengamat lingkungan, ilmuwan, dan lainnya. Meski tak membahas secara mendalam kehidupan nelayan penyelam mutiara, dia membandingkan kehidupan para budak Indian penyelam mutiara di bawah Kerajaan Spanyol dengan kenyataan nelayan penyelam masa kini yang tak jua mendapat keuntungan dari sebuah industri bernilai tinggi.

Namun, untuk para penggemar berat mutiara, penjelasan Bloom belumlah menyeluruh. Misalnya, peran Tokishi Nishikawa dan Tatsuhei Mise sebagai penemu teknik budidaya mutiara di Jepang yang kemudian dikembangkan Mikimoto, tak disebut Bloom. Deskripsi teknologi budidaya mutiara dalam uraian Bloom juga dianggap tak sepenuhnya konsisten oleh para ahli mutiara. Dalam hal riset dan pemilihan narasumber industri mutiara serta sepakterjang pemain utama perdagangan mutiara, ulasan Bloom tak selalu berimbang. Bloom bisa terjebak bias karena pembahasan dalam beberapa bab condong pada perusahaan mutiara Paspaleys di Australia. Dia juga tak mengikutsertakan Indonesia, penghasil mutiara alam dan budidaya tiram Pinctada maxima, dalam daftar perjalanannya di Asia Tenggara.

Hal lain yang mengganggu, dengan memakai orang pertama sepanjang narasinya, Bloom cenderung menonjolkan perspektif pribadi dan hal-hal personal sehingga menyampingkan fokus pembahasan utama seputar mutiara. Tears of Mermaids juga bisa menjadi lebih menarik jika diserta foto-foto mutiara yang dilihat Bloom sepanjang perjalanannya.

 
Terpopuler di Historia 
Majalah
Laporan Khusus
Majalah Historia Cetak
berikutnya
 
Nomor 34 Tahun 3
Murba Partai Terakhir Tan Malaka
Pembahasan mengenai Tan Malaka sudah sering dimuat di berbagai media massa. Tak berbilang banyaknya orang membahas bapak republik itu di..
 
Komentar anda
Historia
Historia